MICE  

Tongkat Estafet untuk Gen Z

APA yang bisa dilakukan anak-anak muda usia 20an tahun untuk Bangsa Indonesia? Apakah anak-anak muda di usia tersebut itu punya kapasitas dan kapabilitas untuk ikut menentukan arah masa depan bangsa? Jawabannya, iya, anak muda punya kapasitas dan kapabilitas itu.

Kalau ada yang masih ragu, saya ajak Anda melintasi ruang dan waktu, kembali ke masa lalu. Tepatnya, 28 Oktober 1928. Ini adalah hari bersejarah yang menentukan arah perjalanan Bangsa Indonesia.

Hari itu, di Gedung Indonesische Clubhuis (kini Museum Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat) lahir Sumpah Pemuda. Semangat persatuan yang lahir pada hari itu, menggema ke berbagai penjuru Nusantara, menggugah kesadaran dan membangkitkan mimpi Bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan merdeka.

Getaran semangat puluhan anak muda pada masa itu masih kita rasakan hingga saat ini. Di antara sekian banyak tokoh saat itu, ada beberapa sosok kunci. Di antaranya, Sugondo Djojopuspito sebagai ketua Kongres Pemuda, Mohammad Yamin sebagai sekretaris sekaligus pencetus konsep Sumpah Pemuda, serta W.R. Soepratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan di hari bersejarah itu.

Mereka adalah anak-anak muda dengan gagasan yang melampaui zaman. Saat itu, Sugondo Djojopuspito berusia 23 tahun, Mohammad Yamin 25 tahun, dan W.R. Soepratman 25 tahun. Jika kita tarik dalam perspektif tahun 2022, mereka ibarat anak-anak muda yang lahir di tahun 1997 dan 1999. Dalam istilah yang lebih familier, mereka ibarat Gen Z.

Gagasan Generasi Relevan

Sumpah Pemuda tak hanya satu-satunya etalase kontribusi penting generasi muda dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Dari masa pergerakan nasional, peristiwa Rengas Dengklok jelang Kemerdekaan, hingga berbagai momen penting dalam lintasan sejarah Indonesia, generasi muda menunjukkan kontribusi nyata.

Bagaimana di abad ke-21 ini? Mari kita lihat komposisi demografi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Penduduk 2020 menunjukkan, gen Z yang lahir tahun 1997 – 2012 adalah kelompok terbesar dalam struktur populasi Indonesia. Jumlahnya mencapai 75,49 juta orang atau 27,94 persen. Kelompok terbesar kedua adalah generasi milenial yang lahir 1981 – 1996 sebanyak 69,38 juta orang atau 25,87 persen.

Karena itu, suara dari kelompok terbesar ini penting sekali untuk didengar, khususnya dalam tahap penyusunan kebijakan seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang dipimpin oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.

Tahun ini, Tanoto Foundation berkesempatan berkolaborasi dengan Kementerian PPN/Bappenas untuk membawa suara generasi muda, khususnya Gen Z untuk ikut berkontribusi menyumbangkan ide dan gagasan masa depan.

Membuka saluran bagi generasi muda untuk ikut menyumbang gagasan dalam penentuan arah kebijakan negara ke depan, merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendorong kontribusi generasi muda dalam perencanaan pembangunan. Ini penting. Mengapa? Karena gagasan generasi muda memang sangat dibutuhkan. Sebab, merekalah pemilik masa depan, sehingga gagasan mereka akan lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Generasi yang lebih tua boleh saja kenyang pengalaman masa lalu. Tapi, pengalaman dan perspektif masa lalu belum tentu relevan jika digunakan sebagai basis perumusan kebijakan yang akan menjadi peta jalan Indonesia di masa depan.

Dunia di mana kita hidup saat ini, sudah jauh berbeda dengan dunia di mana kita hidup 10 tahun yang lalu. Apalagi, dibandingkan dunia di mana kita hidup 20 tahun atau 30 tahun lalu. Benar-benar berbeda.

Karena itu, meskipun kita dulu pernah muda, kita sesungguhnya tak benar-benar bisa mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh generasi muda saat ini. Keterpaparan terhadap teknologi informasi  dan perkembangannya membuat generasi muda saat ini memiliki perspektif yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Bahkan, antara Generasi Z yang lahir antara 1997 – 2012 dan generasi milenial yang lahir antara 1981 – 1996 saja sudah memiliki perspektif dan perilaku yang berbeda. Apalagi, dengan Generasi X yang lahir antara tahun 1965 – 1980, atau bahkan generasi Baby Boomer yang lebih tua lagi.

Mempersiapkan Generasi Masa Depan

Strategi mendorong generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam perumusan kebijakan, harus diiringi dengan upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas. Ini penting agar generasi muda mendapatkan bekal yang cukup, sehingga memiliki kacamata perspektif yang lebih jernih dalam melihat kebutuhan di masa depan. Ini juga bagian penting dari strategi besar peningkatan daya saing Indonesia di kancah global.

Kemampuan ini tidak hanya dari sisi akademis di kampus. Tapi, kemampuan yang lebih mendasar dan krusial, yakni analytical thinking. Kemampuan berpikir analitis ini ibarat fondasi kokoh agar bisa berpikir jernih di tengah lingkungan yang disruptif.

Analytical thinking bukan kemampuan yang bisa dibangun sekejap, tetapi butuh proses panjang dan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Karena itu, penting untuk membuka ruang-ruang kesempatan bagi Gen Z agar bisa mengasah analytical thinking dalam proses fasilitasi pembangunan ini.

Akomodasi suara anak-anak muda juga menjadi bagian penting pengembangan program TELADAN. Ini adalah program Tanoto Foundation yang berfokus pada pengembangan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa agar siap menjadi pemimpin di masa depan.

Melalui studi, pemetaan, maupun diskusi dengan anak-anak muda, kita bisa mendapatkan insight tentang pola pikir dan pola perilaku Gen Z. Sehingga, program yang disusun relevan dengan apa yang dibutuhkan anak muda. Proses ini sekaligus juga terus mengasah kemampuan analytical thinking menjadi lebih tajam. Semangat merangkul dan mengakomodir suara anak-anak muda inilah yang ingin kami sebarluaskan.

Guru manajemen Peter Drucker pernah mengatakan, “The best way to predict the future is to create it”. Untuk itu, inilah saatnya generasi muda ikut berkontribusi merumuskan kebijakan yang akan beriringan dengan perjalanan hidup mereka di masa depan.

Maka, tepat jika generasi muda yang merupakan pemilik masa depan Indonesia, mendapatkan ruang dan kesempatan untuk ikut menyumbangkan gagasan pembangunan yang relevan dengan perspektif masa depan. Dengan begitu, generasi muda akan lebih siap menerima tongkat estafet pembangunan bangsa, serta mampu memupuk rasa memiliki atas agenda pembangunan nasional. (*)

 


Sumber: mediaindonesia.com