MICE  

Upaya Menularkan Gaya Hidup Berkelanjutan di Dunia Usaha

Upaya Menularkan Gaya Hidup Berkelanjutan di Dunia Usaha

PENERAPAN gaya hidup berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri, menjadi kebiasaan dan akhirnya membentuk budaya. kebiasaan dan budaya inilah yang akhirnya bisa ditularkan pada orang di sekitar.

Kesimpulan itu muncul dalam talkshow Gaya Hidup Berkelanjutan yang digelar Garudafood Putra Putri Jaya, seusai peresmian pengoperasian pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di area pabrik perusahaan itu di Sumedang, Kamis (18/1).

Talkshow menghadirkan Direktur Garudafood Basuki Nur Rohman, Rektor Unpar Bandung Prof Tri Basuki Joewono dan selibritas yang juga pegiat lingkungan Prilly Latuconsina.

Menurut Basuki Nur Rohman, gaya hidup berkelanjutan bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Banyak tantangan untuk mengubah budaya yang sebelumnya tidak peduli, menjadi peduli.

“Budaya ini tidak bisa berubah sekejap, perlu proses. Ini juga menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Garudafood untuk menerapkannya di lingkungan perusahaan,” ujarnya.

Garudafood, lanjutnya, berkomitmen membentuk budaya unggul dalam soal penanganan sampah dan energi. Kebijakan itu harus diambil guna mendukung program korporasi untuk bisa berkompetisi di pasar.

Untuk memulai menciptakan budaya gaya hidup berkelanjutan perusahaan mengawalinya dengan menggulirkan kebijakan. Kebijakan itu harus diikuti seluruh pimpinan dan karyawan. Apa yang harus mereka lakukan dan implementasikan.

“Perusahaan juga menerapkan gaya hidup itu dengan melakukan investasi teknologi ramah lingkungan. Kami memilih menggunakan mesin produksi yang tidak banyak menghasilkan limbah,” jelasnya.

Untuk karyawan, Garudafood juga menggelar pelatihan. Sementara para pimpinan diharuskan memberi contoh terkait budaya hemat energi dan pengelolaan sampah.

Di sisi lain, Prilly Latuconsina meyakini gaya hidup berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri, sebelum ditularkan di lingkungan terdekat dan lingkungan kerja.

“Saya memulainya dengan membersihkan lingkungan laut, ketika melakukan diving yang jadi hobi saya. Dari sana kesadaran saya tumbuh untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Menurut dia, tidak sulit memulai gaya hidup berkelanjutan. “Dimulai saja dengan membawa alat makan dan minum sendiri, sehingga tidak menghasilkan sampah pembungkus nasi dan wadah minuman.”

Sementara itu, Prof Tri Basuki menyatakan dunia kampus, khususnya Universitas Katolik Parahyangan selalu berupaya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan akademik.

“Unpar terus mengajak segenap sivitas akademika dan masyarakat terus berinovasi dalam menciptakan bumi yang lebih sehat, lebih nyaman dan lebih aman bagi kita dan generasi yang akan datang,” tandasnya. (SG)

PENERAPAN gaya hidup berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri, menjadi kebiasaan dan akhirnya membentuk budaya. kebiasaan dan budaya inilah yang akhirnya bisa ditularkan pada orang di sekitar.

Kesimpulan itu muncul dalam talkshow Gaya Hidup Berkelanjutan yang digelar Garudafood Putra Putri Jaya, seusai peresmian pengoperasian  pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di area pabrik perusahaan itu di Sumedang, Kamis (18/1).

Talkshow menghadirkan Direktur Garudafood Basuki Nur Rohman, Rektor Unpar Bandung Prof Tri Basuki Joewono dan selibritas yang juga pegiat lingkungan Prilly Latuconsina.

Menurut Basuki Nur Rohman, gaya hidup berkelanjutan bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Banyak tantangan untuk mengubah budaya yang sebelumnya tidak peduli, menjadi peduli.

“Budaya ini tidak bisa berubah sekejap, perlu proses. Ini juga menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Garudafood untuk menerapkannya di lingkungan perusahaan,” ujarnya.

Garudafood, lanjutnya, berkomitmen membentuk budaya unggul dalam soal penanganan sampah dan energi. Kebijakan itu harus diambil guna mendukung program korporasi untuk bisa berkompetisi di pasar.

Untuk memulai menciptakan budaya gaya hidup berkelanjutan perusahaan mengawalinya dengan menggulirkan kebijakan. Kebijakan itu harus diikuti seluruh pimpinan dan karyawan. Apa yang harus mereka lakukan dan implementasikan.

“Perusahaan juga menerapkan gaya hidup itu dengan melakukan investasi teknologi ramah lingkungan. Kami memilih menggunakan mesin produksi yang tidak banyak menghasilkan limbah,” jelasnya.

Untuk karyawan, Garudafood juga menggelar pelatihan. Sementara para pimpinan diharuskan memberi contoh terkait budaya hemat energi dan pengelolaan sampah.

Di sisi lain, Prilly Latuconsina meyakini gaya hidup berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri, sebelum ditularkan di lingkungan terdekat dan lingkungan kerja.

“Saya memulainya dengan membersihkan lingkungan laut, ketika melakukan diving yang jadi hobi saya. Dari sana kesadaran saya tumbuh untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Menurut dia, tidak sulit memulai gaya hidup berkelanjutan. “Dimulai saja dengan membawa alat makan dan minum sendiri, sehingga tidak menghasilkan sampah pembungkus nasi dan wadah minuman.”

Sementara itu, Prof Tri Basuki menyatakan dunia kampus, khususnya Universitas Katolik Parahyangan selalu berupaya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan akademik.

“Unpar terus mengajak segenap sivitas akademika dan masyarakat terus berinovasi dalam menciptakan bumi yang lebih sehat, lebih nyaman dan lebih aman bagi kita dan generasi yang akan datang,” tandasnya. (SG)

 

Sumber: mediaindonesia.com