MICE  

Program Hunian Sementara Penyintas Gempa Cianjur Dikebut

PROGRAM hunian sementara (huntara) bagi penyintas gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat terus dikebut. Sebanyak 100 huntara ditargetkan bisa dibangun di Kampung Pangkalan, Desa Benjot dan Kampung Sarampad, Desa Sarampad.

Kedua lokasi tersebut berada di Kecamatan Cugenang sekaligus yang terdampak parah akibat guncangan gempa bumi pada November 2022. Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama Recycle House Program (RHP) menjadi pihak yang menggencarkan program tersebut.

“Huntara Bunga yang memiliki arti Bumi Endah Dompet Dhuafa. Bumi Endah itu adalah rumah yang nyaman untuk mereka yang tertimpa musibah di gempa Cianjur. Kami mengusung nama yang memuat kearifan lokal,” ujar ¬†General Manager Disaster Risk Reduction DMC Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, dalam siaran persnya, Kamis (26/1).

Konsep recycle house yang dilakukan ialah membangun huntara dengan bahan sisa-sisa puing rumah. Tentu juga ditambah dengan bahan material bangunan yang baru. Huntara Bunga terdiri dari dua kamar tidur, satu ruang tamu dan teras rumah dengan luas 7 x 5 meter persegi.

“Dengan konsep recycle house ini kita bergotong-royong memanfaatkan sisa-sisa bangunan rumah asli mereka. Karena ada beberapa bahan-bahan bangunan yang bisa terpakai itu kita manfaatkan untuk Huntara Bunga,” ungkap Shofa.

Sebelum membangun huntara, DMC Dompet Dhuafa akan membentuk kelompok masyarakat yang terdiri dari 10 kepala keluarga. Selanjutnya akan berbagi seputar pembangunan huntara dengan konsep recycle, mulai dari ukuran, bahan, hingga arsitektur, dan penanaman semangat pemberdayaan. Ketika kelompok sudah terbentuk dan sudah mensosialisasikan recycle house, masyarakat akan bergotong-royong membangun huntara untuk masing-masing anggota kelompok.

Salah satu huntara percontohan yang sudah jadi berada di Kampung Pangkalan milik keluarga Agus Falahudin. Agus sangat bersyukur dan berterima kasih kepada DMC Dompet Dhuafa yang membantu mewujudkan pembangunan tersebut. Ia bersama warga pun bergotong-royong membangun Huntara Bunga, dan merasa lebih aman ketimbang rumah miliknya yang hancur akibat gempa bumi.

“Sebelum gempa saya memiliki rumah permanen bata dengan tiga kamar. Sewaktu terjadi gempa saya tidak mau melihat rumah-rumah yang tinggi dengan susunan bata. Saya mau rumah seperti ini (huntara). Enggak mau rumah yang bagus (menjulang tinggi), sederhana saja juga tidak apa-apa, yang penting nyaman dan keselamatan keluarga lebih terjamin,” terang Agus. (RO/O-2)


Sumber: mediaindonesia.com