MICE  

Sejumlah Burung Pemangsa di Afrika Terancam Punah

Sejumlah Burung Pemangsa di Afrika Terancam Punah

Para peneliti mengungkapkan sejumlah burung pemangsa di Afrika, seperti Secretary Bird yang berbulu flamboyan dan Elang Ular, termasuk di antara puluhan burung pemangsa besar di Afrika yang terancam punah akibat ulah manusia.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekspansi manusia dan pertanian yang pesat mempunyai dampak yang sangat buruk terhadap burung nasar di Afrika, karena perubahan habitat dan keracunan. Namun, studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas St Andrews dan The Peregrine Fund menemukan bahwa burung pemangsa besar lainnya yang tidak terlalu rentan terhadap keracunan, juga mengalami kirisis kepunahan yang sama parahnya.

Para ilmuwan mengatakan burung pemangsa berukuran besar yang mengalami penurunan populasi ini menghadapi “bahaya ganda” – semakin bergantung pada kawasan yang dilindungi, dan habitat mereka yang juga kini semakin terbatas.” Kecuali jika jaringan konservasi Afrika diperluas dan ancaman manusia lainnya dapat dikurangi, “ kata para penliti, Kamis (4/1).

Menurut penulis utama Philip Shaw, yang juga peneliti kehormatan di University of St Andrews, spesies raptor berukuran besar kemungkinan tidak akan bertahan di sebagian besar lahan yang tidak dilindungi di benua tersebut pada paruh kedua abad ini.

Penelitian terbaru yang telah dipublikasikan di Nature Ecology and Evolution ini mengukur perubahan kelimpahan populasi 42 spesies raptor di Nigeria, Burkina Faso, Mali, Kamerun utara, Kenya, dan Botswana selama dua periode, 1969-1995 dan 2000 -2020. Dari burung-burung yang diteliti, 37 spesies mengalami penurunan populasi, dengan 29 spesies mengalami penurunan setidaknya 30% selama tiga periode generasi.

Para penulis menyimpuln bahwa secara keseluruhan, burung pemangsa diurnal Afrika – yang aktif di siang hari seperti elang – “menghadapi krisis kepunahan, dengan lebih dari dua pertiga spesies yang diperiksa berpotensi memenuhi syarat sebagai terancam punah secara global”.

Dampak terhadap manusia

Menurut para peneliti burung berukuran besar sangat berisiko karena mereka membutuhkan habitat yang lebih luas dan berkembang biak lebih lambat dibandingkan burung berukuran kecil, sehingga menyebabkan populasi mereka menjadi kurang tangguh.

Ancaman oleh manusia di antaranya adalah penembakan, penjebakan, peracunan, sengatan listrik, atau tabrakan dengan infrastruktur energi, serta perburuan. Penurunan spesies paling parah terjadi di Afrika Barat dan Tengah, dimana kawasan lindung sangat kekurangan dana.

Tingginya tingkat kemiskinan dan korupsi di tingkat regional telah dikaitkan dengan hasil konservasi yang merugikan bagi banyak spesies mamalia karismatik, menurut penelitian tersebut.

Untuk melindungi burung-burung itu, para peneliti memberikan dua solusi. Yang pertama adalah memperluas kawasan lindung di Afrika sejalan dengan tujuan yang ditetapkan pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP 15) pada tahun 2022 – untuk secara efektif melestarikan dan mengelola setidaknya 30% permukaan bumi pada tahun 2030. “Saat ini, kawasan yang dilindungi hanya mencakup 14% daratan dan perairan pedalaman Afrika,” kata Shaw.

Yang kedua adalah mengelola kawasan lindung yang ada secara lebih efektif. Para peneliti menekankan bahwa konservasi efektif terhadap burung pemangsa berukuran besar adalah demi kepentingan terbaik masyarakat. “Burung nasar, misalnya, dengan memakan bangkai dapat membatasi penularan penyakit zoonosis ke populasi manusia,” kata Shaw.

Hilangnya predator besar juga berdampak besar pada ekosistem. Tanpa mereka, populasi mangsa akan menjadi tidak terkendali dan merusak tanaman. “Di Afrika, hilangnya burung predator terbesar dan paling unik dalam beradaptasi kemungkinan besar akan mempunyai dampak terbesar terhadap fungsi ekosistem,” kata Shaw.(AFP/M-3)









Para peneliti mengungkapkan sejumlah burung pemangsa di Afrika, seperti Secretary Bird yang berbulu flamboyan dan Elang Ular, termasuk di antara puluhan burung pemangsa besar di Afrika yang terancam punah akibat ulah manusia.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekspansi manusia dan pertanian yang pesat mempunyai dampak yang sangat buruk terhadap burung nasar di Afrika, karena perubahan habitat dan keracunan. Namun,  studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas St Andrews dan The Peregrine Fund menemukan bahwa burung pemangsa besar lainnya  yang tidak terlalu rentan terhadap keracunan, juga mengalami kirisis kepunahan yang sama parahnya.

Para ilmuwan mengatakan burung pemangsa berukuran besar yang mengalami penurunan populasi ini menghadapi “bahaya ganda” – semakin bergantung pada kawasan yang dilindungi, dan habitat mereka yang juga kini semakin terbatas.” Kecuali jika jaringan konservasi Afrika diperluas dan ancaman manusia lainnya dapat dikurangi, “ kata para penliti, Kamis (4/1).

Menurut penulis utama Philip Shaw, yang juga peneliti kehormatan di University of St Andrews, spesies raptor berukuran besar kemungkinan tidak akan bertahan di sebagian besar lahan yang tidak dilindungi di benua tersebut pada paruh kedua abad ini.

Penelitian terbaru yang telah dipublikasikan di Nature Ecology and Evolution ini mengukur perubahan kelimpahan populasi 42 spesies raptor di Nigeria, Burkina Faso, Mali, Kamerun utara, Kenya, dan Botswana selama dua periode, 1969-1995 dan 2000 -2020. Dari burung-burung yang diteliti, 37 spesies mengalami penurunan populasi, dengan 29 spesies mengalami penurunan setidaknya 30% selama tiga periode generasi.

Para penulis menyimpuln bahwa secara keseluruhan, burung pemangsa diurnal Afrika – yang aktif di siang hari seperti elang – “menghadapi krisis kepunahan, dengan lebih dari dua pertiga spesies yang diperiksa berpotensi memenuhi syarat sebagai terancam punah secara global”.

Dampak terhadap manusia

Menurut para peneliti burung berukuran besar sangat berisiko karena mereka membutuhkan habitat yang lebih luas dan berkembang biak lebih lambat dibandingkan burung berukuran kecil, sehingga menyebabkan populasi mereka menjadi kurang tangguh.

Ancaman oleh manusia di antaranya adalah penembakan, penjebakan, peracunan, sengatan listrik, atau tabrakan dengan infrastruktur energi, serta perburuan. Penurunan spesies paling parah terjadi di Afrika Barat dan Tengah, dimana kawasan lindung sangat kekurangan dana.

Tingginya tingkat kemiskinan dan korupsi di tingkat regional telah dikaitkan dengan hasil konservasi yang merugikan bagi banyak spesies mamalia karismatik, menurut penelitian tersebut.

Untuk melindungi burung-burung itu, para peneliti memberikan dua solusi. Yang pertama adalah memperluas kawasan lindung di Afrika sejalan dengan tujuan yang ditetapkan pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP 15) pada tahun 2022 – untuk secara efektif melestarikan dan mengelola setidaknya 30% permukaan bumi pada tahun 2030. “Saat ini, kawasan yang dilindungi hanya mencakup 14% daratan dan perairan pedalaman Afrika,” kata Shaw.

Yang kedua adalah mengelola kawasan lindung yang ada secara lebih efektif. Para peneliti menekankan bahwa konservasi efektif terhadap burung pemangsa berukuran besar adalah demi kepentingan terbaik masyarakat. “Burung nasar, misalnya, dengan memakan bangkai dapat membatasi penularan penyakit zoonosis ke populasi manusia,” kata Shaw.

Hilangnya predator besar juga berdampak besar pada ekosistem. Tanpa mereka, populasi mangsa akan menjadi tidak terkendali dan merusak tanaman. “Di Afrika, hilangnya burung predator terbesar dan paling unik dalam beradaptasi kemungkinan besar akan mempunyai dampak terbesar terhadap fungsi ekosistem,” kata Shaw.(AFP/M-3)

 

 

 

 

Sumber: mediaindonesia.com