MICE  

Soal Presiden dari Jawa, Endang Tirtana Sebut Bukan untuk Dipolitisasi

MENTERI BUMN Erick Thohir berbicara peluang presiden Indonesia setelah kepemimpinan Joko Widodo (Widodo). Menurut Erick, presiden yang nantinya terpilih pasti orang Jawa. 

Pendapat senada pernah diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjitan.

Direktur Indonesia Watch For Democracy (IWD), Endang Tirtana menilai, pernyataan Erick dan Luhut merupakan realita politik. Sehingga pihak yang mempolitisir pernyataan tersebut malah menumbuhkan bibit polarisasi di Indonesia.

Dia menjelaskan, upaya untuk mengubah paradigma Jawasentris telah dilakukan Jokowi dengan membangun Indonesiasentris. 

Diharapkan penyebaran pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa hingga daerah perbatasan, pinggiran, dan pulau-pulau terluar.

“Tidak menutup kemungkinan kita akan memiliki banyak tokoh dari semua kalangan. Seperti dulu saat pendiri bangsa berkumpul untuk menyatakan sumpah bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia,” kata Endang lewat pernyataan resmi, Minggu (30/10).

Endang menerangkan, selama ini elite politik selalu menggunakan konsep politik aliran yang mengombinasikan tokoh nasionalis (aristokrasi jawa) dengan Islam (saudagar/islamic entrepeneur).

“Kombinasi tersebut dianggap sebagai gagasan ideal pemimpin Indonesia. Dengan mengasumsikan bahwa jumlah pemilih terbesar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal tidak berarti bahwa pemimpin hanya lahir dari Jawa,” jelasnya.

Dia mengingatkan, banyak tokoh juga berdarah campuran. Sebagai contoh Soekarno yang ibunya berasal dari Bali. Kemudian M Hatta yang berasal dari Minang.

“Megawati dari Minang, Habibie orang Pare Pare, Gus Dur ada keturunan Tionghoa. Di DKI yang merupakan ibu kota negara pernah dipimpin keturunan Ahok yang merupakan keturunan Tionghoa dan Anies Baswedan dari Arab,” pungkasnya. (OL-8)


Sumber: mediaindonesia.com