MICE  

Pundi dan Uhamka Gelar Tadarus Demokrasi soal Alam Pikiran Buya Syafii

PEGIAT Pendidikan Indonesia (Pundi) bersama Universitas

Muhammadiyah Prof Hamka (Uhamka) menggelar acara Tadarus Demokrasi di

Alam Pikiran Buya Ahmad Syafii Maarif, di Yogyakarta, Minggu (2/5).

Agenda diskusi tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat

Muhammadiyah, Prof KH Haedar Nashir, sebagai pembicara kunci yang disampaikan secara daring.

Selain itu, hadir pula Rektor Uhamka Prof HGunawan Suryoputro. Acara yang didominasi oleh anak-anak muda millenial dan berbagai

organisasi dan komunitas se-Yogyakarta sangat diapresiasi sebagai

langkah awal memperkenalkan gagasan-gagasan Buya Syafii, khususnya

mengenai implementasi demokrasi di Indonesia.

Apresiasi tersebut datang dari Prof KH Haedar Nashir. Dalam

pengantarnya, dia menyatakan bahwa diskusi bertajuk Tadarus Demokrasi

di Alam Pikiran Buya Ahmad Syafii Maarif menjadi sangat penting bagi

anak-anak muda hari ini.

“Saya atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah maupun pribadi menyampaikan

apresiasi yang tinggi atas acara yang diselenggarakan oleh Pegiat

Pendidikan Indonesia (Pundi), yaitu Tadarus Demokrasi di Alam Pikiran

Buya Ahmad Syafii Maarif. Tadarus ini, bagi anak-anak muda menjadi

sesuatu yang penting dan sangat berharga,” ujarnya.

Haedar juga berpesan kepada anak-anak muda yang berkecimpung di dunia pendidikan, khususnya kepada Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) untuk terus belajar dan mempertajam wawasan. Harapannya, anak-anak muda saat ini dapat mengikuti jejak Buya Syafii, bahkan melampaui sosok Buya Syafii. Situasi dan kondisi saat ini lebih mendukung terbentuknya iklim pengetahuan yang berbeda dengan situasi dan kondisi Buya Syafii sewaktu muda dahulu.

“Yang perlu menjadi perhatian bagi anak-anak muda, termasuk yang

berhimpun di kelompok Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi), bagaimana

untuk terus belajar tiada henti agar bisa mengikuti jejak Buya Syafii,

bahkan bila perlu melampaui Buya Syafii. Anda adalah anak-anak muda yang mempunyai potensi dan punya ekosistem yang jauh lebih leluasa ketimbang di era Buya Syafii semasa hidup,” tandasnya.

Intelektual Muslim


Sebagaimana yang diketahui, Buya Ahmad Syafii Maarif merupakan sosok

intelektual Muslim berpengaruh yang diakui, baik dalam skala nasional

maupun internasional. Buya Syafii, sapaan akrab Buya Ahmad Syafii

Maarif, bahkan dijuluki sebagai Guru Bangsa sebab usaha dan

komitmennya yang tanpa lelah untuk terus menyerukan penerapan

nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

Selain itu, Buya Syafii begitu konsisten mengingatkan bangsa ini untuk tetap berjalan di atas nilai-nilai moralitas dan keadaban. Dipilihnya tema demokrasi di alam pikiran Buya Syafii, disebabkan sosoknya yang sangat menginspirasi dan patut dijadikan teladan bagi anak-anak muda milenial saat ini.

Di samping itu, pikiran maupun gagasan Buya Syafii mengenai demokrasi

masih relevan untuk dibahas. Kritik-kritik Buya Syafii mengenai kualitas

demokrasi di Indonesia patut menjadi perhatian bagi seluruh kalangan.

Termasuk, kritik Buya Syafii kepada sebagian umat Islam yang masih

mempertentangkan antara Islam dengan demokrasi. Padahal, nilai-nilai

Islam sangat berkesesuaian dengan nilai-nilai yang terkandung dalam

sistem demokrasi.

Prof Abdul Munir Mulkhan mengkonfirmasi hal tersebut. Dia menyatakan bahwa di usianya yang sudah senja, Buya Syafii sangat produktif menulis, utamanya mengenai penerapan demokrasi di Indonesia.

“Tentunya, ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi sosok Buya Syafii. Buya adalah penulis yang aktif, setiap minggu tulisan-tulisan Buya

terbit di media cetak maupun digital. Dalam tulisannya, Buya Syafii

sangat banyak menulis tentang kondisi bangsa, salah satunya tentang

demokrasi. Demokrasi menurut Buya Syafii, merupakan kebudayaan yang

terbaik bagi terbentuknya kultur kepemimpinan dan penegakkan keadilan

saat ini,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Abdul Munir, Buya Syafii menyadari bahwa sistem demokrasi memiliki banyak kekurangan. Namun, substansi demokrasi adalah kesadaran bahwa kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan yang dapat diakomodir dalam sistem demokrasi.

“Demokrasi Politik bukanlah tindakan politik berbasis kesukuan atau

kepemelukan, melainkan berbasis kualitas kemanusiaan lintas etnik suku,

ras, agama, bahkan kebudayaan. Dan tujuan yang tidak boleh dilupakan

adalah demi kesejahteraan bersama, bukan untuk kelompoknya

masing-masing,” tambahnya.

Perempuan

Dewan Pembina Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi

Anggraini, yang pada kesempatan itu membawakan materi bertajuk demokrasi dan pengarusutamaan gender perspektif Buya Syafii menyoroti praktek demokrasi di Indonesia yang kurang berpihak pada sosok perempuan. Ini dibuktikan bahwa dalam penulisan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sosok perempuan kurang mendapatkan perhatian.

“Mengapa ruang-ruang perempuan dalam rentan sejarah Indonesia menjadi

sangat tidak populer? Sebab perjuangan perempuan di dalam sejarah

Indonesia jarang merekam kontribusi mereka,” ujarnya.

Menurut dia, Buya Syafii sangat sedikit menulis mengenai kesetaraan gender. Ini menjadi kritik tersendiri dan Buya Syafii semasa hidupnya mengamini kritik tersebut.

“Buya Syafii pernah dikritik oleh KH Husein Muhammad, mengapa Buya

Syafii sangat jarang menulis tentang kesetaraan gender. Lalu, Buya

Syafii mengamini kritik tersebut dan menulis satu bab khusus mengenai

relasi Islam dan gender dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Bingkai

Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Ini menunjukkan betapa komitmen Buya

Syafii terhadap kesetaraan gender, sekaligus sosok yang sangat terbuka

dan egaliter menerima kritik dan masukan dari berbagai pihak,” terang

aktivis dan pengamat pemilu tersebut.

Inspiratif


Sementara itu, RP Johanes Haryatmoko, yang akrab disapa Romo Haryatmoko, membawakan materi mengenai demokrasi, moralitas, dan keadaban publik di mata Buya Syafii.

Menurutnya, Buya Syafii merupakan sosok yang sangat inspiratif yang dihidupi oleh nilai-nilai kemanusiaan. “Buya Syafii

adalah sosok yang membuktikan bahwa sosok negarawan itu ada. Buya Syafii  membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam hidup keseharian. Tidak ada pecah kongsi antara kata dan perbuatan,” ujarnya.

Selain itu, Buya Syafii ketika menyampaikan kritik tidak pernah menghina atau merendahkan martabat pihak yang dikritiknya. Oleh karenanya, Buya Syafii selalu menjadi pribadi yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan.

“Aspek rasionalitas Buya Syafii yang lebih mengedepankan substansi

kritik tentu saja menjadi karakter khas yang sulit dicari tandingannya.

Bahkan, sekalipun Buya Syafii menyampaikan kritik yang tajam dan lugas,

bisa dipastikan Buya Syafii selalu bersandar pada argumentasi yang

rasional sekaligus berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan dan

keadilan yang universal. Ini membuktikan betapa Buya Syafii memiliki

komitmen dan konsistensi yang sangat kuat terhadap demokrasi yang sehat

di Indonesia,” pungkas pengajar Filsafat di Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta itu.

Berani hidup

Pada pertemuan itu, Husni Amriyanto, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, membawakan materi tentang implementasi politik inklusif menurut perspektif Buya Syafii.

Menurutnya, Buya Syafii berangkat dari refleksi bahwa terdapat

kesenjangan antara kata dan perbuatan, khususnya dalam konteks

perpolitikan di Indonesia. Kurangnya politik yang membawa gagasan kemudian menunjukkan betapa politik identitas justru semakin mendapat tempat sebab tidak adanya rasionalitas dalam membaca realitas politik di Indonesia.

“Politik kita memerlukan gagasan. Lakunya politik identitas yang terus menjadi bahan kampanye murahan yang pada akhirnya bisa mengakibatkan perpecahan adalah salah satu kritik tajam Buya Syafii terhadap realitas politik yang terjadi hari ini,” ujarnya.

Husni menyampaikan sebuah pengalaman perjumpaan pribadinya dengan Buya Syafii, untuk menunjukkan betapa almarhum merupakan sosok yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Suatu kali, pernah saya diberi pesan oleh Buya Syafii. Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang menganggap bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keselamatan untuk dirinya adalah orang-orang yang tidak mempunyai prinsip tanggung jawab sosial. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berani mati, tetapi Islam  mengajarkan umatnya untuk berani hidup. Sebab, tanggung jawab umat manusia hidup di atas dunia adalah menjadi khilafah untuk memperbaiki kualitas kehidupan agar menjadi lebih baik,” tandasnya. (N-2)

Sumber: mediaindonesia.com