MICE  

Pemulung Diberi Pelatihan Antisipasi Kabakaran di TPA

Pemulung Diberi Pelatihan Antisipasi Kabakaran di TPA

SEBANYAK 300 pemulung mengikuti pelatihan Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang, Banten, Senin (15/1). Para pemulung diberi pemahaman mengenai pencegahan kebakaran di TPA tersebut.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), didukung oleh Pemerintah Kota Tangerang, dan produsen air mineral dalam kemasan, Danone Aqua Indonesia.

Ketua Umum IPI Pris Polly Lengkong menjelaskan, pelatihan ini dilatari oleh peristiwa terbakarnya TPA Rawa Kucing pada 20 Oktober 2023. Ketika itu, sekitar 80% dari 34 hektare luas TPA tersebut, termasuk bangunan gudang timbang, terbakar.

“Agar peristiwa kebakaran itu tidak terulang, para pemulung diberi pelatihan tentang K3 dan pencegahan terhadap kebakaran,” kata Pris sapaan akrab Pris Polly Lengkong.

Dalam pelatihan tersebut, para pemulung diberi pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana mengantisipasi dan mencegah terjadinya kebakaran di TPA, seperti tidak merokok di area TPA. Mereka juga harus menjaga keselamatan diri dengan menggunakan perlengkapan kerja yang memadai.

“Kami membagikan alat pelindung diri (APD) dan sepatu boot kepada para pemulung ,agar mereka lebih terlindungi ketika bekerja. Kami berharap pelatihan ini dapat berdampak pada kesejahteraan pemulung,” kata Pris.

Di TPA Rawa Kucing ada sekitar 400 pemulung yang menggantungkan hidupnya dari sampah. Mereka bekerja memilah sampah lalu menjual hasil pilahannya ke pelapak. Padahal Pemerintah punya perangkat TPS3R yang seharusnya pemilahan dilakukan di tingkat ini.

“Tapi sistem yang dibangun Pemerintah kurang maksimal, sehingga masih banyak yang bocor ke TPA, kebocoran itulah yang dimanfaatkan pemulung dengan cara memilah sampah,” kata Pris.

TPA Rawa Kucing di desa Neglasari, Kota Tangerang yang berberoperasi sejak 1992 dikelola oleh Pemerintah Kota Tangerang. TPA seluas 34 hektare ini sejatinya hanya dapat menampung 900–1.000 ton per hari. Tapi saat ini, sampah yang dibuang ke sana mencapai 1.400 ton per hari.

Sarni, 42, pemulung yang juga anggota IPI. menyatakan terima kasih atas pelatihan dan pemberian bantuan APD. “Sepatu ini akan saya pakai agar tidak kena beling, paku, atau kutu air,” kata dia.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pengolahan Sampah DLH Kota Tangerang, Iwan, mengapreasi pemulung di TPA Rawa Kucing yang telah membantu mengurangi sampah di TPA. “Saya berharap pemulung ikut menjaga keamanan dan ketertiban di TPA Rawa Kucing, terutama dari bahaya kebakaran, misalnya tidak merokok di TPA,” kata Iwan.

Sementara itu, Senior Manager Packaging Circularity Danone Indonesia Jeffri Ricardo, mengatakan Edukasi ini penting untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan pemulung. Pihaknya terus berupaya meningkatkan jumlah pasokan kemasan plastik paska konsumsi untuk didaur ulang.

“IPI dengan jaringan pemulung merupakan salah satu rantai pasok untuk meningkatkan daur ulang kemasan plastik dan mendorong percepatan ekonomi sirkular,” kata Jeffri. (RO/J-1)

SEBANYAK 300 pemulung mengikuti pelatihan Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang, Banten, Senin (15/1). Para pemulung diberi pemahaman mengenai pencegahan kebakaran di TPA tersebut.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Ikatan Pemulung Indonesia (IPI),  didukung oleh Pemerintah Kota Tangerang, dan produsen air mineral dalam kemasan, Danone Aqua Indonesia.

Ketua Umum IPI Pris Polly Lengkong menjelaskan, pelatihan ini dilatari oleh peristiwa terbakarnya TPA Rawa Kucing pada 20 Oktober 2023. Ketika itu, sekitar 80% dari 34 hektare luas TPA tersebut, termasuk bangunan gudang timbang, terbakar.

 

“Agar peristiwa kebakaran itu tidak terulang, para pemulung diberi pelatihan tentang K3 dan pencegahan terhadap kebakaran,” kata Pris sapaan akrab Pris Polly Lengkong.

Dalam pelatihan tersebut, para pemulung diberi pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana mengantisipasi dan mencegah terjadinya kebakaran di TPA, seperti tidak merokok di area TPA. Mereka juga harus menjaga keselamatan  diri dengan menggunakan perlengkapan kerja yang memadai.

“Kami membagikan alat pelindung diri (APD) dan sepatu boot kepada para pemulung ,agar mereka lebih terlindungi ketika  bekerja. Kami berharap pelatihan ini dapat berdampak pada kesejahteraan pemulung,” kata Pris.

Di TPA Rawa Kucing ada sekitar 400 pemulung yang menggantungkan hidupnya dari sampah. Mereka bekerja memilah sampah lalu menjual hasil pilahannya ke pelapak. Padahal Pemerintah punya perangkat TPS3R yang seharusnya pemilahan dilakukan di tingkat ini.

“Tapi sistem yang dibangun Pemerintah kurang maksimal, sehingga masih banyak yang bocor ke TPA, kebocoran itulah yang dimanfaatkan pemulung dengan cara memilah sampah,” kata Pris.   

TPA Rawa Kucing di desa Neglasari, Kota Tangerang yang berberoperasi sejak 1992 dikelola oleh Pemerintah Kota Tangerang. TPA seluas 34 hektare ini sejatinya hanya dapat menampung  900–1.000 ton per hari. Tapi saat ini,  sampah yang dibuang ke sana mencapai 1.400 ton per hari.

Sarni, 42, pemulung yang juga anggota IPI. menyatakan terima kasih  atas pelatihan dan pemberian bantuan APD.  “Sepatu ini akan saya pakai agar tidak kena beling, paku, atau kutu air,” kata dia.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pengolahan Sampah DLH Kota Tangerang, Iwan, mengapreasi pemulung di TPA Rawa Kucing yang telah membantu mengurangi sampah di TPA.  “Saya berharap pemulung ikut menjaga keamanan dan ketertiban di TPA Rawa Kucing, terutama dari bahaya kebakaran, misalnya tidak merokok di TPA,” kata Iwan.

Sementara itu, Senior Manager Packaging Circularity Danone Indonesia Jeffri Ricardo, mengatakan Edukasi ini penting untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan pemulung. Pihaknya terus berupaya meningkatkan jumlah pasokan kemasan plastik paska konsumsi untuk didaur ulang.

“IPI dengan jaringan pemulung merupakan salah satu rantai pasok untuk meningkatkan daur ulang kemasan plastik dan mendorong percepatan ekonomi sirkular,” kata  Jeffri. (RO/J-1)

 

Sumber: mediaindonesia.com