MICE  

Pertumbuhan Transaksi Digital Asia-Pasifik Tertinggi

Danareksa Research Institute : Pertumbuhan Transaksi Digital Asia-Pasifik Tertinggi

Danareksa Research Institute (DRI) memandang bahwa pembayaran digital telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Inovasi teknologi pada sistem pembayaran memungkinkan konsumen untuk melakukan transaksi dengan lebih mudah dan cepat.

“Keamanan, kemudahan, dan aksesibilitas menjadi pendorong utama adopsi pembayaran digital. Pembayaran digital terus bergerak maju untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan efisien,” kata Chief Economist Danareksa Research Institute Rima Prama Artha, dalam risetnya, dikutip Sabtu (9/12).

Berbagai metode pembayaran non-cash saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dan berkembang di banyak negara seperti transfer antar bank, e-wallet, kartu kredit, paypal, direct debit, QR code, mobile banking, virtual account, dan rekening bersama.

“Penggunaan transaksi digital meningkat di berbagai negara. Sampai 2023, transaksi digital secara rata-rata tumbuh 15,68% per tahun dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan tertinggi terdapat di Asia-Pasifik yang tumbuh 32,81%,” kata Rima.

Ke depan, pertumbuhan transaksi digital diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 19,83% per tahun sampai dengan 2027.

Peningkatan transaksi digital utamanya terjadi sejak 2018. Peningkatan tersebut didorong oleh beberapa hal. Pertama, perkembangan teknologi dan peningkatan akses internet, sehingga transaksi digital lebih mudah diakses.

Kedua, pandemi Covid-19 yang mengubah pola konsumsi masyarakat dan mempercepat peralihan ke pembayaran digital.

Ketiga, dukungan regulasi dari Pemerintah, dimana beberapa negara mendorong penggunaan pembayaran digital dengan mengeluarkan regulasi dan memberikan insentif.

Dari data Statisa yang diolah DRI, persentase transaksi digital di Amerika Serikat sebesar 85,4% pada 2022, turun dari 87,6% pada 2021. Sedangkan persentase mobile payment di Tiongkok terpantau sebesar 87% pada 2021, naik dari 86% pada 2022.

“Ini mencakup pembayaran menggunakan kartu kredit, debit, e-wallet, dan buy now pay later (BNPL),” kata Rima.

Berdasarkan Global Payment Report 2023, tingginya persentase pembayaran digital didorong oleh penggunaan digital wallet yang mendominasi metode pembayaran belanja secara global, yang tercatat sebesar 32%. Namun persentasenya lebih tinggi lagi di kawasan Asia Pasifik (APAC) yaitu sebesar 47% pada 2022.

Penggunaan dompet digital diproyeksikan meningkat pesar terutama di Asia Pasific (APAC), yang akan mencapai 59% pada 2026, sedangkan di global diperkirakan akan mencapai 43%.

“Secara global, penggunaan uang cash masih cukup tinggi, 16% pada 2022, dan APAC 15%. Namun ini diproyeksikan menurun signifikan di 2026, yaitu masing-masing menjadi 10% dan 8%,” kata Rima.

Transaksi e-commerce

Transaksi e-commerce menjadi penyumbang besarnya transaksi dompet digital. Transaksi e-commerce diperkirakan tumbuh 11% sampai dengan 2026. Pertumbuhan tersebut sebagian besar dikontribusikan oleh negara berkembang di Asia.

Data Global Payment Report 2023 menyebut nilai transaksi e-commerce sekitar US$3.000 pada kawasan Asia Pasifik pada 2022, dan diperkirakan naik ke US$4.000 di 2026.

Pembayaran digital memberikan beberapa manfaat bagi masyarakat terutama pelaku usaha, yaitu efisiensi transaksi, meningkatkan proses transaksi keuangan karena proses settlement yang lebih cepat sehingga lebih efisien.

Kemudian terjadinya transparansi transaksi, memudahkan pelacakan transaksi. Hal ini juga membantu konsumen untuk

mengelola keuangan dengan lebih baik dan memungkinkan pelaku usaha untuk mengikuti jejak transaksi pelanggan.

Manfaat selanjutnya yaitu fleksibilitas transaksi, meningkatkan kenyamanan transaksi untuk dilakukan di manapun dan kapanpun, meluaskan jangkauan usaha, meningkatkan skala usaha karena pembayaran digital dapat digunakan untuk melakukan transaksi lintas batas/wilayah/negara dengan lebih mudah.

“Serta membantu pelaku usaha untuk meminimalkan kerugian, terutama akibat human error,” kata Rima.

Di Indonesia, pembayaran digital tumbuh signifikan, namun metode pembayaran belanja menggunakan cash masih mendominasi. Peningkatan transaksi digital meningkat signifikan sejak 2017 yang dipicu oleh kemunculan platform dompet digital.

Transaksi digital sebagian besar (65%) digunakan pada transaksi e-commerce. Sebagai informasi, transaksi e-commerce hanya mencakup 6% dari total transaksi belanja di Indonesia.

Metode pembayaran QRIS tumbuh pesat sejak efektif digunakan di Januari 2020. Data Bank Indonesia menyebut, sepanjang 2022, transaksi QR Indonesia Standard (QRIS) mencapai 1 triliun transaksi dengan nilai mencapai Rp100 triliun. Nilai transaksi tersebut tumbuh 262,68% dibandingkan 2021.

Pada Oktober 2023, nilai transaksi QRIS mencapai Rp24,97 triliun, dilakukan oleh 43,33 juta pengguna di 29,53 juta merchant/ toko. (Try/E-1)

Danareksa Research Institute (DRI) memandang bahwa pembayaran digital telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Inovasi teknologi pada sistem pembayaran memungkinkan konsumen untuk melakukan transaksi dengan lebih mudah dan cepat.

“Keamanan, kemudahan, dan aksesibilitas menjadi pendorong utama adopsi pembayaran digital. Pembayaran digital terus bergerak maju untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan efisien,” kata Chief Economist Danareksa Research Institute Rima Prama Artha, dalam risetnya, dikutip Sabtu (9/12).

Berbagai metode pembayaran non-cash saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dan berkembang di banyak negara seperti transfer antar bank, e-wallet, kartu kredit, paypal, direct debit, QR code, mobile banking, virtual account, dan rekening bersama.

“Penggunaan transaksi digital meningkat di berbagai negara. Sampai 2023, transaksi digital secara rata-rata tumbuh 15,68% per tahun dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan tertinggi terdapat di Asia-Pasifik yang tumbuh 32,81%,” kata Rima.

Ke depan, pertumbuhan transaksi digital diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 19,83% per tahun sampai dengan 2027.

Peningkatan transaksi digital utamanya terjadi sejak 2018. Peningkatan tersebut didorong oleh beberapa hal. Pertama, perkembangan teknologi dan peningkatan akses internet, sehingga transaksi digital lebih mudah diakses.

Kedua, pandemi Covid-19 yang mengubah pola konsumsi masyarakat dan mempercepat peralihan ke pembayaran digital.

Ketiga, dukungan regulasi dari Pemerintah, dimana beberapa negara mendorong penggunaan pembayaran digital dengan mengeluarkan regulasi dan memberikan insentif.

Dari data Statisa yang diolah DRI, persentase transaksi digital di Amerika Serikat sebesar 85,4% pada 2022, turun dari 87,6% pada 2021. Sedangkan persentase mobile payment di Tiongkok terpantau sebesar 87% pada 2021, naik dari 86% pada 2022.

“Ini mencakup pembayaran menggunakan kartu kredit, debit, e-wallet, dan buy now pay later (BNPL),” kata Rima.

Berdasarkan Global Payment Report 2023, tingginya persentase pembayaran digital didorong oleh penggunaan digital wallet yang mendominasi metode pembayaran belanja secara global, yang tercatat sebesar 32%. Namun persentasenya lebih tinggi lagi di kawasan Asia Pasifik (APAC) yaitu sebesar 47% pada 2022.

Penggunaan dompet digital diproyeksikan meningkat pesar terutama di Asia Pasific (APAC), yang akan mencapai 59% pada 2026, sedangkan di global diperkirakan akan mencapai 43%.

“Secara global, penggunaan uang cash masih cukup tinggi, 16% pada 2022, dan APAC 15%. Namun ini diproyeksikan menurun signifikan di 2026, yaitu masing-masing menjadi 10% dan 8%,” kata Rima.

Transaksi e-commerce

Transaksi e-commerce menjadi penyumbang besarnya transaksi dompet digital. Transaksi e-commerce diperkirakan tumbuh 11% sampai dengan 2026. Pertumbuhan tersebut sebagian besar dikontribusikan oleh negara berkembang di Asia.

Data Global Payment Report 2023 menyebut nilai transaksi e-commerce sekitar US$3.000 pada kawasan Asia Pasifik pada 2022, dan diperkirakan naik ke US$4.000 di 2026.

Pembayaran digital memberikan beberapa manfaat bagi masyarakat terutama pelaku usaha, yaitu efisiensi transaksi, meningkatkan proses transaksi keuangan karena proses settlement yang lebih cepat sehingga lebih efisien.

Kemudian terjadinya transparansi transaksi, memudahkan pelacakan transaksi. Hal ini juga membantu konsumen untuk

mengelola keuangan dengan lebih baik dan memungkinkan pelaku usaha untuk mengikuti jejak transaksi pelanggan.

Manfaat selanjutnya yaitu fleksibilitas transaksi, meningkatkan kenyamanan transaksi untuk dilakukan di manapun dan kapanpun, meluaskan jangkauan usaha, meningkatkan skala usaha karena pembayaran digital dapat digunakan untuk melakukan transaksi lintas batas/wilayah/negara dengan lebih mudah.

“Serta membantu pelaku usaha untuk meminimalkan kerugian, terutama akibat human error,” kata Rima.

Di Indonesia, pembayaran digital tumbuh signifikan, namun metode pembayaran belanja menggunakan cash masih mendominasi. Peningkatan transaksi digital meningkat signifikan sejak 2017 yang dipicu oleh kemunculan platform dompet digital.

Transaksi digital sebagian besar (65%) digunakan pada transaksi e-commerce. Sebagai informasi, transaksi e-commerce hanya mencakup 6% dari total transaksi belanja di Indonesia.

Metode pembayaran QRIS tumbuh pesat sejak efektif digunakan di Januari 2020. Data Bank Indonesia menyebut, sepanjang 2022, transaksi QR Indonesia Standard (QRIS) mencapai 1 triliun transaksi dengan nilai mencapai Rp100 triliun. Nilai transaksi tersebut tumbuh 262,68% dibandingkan 2021.

Pada Oktober 2023, nilai transaksi QRIS mencapai Rp24,97 triliun, dilakukan oleh 43,33 juta pengguna di 29,53 juta merchant/ toko. (Try/E-1)

 

Sumber: mediaindonesia.com