MICE  

PT Pelindo Solusi Logistik Targetkan Ebitda Rp700 Miliar

PT Pelindo Solusi Logistik Targetkan Ebitda Rp700 Miliar



PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) sebagai subholding BUMN Kepelabuhanan PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo menargetkan dapat mencapai EBITDA atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sebesar Rp600 miliar – RP700 miliar di tahun ini.

“Untuk Ebitda kami grow cukup bagus. Kami menargetkan Ebitda di tahun ini dapat mencapai Rp600 miliar – RP700 miliar,” papar Direktur Utama SPSL Joko Noerhudha di Jakarta, Kamis (14/12).

Joko mengatakan kendati memiliki grow bagus perseroan masih terbebani oleh biaya Jalan Tol Cibitung – Cilincing (JTCC). Jalan tol sepanjang 34,7 kilometer telah selesai pembangunannya pada April 2023.

JTCC dibangun dan dioperasikan oleh PT Cibitung Tanjung Priok Tollways (PT CTP), yang dimiliki oleh PT Akses Pelabuhan Indonesia dan PT Menara Maritim Indonesia. Kedua perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT SPSL, yang merupakan salah satu subholding PT Pelindo di bidang logistik dan hinterland development.

Joko mengatakan perusahaannya mengambil alih pembangunan jalan tol tersebut karena mempunyai kepentingan seperti untuk kelancaran dan akses ke bisnis perusahaan dan grupnya.

Selain itu, pembangunan jalan tol juga berkaitan dengan pengembangan kawasan New Priok Container Terminal 2 dan 3. Jika jalan tol dibangun pihak lain maka tidak pasti selesainya. “Itu mengapa kita masuk ke sana (bisnis jalan tol) karena kita punya kepentingan,” kata Joko.

JTCC ini diharapkan dapat membantu mewujudkan interkoneksi logistik sehingga dapat berpartisipasi dalam upaya penurunan biaya logistik nasional, memperkuat konektivitas negeri, meningkatkan pemerataan hasil pembangunan, serta mendukung akselerasi kemajuan ekonomi nasional.

Setelah pembangunan jalan tol tersebut selesai, kata Joko, perusahaannya mempunyai pilihan apakah akan tetap memiliki saham. Namun juga tidak menutup kemungkinan melakukan divestasi.

Ia mengatakan jika ada investor yang ingin mengambil alih saham dengan harga yang bagus maka tidak menjadi masalah. Bagi SPSL, katanya, yang terpenting jalan tol tersebut sudah selesai.

Jalan Tol Cibitung-Cilincing yang terdiri dari empat seksi mulai dibangun sejak 2017. Jalan tol ini menghubungkan jalan tol Jakarta-Cikampek di Cibitung dengan JORR 1 di Cilincing.

Pembangunan jalan tol dikerjakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Cibitung Tanjung Priok Port Tollways dengan total nilai investasi sekitar Rp12,91 triliun dan biaya konstruksi Rp7,48 triliun. (E-3)

 

PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) sebagai subholding BUMN Kepelabuhanan PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo menargetkan dapat mencapai EBITDA atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sebesar Rp600 miliar – RP700 miliar di tahun ini.

“Untuk Ebitda kami grow cukup bagus. Kami menargetkan Ebitda di tahun ini dapat mencapai Rp600 miliar – RP700 miliar,” papar Direktur Utama SPSL Joko Noerhudha di Jakarta, Kamis (14/12).

Joko mengatakan kendati memiliki grow bagus perseroan masih terbebani oleh biaya Jalan Tol Cibitung – Cilincing (JTCC). Jalan tol sepanjang 34,7 kilometer telah selesai pembangunannya pada April 2023.

JTCC dibangun dan dioperasikan oleh PT Cibitung Tanjung Priok Tollways (PT CTP), yang dimiliki oleh PT Akses Pelabuhan Indonesia dan PT Menara Maritim Indonesia. Kedua perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT SPSL, yang merupakan salah satu subholding PT Pelindo di bidang logistik dan hinterland development.

Joko mengatakan perusahaannya mengambil alih pembangunan jalan tol tersebut karena mempunyai kepentingan seperti untuk kelancaran dan akses ke bisnis perusahaan dan grupnya.

Selain itu, pembangunan jalan tol juga berkaitan dengan pengembangan kawasan New Priok Container Terminal 2 dan 3. Jika jalan tol dibangun pihak lain maka tidak pasti selesainya. “Itu mengapa kita masuk ke sana (bisnis jalan tol) karena kita punya kepentingan,” kata Joko.

JTCC ini diharapkan dapat membantu mewujudkan interkoneksi logistik sehingga dapat berpartisipasi dalam upaya penurunan biaya logistik nasional, memperkuat konektivitas negeri, meningkatkan pemerataan hasil pembangunan, serta mendukung akselerasi kemajuan ekonomi nasional.

Setelah pembangunan jalan tol tersebut selesai, kata Joko, perusahaannya mempunyai pilihan apakah akan tetap memiliki saham. Namun juga tidak menutup kemungkinan melakukan divestasi.

Ia mengatakan jika ada investor yang ingin mengambil alih saham dengan harga yang bagus maka tidak menjadi masalah. Bagi SPSL, katanya, yang terpenting jalan tol tersebut sudah selesai.

Jalan Tol Cibitung-Cilincing yang terdiri dari empat seksi mulai dibangun sejak 2017. Jalan tol ini menghubungkan jalan tol Jakarta-Cikampek di Cibitung dengan JORR 1 di Cilincing.

Pembangunan jalan tol dikerjakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Cibitung Tanjung Priok Port Tollways dengan total nilai investasi sekitar Rp12,91 triliun dan biaya konstruksi Rp7,48 triliun. (E-3)

Sumber: mediaindonesia.com