MICE  

Santri Asal Bekasi Tewas Dikeroyok Rekan Pesantren di Kuningan

Santri Asal Bekasi Tewas Dikeroyok Rekan Pesantren di Kuningan

SEORANG santri di pondok pesantren Husnul Khotimah, Desa
Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, meninggal dunia.
Diduga santri itu dikeroyok teman di asramanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, santri dengan inisial H, 18, asal
Bekasi meninggal dunia pada Senin (4/12) saat menjalani perawatan di
RSUD 45 Kuningan. Luka lebam ditemukan di beberapa bagian tubuhnya.

Kapolres Kuningan, Ajun Komisaris Besar Willy Andrian menjelaskan pihaknya sudah melakukan rangkaian penyelidikan mulai Senin (4/12). Dari penyelidikan tersebut Polres Kuningan menetapkan 18 orang sebagai tersangka.

“Sebanyak 6 termasuk kategori dewasa, sehingga dilakukan penahanan. Sementara 12 lainnya anak di bawah umur, sehingga diterapkan status dalam pengawasan. Ke-12 anak itu masih di bawah umur, sehingga tidak dilakukan penahanan,” tuturnya, Rabu (6/12).

Sebanyak 18 orang ini, lanjut Willy, telah melakukan pemukulan atau
pengeroyokan terhadap korban. Untuk itu, pihaknya akan melakukan proses
hukum sesuai dengan perundang-undangan dan untuk yang di bawah umur akan menggunakan sistem peradilan anak.

Sementara itu Kepala Divisi Humas Ponpes Husnul Khotimah, Sanwani,
membenarkan ada salah satu santri mereka yang meninggal. “Benar ada
salah satu santri kami yang meninggal dunia diduga akibat tindak
kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah teman satu asramanya.”

Namun Sanwani tidak bersedia menjelaskan secara rinci kronologi penyebab tewasnya santri kelas 12 tersebut.

Sanwani pun menyayangkan dan prihatin dengan kejadian tersebut. Pihak
ponpes memastikan kasus ini tengah ditangani Polres Kuningan.

Kuasa hukum Ponpes Husnul Khotimah, Taufik Eka Alfauzan Sukirman
menjelaskan insiden tewasnya santri inisial H, 18, dipicu oleh
perselisihan kecil hingga terjadi pemukulan.

“Kronologi dimulai Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB di sebuah ruangan dekat asrama putra. Aksi pemukulan berlanjut pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Pelaku bahkan membawa korban ke gudang di
lantai satu lalu menguncinya dari luar. Keberadaan korban diketahui oleh wali asrama pada Jumat pagi dengan kondisi banyak ditemukan luka lebam di tubuhnya.

“Wali asrama menemukan korban di gudang dalam kondisi masih sadar dengan sejumlah luka lebam di tubuh,” tutur Taufik.

Korban kemudian dibawa ke klinik ponpes lalu dirujuk ke RS Juanda. Namun kemudian dirujuk lagi ke RSUD 45 Kuningan karena keterbatasan alat.

Dari hasil pemeriksaan medis ditemukan beberapa luka dalam di tubuh
korban sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Namun malang, sehari
setelah operasi kondisi korban memburuk dan meninggal dunia pada Senin
(4/12). (SG)

SEORANG santri di pondok pesantren Husnul Khotimah, Desa

Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, meninggal dunia.

Diduga santri itu dikeroyok teman di asramanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, santri dengan inisial H, 18, asal

Bekasi meninggal dunia pada Senin (4/12) saat menjalani perawatan di

RSUD 45 Kuningan. Luka lebam ditemukan di beberapa bagian tubuhnya.

Kapolres Kuningan, Ajun Komisaris Besar Willy Andrian menjelaskan pihaknya sudah melakukan rangkaian penyelidikan mulai Senin (4/12). Dari  penyelidikan tersebut Polres Kuningan menetapkan 18 orang sebagai tersangka.

“Sebanyak 6 termasuk kategori dewasa, sehingga dilakukan penahanan. Sementara 12 lainnya anak di bawah umur, sehingga diterapkan status  dalam pengawasan. Ke-12  anak itu masih di bawah umur, sehingga tidak dilakukan penahanan,” tuturnya, Rabu (6/12).

Sebanyak 18 orang ini, lanjut Willy, telah melakukan pemukulan atau

pengeroyokan terhadap korban. Untuk itu, pihaknya akan melakukan proses

hukum sesuai dengan perundang-undangan dan untuk yang di bawah umur akan menggunakan sistem peradilan anak.

Sementara itu Kepala Divisi Humas Ponpes Husnul Khotimah, Sanwani,

membenarkan ada salah satu santri mereka yang meninggal. “Benar ada

salah satu santri kami yang meninggal dunia diduga akibat tindak

kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah teman satu asramanya.”

Namun Sanwani tidak bersedia menjelaskan secara rinci kronologi penyebab tewasnya santri kelas 12 tersebut.

Sanwani pun menyayangkan dan prihatin dengan kejadian tersebut. Pihak

ponpes memastikan kasus ini tengah ditangani Polres Kuningan.

Kuasa hukum Ponpes Husnul Khotimah, Taufik Eka Alfauzan Sukirman

menjelaskan insiden tewasnya santri inisial H, 18, dipicu oleh

perselisihan kecil hingga terjadi pemukulan.

“Kronologi dimulai Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB di sebuah ruangan dekat asrama putra. Aksi pemukulan berlanjut pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Pelaku bahkan membawa korban ke gudang di

lantai satu lalu menguncinya dari luar. Keberadaan korban diketahui oleh wali asrama pada Jumat pagi dengan kondisi banyak ditemukan luka lebam di tubuhnya.

“Wali asrama menemukan korban di gudang dalam kondisi masih sadar dengan sejumlah luka  lebam di tubuh,” tutur Taufik.

Korban kemudian dibawa ke klinik ponpes lalu dirujuk ke RS Juanda. Namun kemudian dirujuk lagi ke RSUD 45 Kuningan karena keterbatasan  alat.

Dari hasil pemeriksaan medis ditemukan beberapa luka dalam di tubuh

korban sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Namun malang, sehari

setelah operasi kondisi korban memburuk dan meninggal dunia pada Senin

(4/12). (SG)

Sumber: mediaindonesia.com