MICE  

Praktik Baik dari Cilacap demi Turunkan Emisi

ADA rasa waswas ketika pesawat CN235-200 Flying Test Bed (FTB)

bakal lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Namun, kekhawatiran itu hilang saat lepas landas ternyata berjalan mulus.

Apalagi, kemudian ada kabar pesawat telah mendarat dengan baik di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (6/10) tahun lalu.

Bagi yang tidak tahu, penerbangan ini biasa saja. Tetapi sesungguhnya

merupakan tonggak sejarah. Pesawat CN235 tersebut memakai bahan bakar

BioAvtur yang diproduksi Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery

Unit (RU IV) Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Nama produksinya adalah

BioAvtur J2.4.

“Kami bagian dari tim. Ada rasa bangga melihat CN235 dapat mengudara. Itu berarti BioAvtur J2.4 telah teruji menjadi bahan bakar pesawat. Apalagi, CN235 mengudara dari Bandung, kemudian ke Jakarta balik Bandung lagi. Benar-benar membahagiakan,” kata Manager Engineering & Development PT KPI RU IV Cilacap, Hadi Siswanto, saat berbincang dengan Media Indonesia, Kamis (3/11).

Menurut Hadi, BioAvtur J2.4 berbeda dengan avtur. Jika avtur

bahan bakunya adalah energi fosil atau minyak mentah, untuk

BioAvtur J2.4 berbahan baku minyak nabati dari sawit. “Minyak sawit

tersebut diproses dengan dijernihkan impuritiesnya,” jelas Hadi.

Proses produksi BioAvtur J2.4 tidaklah seketika. Butuh proses panjang

dengan melibatkan para ahli. Produksi BioAvtur adalah bagian dari

roadmap green fuel di kilang RU IV Cilacap. Penelitian dimulai pada

2017 dan makin jelas arahnya pada Desember 2020.

“Pada Januari-Februari 2021 uji coba produksi J2.4. Lalu pada 6

September pelaksanaan ground run perdana BioAvtur J2.4 pada pesawat CN

235 dan dilanjutkan uji terbang tepat sebulan setelahnya,” papar Hadi.

Sertifikasi ISCC


Setelah uji terbang sukses, dilaksanakan persiapan produksi energi hijau dari kilang Pertamina Cilacap. Pada Januari 2022, selain memproduksi green avtur juga green diesel.

Untuk green diesel menggunakan material RBDPO (Refined, Bleached and

Deodorized Palm Oil) yaitu minyak sawit yang sudah melalui proses

penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan agar

hilang warna dan baunya.

Sementara Avtur menggunakan RBDPKO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Kernel Oil) atau minyak inti kelapa sawit. Kedua produk merupakan produksi dari Green Refinery yang dimiliki kilang Cilacap.

Kemudian pada Mei 2022 lalu, Kementerian ESDM mengeluarkan SK

Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati. Produk green diesel yang disebut sebagai Pertamina Renewable Diesel (HVO) langsung digunakan untuk generator pada balap Formula E. Bahkan, pada 31 Agustus lalu, green electricity generated dengan HVO juga dipakai Event 3rd ETWG G20 di Bali.

“Kelistrikan ramah lingkungan dengan bahan baku Pertamina Renewable

Diesel sesuai dengan target. Performa tidak mengalami penurunan,” tandas

Hadi.

Dalam kesempatan terpisah, General Manager PT KPI RU IV Cilacap Edy

Januari Utama mengakui untuk membangun Green Refinery membutuhkan proses panjang. Pihaknya memulai dengan riset pada 2017 silam.

Setelah berlangsung hampir 5 tahun, akhirnya pada Januari 2022 dapat memproduksi green avtur maupun green diesel secara komersial. Perusahaan melengkapinya dengan sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).

“Karena sudah mendapatkan sertifikat ISCC, maka yang dihasilkan

merupakan produk ramah lingkungan dan terjamin keberlanjutannya. Saat

sekarang kapasitas produksi dengan bahan baku minyak sawit atau RBDPO

mencapai 3.000 barrel per hari. Ke depan akan ditingkatkan menjadi 6.000 barrel setiap harinya,” jelas Edy saat berada di Kilang Pertamina Cilacap.

Ia menambahkan, bahan baku tidak hanya dari CPO dan nantinya minyak

jelantah. Praktik ini semakin menegaskan kepedulian Pertamina

terhadap lingkungan hidup.

“Targetnya dari kapasitas 6.000 barrel per hari, bahan baku sawit dengan used cooking oil atau minyak jelantah 50-50. Untuk bahan baku sawit telah terpenuhi, tetapi yang menjadi tantangan adalah minyak jelantah. Kami akan bekerja sama dengan asosiasi pengepul minyak jelantah Indonesia untuk mencukupi kebutuhan bahan bakunya,” tambahnya.

Energi Terbarukan


Langkah Pertamina khususnya RU IV Cilacap tak sekadar meningkatkan

produk energi hijau, melainkan juga menciptakan pembangkit listrik ramah lingkungan. Salah satunya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Di sektor energi terbarukan ini, Kilang Pertamina Cilacap mengaplikasikan PLTS di beberapa tempat.

Sejak September 2021 lalu, PLTS terpasang dengan kapasitas 1,34 megawatt peak (MWp). PLTS tersebut menggunakan areal seluas 1,5 hektare (ha) dari kapasitas 1,34 MWp, yang tersebar untuk mencukupi kebutuhan di beberapa lokasi.

Di antaranya di RS Pertamina Cilacap dengan kapasitas paling

besar yakni 1,05 MWp. Sisanya berada di atap kompleks perumahan

Pertamina (Komperta) dan Gunung Simping. Selain itu, juga ada di atap

kompleks Head Office (HO) Kilang Pertamina Cilacap.

Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Kilang Pertamina

Internasional Unit Cilacap Cecep Supriyatna mengatakan dengan pemasangan PLTS tersebut dapat menghemat biaya kelistrikan setiap bulannya. “Jika dihitung-hitung, maka ada penghematan hingga Rp100 juta setiap bulannya.”

Tak hanya soal penghematan, yang tak kalah penting adalah mampu

menurunkan emisi. Pasalnya, dengan kapasitas 1,34 MWp maka ada penurunan konsumsi listrik hingga 14%. Hal itu setara dengan penyerapan CO2 sebesar 113 ton setiap bulannya atau sama dengan menanam pohon 2.370 batang.

Cecep mengatakan bahwa pengembangan energi terbarukan tidak hanya di

kawasan kilang saja, tetapi juga di kawasan Cilacap lain. Dengan

mengeluarkan dana CSR, Pertamina telah membangun Desa Mandiri Energi di

Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut melalui program

Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin (E Mas Bayu) dan Energi Mandiri

Tambak Ikan (E Mbak Mina).

“Program ini menjadi kebanggaan karena berhasil mengentaskan daerah

terpencil dengan mengoptimalkan tenaga surya dan angin. Dampak lain yang nyata adalah peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga

setempat,” ujarnya.

Pemanfaatan energi bersih juga dilakukan di Kampung Berkualitas (KB) Gadis, Kelurahan Tegalreja, Kecamatan Cilacap Selatan. Di kawasan setempat ada panel surya dengan kekuatan 1.000 watt peak (Wp).

Panel surya lainnya  berada di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos dengan kapasitas 900 Wp untuk menggerakkan pompa air.

Libatkan Masyarakat


Cecep menambahkan komitmen pengembangan energi baru terbarukan

melibatkan kampus atau akademisi dan masyarakat di lokasi instalasi

energi bersih. “Kami melibatkan masyarakat sekitar sekaligus

memberdayakan warga. Dengan instalasi energi bersih yang dibangun,

diharapkan bakal mampu meningkatkan perekonomian warga.”

Ditemui terpisah, tokoh pemuda Dusun Bondan, Muhammad Jamaludin atau

biasa dipanggil Jamal mengatakan sejak adanya pembangunan instalasi

energi terbarukan, maka wajah dusun dan ekonomi warga menjadi berubah.

“Awalnya dulu adalah teknologi hybrid energy one pole (Heop). Kemudian

dibangun pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) yakni penggabungan

antara sel surya dengan kincir angin. Kapasitasnya sekarang mencapai

16.200 Wp, sehingga mampu memenuhi kebutuhan kelistrikan 41 rumah. Warga hanya diwajibkan membayar iuran Rp25 ribu per bulan,” jelasnya.

Jamal mengatakan dengan energi terbarukan itulah, kini ada Sistem

Desalinasi Air Bersih Berbasis Masyarakat (Sidesi Mas). Sistem ini

merupakan alat pengolah air payau menjadi air tawar dan layak konsumsi.

“Sekarang yang terbaru adalah early warning system (EWS) banjir rob.

Dengan adanya alat itu, maka kami dapat mengantisipasi kemungkinan

terjadinya banjir rob, sehingga bisa menyelamatkan tambak ikan.

Inilah bentuk mitigasi,” kata dia.

Secara ekonomi, warga juga meningkat perekonomiannya. UMKM di Dusun

Bondang bersama Kelompok Ibu Mandiri (KIM) bisa mulai jalan.

Para ibu memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar Dusun Bondan. Karena berada di sekitar kawasan mangrove, perairan itu menjadi kaya akan udang, kepiting serta bandeng.

“UMKM di sini tak sekadar menjual udang, bandeng atau kepiting segar, tetapi juga makanan olahan. Para ibu jadi mendapatkan pemasukan melalui kegiatan usaha yang digelutinya,” jelas Jamal.

Sementara di Kelurahan Tegalreja, Kecamatan Cilacap Selatan, sejak ada

bantuan panel surya 1.000 Wp, warga menggunakannya untuk sumber energi

penggerak alat penyiram tanaman dan nutrisi hidroponik. Alat tersebut

dinamakan Eco Smart Green House yang diresmikan Menteri Lingkungan Hidup  dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Jumat (23/9) lalu.

Bagi Pertamina Kilang Cilacap, Eco Smart Green House merupakan legacy

keberlanjutan energi masa depan. Pertamina  mendorong akses energi

bersih berbasis masyarakat serta komitmen mendukung ESG (Environmental

Social and Governance).

Hal ini sebagai praktik bisnis yang mengintegrasikan kebijakan perusahaan selaras dengan keberlangsungan bumi dalam mendukung energi bersih.

“Dulu, kawasan ini boleh dibilang kumuh dan sering dipakai untuk tempat

mabuk-mabukan. Namun sekarang telah menjadi tempat bersih dan lokasi

budi daya sayuran hidroponik,” kata Ketua Kampung KB Gadis Muchlasin.

Pada 2021 lalu, kelurahan ini dinobatkan sebagai Kampung Proklim

Kategori Utama karena menjadi mengembangkan energi hijau dan budi daya

tanaman ramah lingkungan.

Sementara di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap, puluhan petani

mengakhiri cerita kekeringan ketika masuk musim kemarau. Mengapa? Kini, mereka sudah memiliki panel surya untuk mengoperasikan pompa air.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih Desa Kalijaran

Priyatno mengatakan para petani sangat terbantu dengan keberadaan solar

home system (SHS) yang merupakan bantuan Pertamina. “Karena di sini

merupakan sawah tadah hujan, dulu setiap kemarau, kami harus menyewa pompa hingga Rp2,5 juta untuk menyelamatkan padi,” katanya.

Tetapi, dengan adanya panel surya di sini, maka kelompok tani bakal bisa menghemat. Untuk mengairi 1 hektare sawah, hanya membutuhkan waktu

operasional pompa selama dua jam.

Jika untuk keperluan palawija, maka dapat mencapai 3 hektare. “Saat kemarau tiba, kami tidak bingung karena ada pompa penyedot air dari sumur yang dibuat sedalam 30 meter,” ungkap Priyatno.

Keuntungan petani juga terangkat. Sebab, dari lahan 1 ha, sekarang mereka bisa mengantongi hingga Rp13 juta atau naik Rp2,5 juta jika dibandingkan dengan menggunakan pompa air dengan BBM.

Pertamina RU IV Cilacap terus membuktikan komitmennya untuk terus

mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan agenda 2030,

sesuai tujuan 7 prioritas SDG’s yang dijalankan Pertamina yakni energi

bersih dan terjangkau. Ini juga dukungan kepada pemerintah yang

menargetkan mengurangi emisi sebanyak 314 juta ton setara CO2 (tCO2e)

pada 2030. (N-2)


Sumber: mediaindonesia.com