MICE  

Pemikiran Denny JA Mazhab Baru Sosiologi Agama

Pemikiran Denny JA Mazhab Baru Sosiologi Agama

GAGASAN Denny JA tentang agama sebagai warisan kultural bersama dapat dipandang sebagai mazhab baru dalam sosiologi agama. Demikian dikatakan Ahmad Gaus dalam diskusi buku ‘Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google” yang diadakan Laboratorium Fisip Universitas Bangka Belitung (UBB), Kamis, (14/12).

Selain Gaus, tampil pula sebagai narasumber Michael Jeffri S, dosen Sosiologi UBB, dan Rozi, dosen Agama Islam UBB sebagai moderator. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dan berlangsung di Balai Besar Peradaban itu dibuka oleh Wakil Dekan FISIP dan Abdul Fatah, Kepala Laboratorium FISIP.

Menurut Gaus, Denny JA menawarkan paradigma yang utuh mengenai cara beragama di era baru yang ia sebut sebagai Era Google. Cara beragama di era Google jelas berbeda dengan cara beragama di era sebelumnya. Sebab Google mengubur realitas lama, melahirkan realitas baru. Dan agama harus menyesuaikan diri.

Sebagai sebuah paradigma, ungkapnya, pandangan Denny JA menawarkan cara pandang yang sama sekali berbeda dengan cara pandang yang pernah ada dalam sejarah perjumpaan agama-agama. Cara pandang lama mengedepankan agama sebagai kebenaran mutlak. Masing-masing agama mengklaim keselamatan sebagai miliknya sendiri. Di luar agama mereka semuanya sesat dan masuk neraka.

Cara pandang lama seperti ini, lanjut Gaus, kini telah mengalami anomali. Ia tidak bisa lagi menjelaskan realitas di era Google yang memberi tempat kepada semua tradisi keimanan untuk muncul dan menegaskan diri dengan dukungan nilai-nilai baru seperti toleransi, kesetaraan, kebebasan dan hak asasi manusia. “Saat ini yang paling cocok dengan era sekarang ialah pandangan Denny JA, yang menarik agama dari wilayah dogma yang tertutup ke ranah budaya yang terbuka,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa selama ini agama dilihat sebagai sesuatu yang multak, final, dan tidak dapat berubah. Maka kehidupan beragama menjadi kaku. Bahkan agama menjadi mudah ditransformasikan menjadi kekuatan konfliktual.

“Sebaliknya, pandangan Denny JA membuat wajah agama menjadi lebih humanis. Ini yang relevan untuk kehidupan beragama saat ini,” imbuh Gaus lagi.

Sementara itu Michael Jeffri mengatakan gagasan Denny JA menawarkan jalan baru. Gagasan itu mempertemukan segala sesuatu yang dulu dianggap berbeda, ternyata sebenarnya tidak.

Menurut Jeffri, pemikiran Denny JA menerobos pemahaman umum yang meyakini agama sebagai milik komunal. Padahal banyak nilai-nilai agama yang bisa di-share dan diperjuangkan bersama seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, perdamaian, dan lain sebagainya. “Dengan pemahaman seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa agama memang warisan kultural milik bersama,” pungkasnya. (RO/R-2)

GAGASAN Denny JA tentang agama sebagai warisan kultural bersama dapat dipandang sebagai mazhab baru dalam sosiologi agama. Demikian dikatakan Ahmad Gaus dalam diskusi buku ‘Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google” yang diadakan Laboratorium Fisip Universitas Bangka Belitung (UBB), Kamis, (14/12).

Selain Gaus, tampil pula sebagai narasumber Michael Jeffri S, dosen Sosiologi UBB, dan Rozi, dosen Agama Islam UBB sebagai moderator. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dan berlangsung di Balai Besar Peradaban itu dibuka oleh Wakil Dekan FISIP dan Abdul Fatah, Kepala Laboratorium FISIP.

Menurut Gaus, Denny JA menawarkan paradigma yang utuh mengenai cara beragama di era baru yang ia sebut sebagai Era Google. Cara beragama di era Google jelas berbeda dengan cara beragama di era sebelumnya. Sebab Google mengubur realitas lama, melahirkan realitas baru. Dan agama harus menyesuaikan diri.

Sebagai sebuah paradigma, ungkapnya, pandangan Denny JA menawarkan cara pandang yang sama sekali berbeda dengan cara pandang yang pernah ada dalam sejarah perjumpaan agama-agama. Cara pandang lama mengedepankan agama sebagai kebenaran mutlak. Masing-masing agama mengklaim keselamatan sebagai miliknya sendiri. Di luar agama mereka semuanya sesat dan masuk neraka.

Cara pandang lama seperti ini, lanjut Gaus, kini telah mengalami anomali. Ia  tidak bisa lagi menjelaskan realitas di era Google yang memberi tempat kepada semua tradisi keimanan untuk muncul dan menegaskan diri dengan dukungan nilai-nilai baru seperti toleransi, kesetaraan, kebebasan dan hak asasi manusia. “Saat ini yang paling cocok dengan era sekarang ialah pandangan Denny JA, yang menarik agama dari wilayah dogma yang tertutup ke ranah budaya yang terbuka,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa selama ini agama dilihat sebagai sesuatu yang multak, final, dan tidak dapat berubah. Maka kehidupan beragama menjadi kaku. Bahkan agama menjadi mudah ditransformasikan menjadi kekuatan konfliktual.

“Sebaliknya, pandangan Denny JA membuat wajah agama menjadi lebih humanis. Ini yang relevan untuk kehidupan beragama saat ini,” imbuh Gaus lagi.

Sementara itu Michael Jeffri mengatakan gagasan Denny JA menawarkan jalan baru.  Gagasan itu mempertemukan segala sesuatu yang dulu dianggap berbeda, ternyata sebenarnya tidak.

Menurut Jeffri, pemikiran Denny JA menerobos pemahaman umum yang meyakini agama sebagai milik komunal. Padahal banyak nilai-nilai agama yang bisa di-share dan diperjuangkan bersama seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, perdamaian, dan lain sebagainya.  “Dengan pemahaman seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa agama memang warisan kultural milik bersama,” pungkasnya. (RO/R-2)

Sumber: mediaindonesia.com