MICE  

Pentingnya Menginventarisir Biota Laut yang Dilindungi

Pentingnya Menginventarisir Biota Laut yang Dilindungi

Sebagai bagian dari upaya konservasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang (Loka PSPL Serang), Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut melakukan Penyediaan Data Informasi Jenis Ikan Dilindungi/Terancam Punah. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi LPSPL Serang yang termasuk pada Pelaksanaan konservasi habitat, jenis, dan genetik ikan dan Pelaksanaan pemantauan lalu lintas perdagangan jenis ikan yang dilindungi.

Selama tahun 2023, penyediaan data ini dilaksanakan di DKI Jakarta dan Cilacap untuk jenis hiu dan pari, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, dan Ngambur, Lampung untuk jenis penyu, dan Kabupaten Kaur, Bengkulu untuk jenis sidat. Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan rekomendasi Rencana Aksi Nasional.

“Penyediaan data ini penting dilakukan, karena khususnya hiu, pari, dan sidat data tersebut bisa menjadi data dukung penentuan kuota pengambilan alam. Ini sangat berkaitan dengan perdagangan jenis ikan dilindungi, bahkan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) akan meminta data ini juga.” ujar Santoso Budi Widiarto, Kepala Loka PSPL Serang, dalam keterangan resminya mengenai evaluasi akhir kegiatan enumerasi, Kamis (28/12)

Masa pendataan yang dilaksanakan untuk masing-masing jenis berbeda, ini berdasarkan waktu puncak tertinggi kemunculan jenis tersebut. Jenis hiu dan pari hampir selalu ditemukan di setiap bulannya, maka khusus hiu dan pari dilaksanakan selama 11 bulan, yaitu dimulai sejak Februari sampai dengan Desember. Sedangkan jenis sidat dan penyu di Bantul, dimulai selama enam bulan, sejak bulan April hingga bulan September. Terakhir, pendataan penyu di Ngambur dilaksanakan mulai bulan Juni sampai bulan November.

Pada setiap awal bulan, dilakukan evaluasi hasil enumerasi bulan sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung melalui daring, agar semua pegawai dari satuan kerja LPSPL Serang bisa hadir dan ikut mereview hasil pendataannya. Pada forum tersebut, para enumerator mengumpulkan laporan dan menyampaikan bahan paparan mereka masing-masing.

Dari hasil penyediaan data penyu selama enam bulan di Bantul, misalnya, penyu lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan jenis terbanyak yang ditemukan, yaitu sebanyak tujuh kali. Kemudian terdapat jenis penyu hijau (chelonia mydas) sebanyak dua kali, dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) satu kali. Sedangkan telur paling banyak ditemukan pada Mei, mencapai 1.409 butir, dan menetas paling banyak di bulan Juni, yaitu 568 butir. Dari keseluruhan, keberhasilan penetasan yang didapat dari lokasi Bantul dinilai cukup tinggi.

Di Ngambur, jenis penyu yang ditemukan hanyalah penyu lekang dan penyu hijau. Pendaratan penyu ditemukan sebanyak delapan kali dengan jumlah telur terbanyak di bulan Oktober, mencapai 290 butir dan jumlah tukik yang berhasil hidup paling tinggi sejumlah 120 ekor pada bulan Agustus.

Menurut Hasni, enumerator penyu di Ngambur, setiap tahunnya terdapat penurunan jumlah penyu mendarat dan bertelur di daerah Pesisir Barat, ini dikarenakan maraknya nelayan penangkap lobster yang menggunakan lampu terang di sepanjang pantai dekat lokasi pendaratan. Sementara penyu sangat sensitif terhadap cahaya. (M-3)

Sebagai bagian dari upaya konservasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang (Loka PSPL Serang), Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut melakukan Penyediaan Data Informasi Jenis Ikan Dilindungi/Terancam Punah. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi LPSPL Serang yang termasuk pada Pelaksanaan konservasi habitat, jenis, dan genetik ikan dan Pelaksanaan pemantauan lalu lintas perdagangan jenis ikan yang dilindungi.

Selama tahun 2023, penyediaan data ini dilaksanakan di DKI Jakarta dan Cilacap untuk jenis hiu dan pari, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, dan Ngambur, Lampung untuk jenis penyu, dan Kabupaten Kaur, Bengkulu untuk jenis sidat. Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan rekomendasi Rencana Aksi Nasional.

“Penyediaan data ini penting dilakukan, karena khususnya hiu, pari, dan sidat data tersebut bisa menjadi data dukung penentuan kuota pengambilan alam. Ini sangat berkaitan dengan perdagangan jenis ikan dilindungi, bahkan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) akan meminta data ini juga.” ujar Santoso Budi Widiarto, Kepala Loka PSPL Serang, dalam keterangan resminya mengenai evaluasi akhir kegiatan enumerasi, Kamis (28/12)

Masa pendataan yang dilaksanakan untuk masing-masing jenis berbeda, ini berdasarkan waktu puncak tertinggi kemunculan jenis tersebut. Jenis hiu dan pari hampir selalu ditemukan di setiap bulannya, maka khusus hiu dan pari dilaksanakan selama 11 bulan, yaitu dimulai sejak Februari sampai dengan Desember. Sedangkan jenis sidat dan penyu di Bantul, dimulai selama enam bulan, sejak bulan April hingga bulan September. Terakhir, pendataan penyu di Ngambur dilaksanakan mulai bulan Juni sampai bulan November.

Pada setiap awal bulan, dilakukan evaluasi hasil enumerasi bulan sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung melalui daring, agar semua pegawai dari satuan kerja LPSPL Serang bisa hadir dan ikut mereview hasil pendataannya. Pada forum tersebut, para enumerator mengumpulkan laporan dan menyampaikan bahan paparan mereka masing-masing.

Dari hasil penyediaan data penyu selama enam bulan di Bantul, misalnya, penyu lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan jenis terbanyak yang ditemukan, yaitu sebanyak tujuh kali. Kemudian terdapat jenis penyu hijau (chelonia mydas) sebanyak dua kali, dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) satu kali. Sedangkan telur paling banyak ditemukan pada Mei, mencapai 1.409 butir, dan menetas paling banyak di bulan Juni, yaitu 568 butir. Dari keseluruhan, keberhasilan penetasan yang didapat dari lokasi Bantul dinilai cukup tinggi.

Di Ngambur, jenis penyu yang ditemukan hanyalah penyu lekang dan penyu hijau. Pendaratan penyu ditemukan sebanyak delapan kali dengan jumlah telur terbanyak di bulan Oktober, mencapai 290 butir dan jumlah tukik yang berhasil hidup paling tinggi sejumlah 120 ekor pada bulan Agustus.

Menurut Hasni, enumerator penyu di Ngambur, setiap tahunnya terdapat penurunan jumlah penyu mendarat dan bertelur di daerah Pesisir Barat, ini dikarenakan maraknya nelayan penangkap lobster yang menggunakan lampu terang di sepanjang pantai dekat lokasi pendaratan. Sementara penyu sangat sensitif terhadap cahaya. (M-3)

Sumber: mediaindonesia.com