MICE  

Transfer

TRANSFER merupakan kemampuan untuk memperluas dan menerapkan pengetahuan/keterampilan yang telah dipelajari dalam satu konteks ke konteks/situasi lain yang berbeda. Puncak keberhasilan dari suatu kegiatan pembelajaran ialah jika siswa dapat memaknai pengetahuan/keterampilan yang telah dipelajari dan menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan baru yang mereka hadapi pada konteks/situasi yang berbeda.

Kenapa kemampuan transfer dipandang penting? Sebagaimana diketahui, bahwa guru hari ini bekerja untuk menyiapkan generasi dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, saling berhubungan, selalu berubah, dan sulit diprediksi. Perjalanan karier pendidikan dan profesional seseorang tidak selalu berjalan secara linier. Sebaliknya, dalam banyak hal bahkan perjalanan itu sering penuh kelok dan tantangan. Karenanya, untuk sukses dalam kehidupan sekarang, dibutuhkan kemampuan yang lebih dari sekadar mengingat informasi.

Pendidikan modern sekarang harus menyiapkan siswa untuk dapat secara mandiri memaknai dan menerapkan pengetahuan/keterampilan yang sudah diperoleh/dipelajari di sekolah pada berbagai peluang dan tantangan yang mereka kelak akan hadapi selepas sekolah menengah. Transfer, menurut Perkins, ND; Salomon G (1992) mencakup transfer dekat, yaitu apabila konteksnya terkait erat dan transfer jauh apabila terjadi pada konteks yang agak berbeda.

Meskipun kemampuan/keterampilan transfer dipandang penting bagi dunia pendidikan saat ini dan ke depan, kemampuan ini masih belum mendapatkan perhatian yang semestinya dari pengelola pendidikan, termasuk guru. Transfer masih sangat jarang didiskusikan dan diungkap guru pada saat mendesain pembelajaran. Bahkan, sering luput dari perencanaan dan tujuan pembelajaran/kurikulum.

Desain pembelajaran guru umumnya lebih berfokus pada konten, teknik penyampaian, kegiatan, media, dan teknologi pembelajaran. Dengan pendekatan pembelajaran konvensional, kelas memang tampak ramai, aktif, dan menyenangkan. Namun, cenderung mengesampingkan target dan tujuan yang diinginkan, termasuk mengembangkan kemampuan transfer dan bukti-bukti penilaian yang mendukung ketercapaian itu.

Keterampilan/kemampuan transfer jauh dalam pembelajaran memang terkadang terjadi. Namun, karena belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam desain kurikulum pembelajaran, hasilnya bersifat sporadis dan sulit dinilai efektivitasnya.

MI/Duta

 

Mengembangkan kemampuan transfer

Temuan dari berbagai sumber, sebagaimana dikemukakan Perkins, ND, Salomon G (1992), bahwa transfer dapat dibangun melalui dua mekanisme berbeda; reflexive transfer, kemampuan transfer yang dibentuk melalui praktik rutin dengan kondisi stimulus yang mirip dengan konteks pembelajaran yang dilakukan. Transfer reflexive ini pada beberapa sekolah dilakukan secara verbal dan tertulis di akhir setiap pembelajaran.

Mindful transfer, kemampuan/keterampilan transfer yang dibangun melalui abstraksi yang dilakukan dengan sengaja guna mencari koneksi/hubungan suatu pembahasan/peristiwa dengan berbagai peristiwa lain. Jenis mindful transfer ini masih sangat langka dilakukan sekolah, mungkin disebabkan padatnya muatan kurikulum dan kendala lain yang terkait dengan kapasitas guru pengajar, khususnya dalam mengelola diskusi terbuka (baca: deliberasi) di kelas.

Transfer tidak dengan serta-merta terjadi meskipun desain pengajaran dan pengujian sudah dikembangkan dengan ketat pada suatu program studi. Transfer terjadi hanya ketika guru secara sungguh-sungguh mengajar dan menguji pemahaman yang diaplikasikan dalam suatu situasi. Temuan kunci dalam literatur pembelajaran terkait kemampuan transfer menyebutkan bahwa pengorganisasian informasi ke dalam kerangka kerja konseptual memungkinkan siswa dapat menerapkan apa yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru dan mempelajari informasi yang terkait dengan lebih cepat.

Transfer dipengaruhi oleh sejauh mana siswa belajar dengan pemahaman daripada hanya sekadar menghafal serangkaian fakta atau mengikuti serangkaian prosedur tetap. Penelitian juga menunjukkan dengan jelas bahwa ‘pengetahuan yang dapat digunakan’ tidak sama dengan sekadar daftar fakta yang tidak berhubungan.

 

Understanding by design (UbD)

Keberhasilan pembelajaran membutuhkan integrasi konten, penilaian yang bermakna, dan praktik pedagogi yang efektif. Merancang kurikulum pembelajaran yang semua komponennya koheren dan kohesif merupakan pekerjaan yang sedikit rumit. Kerumitan itu akan dapat menjadi kendala keberhasilan pembelajaran siswa. UbD yang dikembangkan Grant Wiggins dan Jay McTighe (1999) dengan kerangka kerja yang sistematis membantu guru menangani masalah-masalah di atas dengan cara yang praktis. Guru sebagai perancang pembelajaran akan dibantu dalam menciptakan pengalaman belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Efektivitas rancangan pembelajaran ditentukan oleh apakah siswa telah memenuhi target/tujuan yang ditentukan sebagaimana ditunjukkan bukti-bukti hasil penilaian. Untuk itu, guru harus merencanakan terlebih dahulu bagaimana atau seperti apa hasil belajar siswa yang diinginkan. Menggunakan UbD sebagai pendekatan dalam merancang kurikulum memungkinkan guru untuk fokus pada apa yang diinginkan dari hasil belajar siswa dan selanjutnya menyediakan struktur siswa belajar (Wiggins dan McTighe, 2005).

Pendekatan itu membuat fokus utama guru dalam mengajar pada hasil belajar bukan pada proses belajarnya, sebagaimana yang disajikan bentuk perencanaan kurikulum pembelajaran lainnya. Model ini sering menciptakan prestasi belajar siswa lebih tinggi karena pendekatannya terorganisasi yang menguraikan apa yang harus dipelajari pada suatu unit pembelajaran. Wiggins dan McTighe (2005) menjelaskan desain ini melalui tiga tahap: a) mengidentifikasi hasil yang diinginkan, b) menentukan bukti yang dapat diterima, termasuk penilaian yang efektif, dan c) merencanakan pengalaman belajar dan pengajaran.

Ketiga tahapan itu harus selalu bekerja selaras. Guru juga harus dapat menyelaraskan penilaian yang dilakukan dengan tujuan pembelajaran dan standar. Ketika penilaian menjadi bagian integral dari proses pembelajaran dan menjadi unsur utama dalam upaya guru untuk membantu siswa belajar, manfaat penilaian bagi siswa dan guru menjadi tidak terhingga (Thomas R Guskey, 2003).

UbD dapat dipraktikkan dengan model belajar proyek kelas seperti yang biasa dilakukan di sekolah Sukma Bangsa Aceh maupun Sulawesi Tengah. Desain kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan UbD seperti yang dijelaskan di atas. Tahapan krusial ialah saat guru mengidentifikasi hasil yang diinginkan dari proyek yang akan dikerjakan. Hasil yang dimaksud bukan sekadar hasil fisik dalam bentuk produk, melainkan bentuk sikap apa yang ingin dicapai siswa dari proyek yang akan dikerjakan.

Apabila rancangan pembelajaran sudah dilakukan dengan sistematis dan terencana, guna mengembangkan kapasitas siswa agar dapat (kinerja) mandiri dengan mempertimbangkan kemampuan transfer sebagai bagian penting dalam pembelajaran, lulusan sekolah menengah diharapkan kelak akan lebih siap menapaki karier pendidikan di universitas dan/atau dunia kerja. Wallahualam bissawab.

Sumber: mediaindonesia.com