MICE  

Polres Tasikmalaya Usut Kematian Anak Berkebutuhan Khusus

Polres Tasikmalaya Usut Kematian Anak Berkebutuhan Khusus

SEORANG anak berkebutuhan khusus di Desa Sukaasih, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, meninggal tidak wajar. Kematiannya dilaporkan oleh tetangga korban.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, awal kasus ini terungkap saat adanya laporan dari tetangganya yang curiga anak berusia 10 tahun itu meninggal. Ketika memandikan jenazah, beberapa orang melihat di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka lebam.

“Kasus tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian dan ditindaklanjuti KPAID. Berdasarkan keterangan para saksi terdapat luka robek di bagian perut korban. Kepolisian melakukan pembongkaran makam untuk melakukan autopsi,” ujarnya Minggu (3/12).

Ato mengatakan, dalam proses, Kepolisian mengungkap dengan gamblang dan jelas bahwa kematian korban diduga terjadi karena penusukan. Namun, ibu dan bapak korban mengaku tidak tahu menahu.

“Orangtua korban sudah ditangkap. Kita masih menunggu proses hukum selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya Iptu Ridwan Budiarta mengatakan, hasil autopsi dari dokter forensik terhadap korban ditemukan ada beberapa luka yang tak wajar di tubuhnya. Ada luka semacam bekas tusukan di perut.

“Awalnya anak ini dirawat orangtua angkatnya selama 10 tahun, kemudian 8 bulan terakhir dirawat orangtua kandungnya. Dia meninggal Oktober lalu dan dimakamkan. Karena ada laporan dan kecurigaan, polisi mengusut kejadian ini,” lanjutnya.

Polisi sudah memeriksa 7 saksi, termasuk kedua orangtuanya. Keduanya hanya mengaku pernah mencubit sang anak sebelum meninggal, karena menolak makan.

“Kami telah menangkap kedua orangtua kandung korban. Kami masih mendalami kasusnya dan memeriksa mereka secara intensif,” ungkap Ridwan. (SG)

SEORANG anak berkebutuhan khusus di Desa Sukaasih, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, meninggal tidak wajar. Kematiannya dilaporkan oleh tetangga korban.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, awal kasus ini terungkap saat adanya laporan dari tetangganya yang curiga anak berusia 10 tahun itu meninggal. Ketika memandikan jenazah, beberapa orang melihat di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka lebam.

“Kasus tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian dan ditindaklanjuti KPAID. Berdasarkan keterangan para saksi terdapat luka robek di bagian perut korban. Kepolisian melakukan pembongkaran makam untuk melakukan autopsi,” ujarnya Minggu (3/12).

Ato mengatakan, dalam proses, Kepolisian mengungkap dengan gamblang dan jelas bahwa kematian korban diduga terjadi karena penusukan. Namun, ibu dan bapak korban mengaku tidak tahu menahu.

“Orangtua korban sudah ditangkap. Kita masih menunggu proses hukum selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya Iptu Ridwan Budiarta mengatakan, hasil autopsi dari dokter forensik terhadap korban ditemukan ada beberapa luka yang tak wajar di tubuhnya. Ada luka semacam bekas tusukan di perut.

“Awalnya anak ini dirawat orangtua angkatnya selama 10 tahun, kemudian 8 bulan terakhir dirawat orangtua kandungnya. Dia meninggal Oktober lalu dan dimakamkan. Karena ada laporan dan kecurigaan, polisi mengusut kejadian ini,” lanjutnya.

Polisi sudah memeriksa 7 saksi, termasuk kedua orangtuanya. Keduanya hanya mengaku pernah mencubit sang anak sebelum meninggal, karena menolak makan.

“Kami telah menangkap kedua orangtua kandung korban. Kami masih mendalami kasusnya dan memeriksa mereka secara intensif,” ungkap Ridwan. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com