MICE  

The Marvels yang Masih Terjerat Formula MCU

The Marvels yang Masih Terjerat Formula MCU

SETELAH penampilan solid Guardians of The Galaxy Volume 3 di antara lemahnya serangkaian karya yang rilis pada fase 5 Marvel Cinematic Universe (MCU), kini Marvel kembali menemui kejenuhannya lagi lewat The Marvels. Film layar lebar yang rilis setelah serial Loki musim kedua.

The Marvels menghadirkan tiga karakter pahlawan super utama, kembalinya Captain Marvel Carol Danvers (Brie Larson), Ms. Marvel Kamala Khan (Iman Vellani), dan Kapten Monica Rambeau (Teyonah Parris). Ketiganya terhubung akibat ulah Dar-Benn (Zawe Ashton), Kree Supremor yang membuat ketiga trio Marvels tadi bisa bertukar tempat atau teleportasi.

Dar-Benn mengenakan gelang kuantum yang ia temukan di luar angkasa untuk mengembalikan planetnya yang hancur. Gelang tersebut memancarkan energi yang akhirnya membuka panel jump point (titik lompatan), yang membuat trio Marvels itu bisa bertukar tempat. Gelang yang dikenakan Dar-Benn, adalah gelang yang sama dengan yang dikenakan Kamala. Sementara keterikatan antara Carol Danvers dan Monica Rambeau, disinyalir akibat saat mereka berada di luar angkasa terpapar dari energi gelang tersebut yang dikenakan oleh Dar-Benn.

The Marvels menjadi sekuel Captain Marvel (2019), sekaligus menjadi film layar lebar ke-33 Marvel. Film ini juga memiliki latar belakang dari serial Ms. Marvel, yang dibintangi Iman Vellani sebagai Kamala Khan, remaja yang tinggal di Jersey City dan memiliki kekuatan mengubah sesuatu menjadi kristal yang keras. Sementara ini juga menjadi reuni bagi Danvers dan keponakannya Monica, anak dari sahabat Danvers, Maria.

The Marvels mengikuti kisah ketiganya dalam perjalanan luar angkasa, membentuk trio untuk menyelamatkan kehidupan dan menyelaraskan alam semesta melawan Dar-Benn yang berambisi memulihkan planetnya.

The Marvels yang disutradarai Nia DaCosta sebenarnya memiliki potensi yang menarik dengan komedi dan kemasan yang menyenangkan. Misalnya di bagian pembuka, DaCosta mencoba mempertahankan konsep animasi yang menjadi penyegaran seperti di serial Ms. Marvel. Terlebih dengan kehadiran Vellani dengan aktingnya yang memukau seperti yang ia teruskan dari serial Ms. Marvel membuat The Marvels punya kesan menyenangkan tersebut.

Konsep teleportasi dengan perpindahan tempat dari ketiga karakter utama juga menjadi unsur yang menyenangkan sebagai bagian dari adegan. Tapi dengan lemahnya konsep yang mendasari itu juga menjadi lubang di The Marvels. Inkonsistensi dan konsep yang kurang solid mengapa ketiganya bisa terhubung dan berpindah tempat satu sama lain adalah sebagian yang terlewat untuk digambarkan secara jelas.

Setelah menguliti seluruh alam semesta, sejak akhir Endgame, Marvel memang belum bisa menjahit kembali apa yang telah dikupas habis itu ke dalam babak baru dengan cerita dan karakter-karakter baru mereka. Sebagiannya, gagal untuk menghadirkan kesegaran di tengah keletihan film-film pahlawan super.

Sejak Quantumania (pembuka fase MCU) hingga The Marvels, hanya GOTG Vol. 3 yang tampil solid untuk di fase 5 MCU. Ini sebenarnya juga kemudian mengungkap penyakit Marvel yang ingin setiap film maupun rilisan serialnya memiliki keterkaitan, yang pada akhirnya menjadi potongan-potongan selewat dan malah meninggalkan ketidaksolidan film-filmnya jika harus berdiri sendiri.

Barangkali Marvel perlu merombak ulang untuk seri-seri mendatang dan memikirkan jika semuanya tidak perlu berkaitan antara satu film dengan film lainnya, atau serial satu dengan filmnya. Pasalnya, dengan mencoba lepas dari formula semua karya harus memiliki keterkaitan sebenarnya cukup membawa keberhasilan. Misalnya pada GOTG yang memang secara linimasa tidak begitu mengikat pada keseluruhan seri Marvel. Ms. Marvel, sebagai serial juga demikian.

DaCosta sebenarnya juga membawa bekal tersebut. Ia tidak datang dengan pretensi penonton filmnya, The Marvels adalah para fanatik MCU. Sehingga dia tidak begitu banjir memberikan easter egg yang mengarah ke seri-seri terdahulu MCU. Namun, begitu keras upaya DaCosta untuk mencoba lepas dari cengkeraman formula MCU itu, tetap ia tergelincir untuk menggunakannya. Berujung pada adegan-adegan kilasan balik yang malah cuma lewat saja. (M-2)

SETELAH penampilan solid Guardians of The Galaxy Volume 3 di antara lemahnya serangkaian karya yang rilis pada fase 5 Marvel Cinematic Universe (MCU), kini Marvel kembali menemui kejenuhannya lagi lewat The Marvels. Film layar lebar yang rilis setelah serial Loki musim kedua.

The Marvels menghadirkan tiga karakter pahlawan super utama, kembalinya Captain Marvel Carol Danvers (Brie Larson), Ms. Marvel Kamala Khan (Iman Vellani), dan Kapten Monica Rambeau (Teyonah Parris). Ketiganya terhubung akibat ulah Dar-Benn (Zawe Ashton), Kree Supremor yang membuat ketiga trio Marvels tadi bisa bertukar tempat atau teleportasi.

Dar-Benn mengenakan gelang kuantum yang ia temukan di luar angkasa untuk mengembalikan planetnya yang hancur. Gelang tersebut memancarkan energi yang akhirnya membuka panel jump point (titik lompatan), yang membuat trio Marvels itu bisa bertukar tempat. Gelang yang dikenakan Dar-Benn, adalah gelang yang sama dengan yang dikenakan Kamala. Sementara keterikatan antara Carol Danvers dan Monica Rambeau, disinyalir akibat saat mereka berada di luar angkasa terpapar dari energi gelang tersebut yang dikenakan oleh Dar-Benn.

The Marvels menjadi sekuel Captain Marvel (2019), sekaligus menjadi film layar lebar ke-33 Marvel. Film ini juga memiliki latar belakang dari serial Ms. Marvel, yang dibintangi Iman Vellani sebagai Kamala Khan, remaja yang tinggal di Jersey City dan memiliki kekuatan mengubah sesuatu menjadi kristal yang keras. Sementara ini juga menjadi reuni bagi Danvers dan keponakannya Monica, anak dari sahabat Danvers, Maria.

The Marvels mengikuti kisah ketiganya dalam perjalanan luar angkasa, membentuk trio untuk menyelamatkan kehidupan dan menyelaraskan alam semesta melawan Dar-Benn yang berambisi memulihkan planetnya.

The Marvels yang disutradarai Nia DaCosta sebenarnya memiliki potensi yang menarik dengan komedi dan kemasan yang menyenangkan. Misalnya di bagian pembuka, DaCosta mencoba mempertahankan konsep animasi yang menjadi penyegaran seperti di serial Ms. Marvel. Terlebih dengan kehadiran Vellani dengan aktingnya yang memukau seperti yang ia teruskan dari serial Ms. Marvel membuat The Marvels punya kesan menyenangkan tersebut.

Konsep teleportasi dengan perpindahan tempat dari ketiga karakter utama juga menjadi unsur yang menyenangkan sebagai bagian dari adegan. Tapi dengan lemahnya konsep yang mendasari itu juga menjadi lubang di The Marvels. Inkonsistensi dan konsep yang kurang solid mengapa ketiganya bisa terhubung dan berpindah tempat satu sama lain adalah sebagian yang terlewat untuk digambarkan secara jelas.

Setelah menguliti seluruh alam semesta, sejak akhir Endgame, Marvel memang belum bisa menjahit kembali apa yang telah dikupas habis itu ke dalam babak baru dengan cerita dan karakter-karakter baru mereka. Sebagiannya, gagal untuk menghadirkan kesegaran di tengah keletihan film-film pahlawan super.

Sejak Quantumania (pembuka fase  MCU) hingga The Marvels, hanya GOTG Vol. 3 yang tampil solid untuk di fase 5 MCU. Ini sebenarnya juga kemudian mengungkap penyakit Marvel yang ingin setiap film maupun rilisan serialnya memiliki keterkaitan, yang pada akhirnya menjadi potongan-potongan selewat dan malah meninggalkan ketidaksolidan film-filmnya jika harus berdiri sendiri.

Barangkali Marvel perlu merombak ulang untuk seri-seri mendatang dan memikirkan jika semuanya tidak perlu berkaitan antara satu film dengan film lainnya, atau serial satu dengan filmnya. Pasalnya, dengan mencoba lepas dari formula semua karya harus memiliki keterkaitan sebenarnya cukup membawa keberhasilan. Misalnya pada GOTG yang memang secara linimasa tidak begitu mengikat pada keseluruhan seri Marvel. Ms. Marvel, sebagai serial juga demikian.

DaCosta sebenarnya juga membawa bekal tersebut. Ia tidak datang dengan pretensi penonton filmnya, The Marvels adalah para fanatik MCU. Sehingga dia tidak begitu banjir memberikan easter egg yang mengarah ke seri-seri terdahulu MCU. Namun, begitu keras upaya DaCosta untuk mencoba lepas dari cengkeraman formula MCU itu, tetap ia tergelincir untuk menggunakannya. Berujung pada adegan-adegan kilasan balik yang malah cuma lewat saja. (M-2)

 

Sumber: mediaindonesia.com