MICE  

Pameran Tiga Hari, Mengenang Karya Tjutju Widjaja

Pameran Tiga Hari, Mengenang Karya Tjutju Widjaja

UNTUK mengenang satu tahun kepergian seniman perempuan asal Kota Bandung Tjutju Widjaja, diadakan pameran dalam karya dan karsa melalui pendidikan seni dan sosial. Pemeran yang berlangsung 5-7 Desember di Intercontinental Bandung Dago itu juga bertujuan mengenali dan mengenang kembali identitas mendiang Tjutju Widjaja.

Peristiwa pertemuan dan presentasi sederhana, mengenai karya-karya dan
kiprah kerja Tjutju Widjaja adalah sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara untuk mengenang kepergiannya, seratus hari lalu.

Kegiatan ini juga ditujukan sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan pameran tunggal mendiang Tjutju Widjaja di d-Gallerie Jakarta pada awal 2024 nanti.

Persiapan rencana penyelenggaraan pameran tunggal di Jakarta
itu sebelumnya telah dilakukan alhmarhumah secara gigih dan penuh
semangat. Namun Tuhan memiliki rencana yang lain.

Kini persiapan serta penyelenggaraan kegiatan pameran yang telah dikerjakan lebih dari 50% itu akan dilanjutkan oleh pihak keluarga
bersama dengan d-Gallerie.

John Baraguna yang mewakili pihak keluarga mengatakan, bagi warga,
komunitas pendidikan, serta komunitas seni dan budaya di Kota Bandung,
sosok mendiang Tjutju Widjaja adalah figur istimewa yang tak pernah
berhenti memberikan contoh dan teladan. Sebagian dari catatan dan
dokumentasi tentang karya dan karsanya turut ditampilkan.

Peristiwa peringatan ini, tidak semata-mata dinyatakan sebagai cara
untuk mengingat saja. Namun yang lebih penting justru menjadikannya sebagai momen untuk terus menghidupkan inisiatif, usaha, tindakan, serta pengorbanan yang telah dia berikan, menjadi gerak kemajuan seni dan budaya di Kota Bandung.

“Sebagai figur seorang ibu dan nenek, almarhumah terus berupaya untuk
menghidupkan sikap penghargaan dirinya pada masalah-masalah perempuan
dan anak-anak. Beberapa periode dari ekspresi lukisan-lukisannya
mengangkat tema kepedulian pada masa kini dan masa depan kaum perempuan
serta anak-anak,” ujarnya.

Di Kota Bandung, kata John, tidak sedikit pihak yang memiliki pengalaman keterlibatan secara langsung dan khusus, dengan berbagai gagasan pentingnya. Setiap orang bisa memiliki sudut padang penilaian
yang khusus dan berbeda.

Semua kisah pengalaman maupun sikap penghargaan yang dinyatakan oleh publik Bandung, baginya akan menjadi bahan catatan dan informasi penting untuk pihak keluarga serta menjadi bagian dari gagasan pendirian Museum Tjutju Widjaya di Kota Bandung.

“Hal penting lainnya adalah upaya untuk menghidupkan gagasan kekaryaan
dan seni yang dirintis mendiang Tjutju Widjaya di bidang seni rupa.
Untuk dikukuhkan sebagai seorang pelukis, beliau menempuh jenjang
pendidikan formal seni rupa, hingga mencapai jenjang tingkat yang
tertinggi. Bergerak dari pendekatan kecenderungan realis,” jelas John.

Menurut dia, almarhumah Tjutju Widjaja telah melakukan eksporasi,
kemungkinan ekspresi yang mampu terus menghidupkan tradisi seni lukis
realisme ke dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer. Tentu tidak
mudah, namun karya-karya yang telah diciptakannya mampu memberikan
tawaran estetis yang berarti, tidak hanya bagi perkembangan seni lukis
di Bandung tetapi juga bagi seni rupa Indonesia.

Periode akhir dari karya-karyanya ialah kecenderungan ekspresi seni yang mengambil inspirasi dari tradisi seni kaligrafi China. Kecenderungan ini pula yang dibawa dalam proyek karya-karya tugas akhirnya di jenjang doktoral.

Sementara itu, General Manager InterContinental Bandung Dago Pakar, Pascal Caubo, mengatakan, kerja sama ini merupakan bentuk kepedulian InterContinental Bandung Dago Pakar terhadap seni, pendidikan, dan sosial di Kota Bandung.

Diharapkan dengan kepedulian ini, warga Kota Bandung dapat menjaga kelestarian karya-karya dari seniman lokal Bandung, terutama seniman perempuan.

“Dukungan penuh yang kami berikan terhadap seniman lokal Bandung, Karya
dan Karsa, diharapkan dapat dinikmati oleh publik selama tiga hari. Rangkaian Karya & Karsa ini dapat dikunjungi di Intercontinental Bandung Dago Pakar,” tambahnya. (SG)

UNTUK mengenang satu tahun kepergian seniman perempuan asal Kota Bandung Tjutju Widjaja, diadakan pameran dalam karya dan karsa melalui pendidikan seni dan sosial. Pemeran yang berlangsung 5-7 Desember di  Intercontinental Bandung Dago itu juga bertujuan mengenali dan mengenang kembali identitas mendiang Tjutju Widjaja.

Peristiwa pertemuan dan presentasi sederhana, mengenai karya-karya dan

kiprah kerja Tjutju Widjaja adalah sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara untuk mengenang kepergiannya, seratus hari lalu.

Kegiatan ini juga ditujukan sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan pameran tunggal mendiang Tjutju Widjaja di d-Gallerie Jakarta pada awal 2024 nanti.

Persiapan rencana penyelenggaraan pameran tunggal di Jakarta

itu sebelumnya telah dilakukan alhmarhumah secara gigih dan penuh

semangat. Namun Tuhan memiliki rencana yang lain.

Kini persiapan serta penyelenggaraan kegiatan pameran yang telah dikerjakan lebih dari 50% itu akan dilanjutkan oleh pihak keluarga  

bersama dengan d-Gallerie.

John Baraguna yang mewakili pihak keluarga mengatakan, bagi warga,

komunitas pendidikan, serta komunitas seni dan budaya di Kota Bandung,

sosok mendiang Tjutju Widjaja adalah figur istimewa yang tak pernah

berhenti memberikan contoh dan teladan. Sebagian dari catatan dan

dokumentasi tentang karya dan karsanya turut ditampilkan.

 

Peristiwa peringatan ini, tidak semata-mata dinyatakan sebagai cara

untuk mengingat saja. Namun yang lebih penting justru menjadikannya sebagai momen untuk terus menghidupkan inisiatif, usaha, tindakan, serta pengorbanan yang telah dia berikan, menjadi gerak kemajuan seni dan budaya di Kota Bandung.

“Sebagai figur seorang ibu dan nenek, almarhumah terus berupaya untuk

menghidupkan sikap penghargaan dirinya pada masalah-masalah perempuan

dan anak-anak. Beberapa periode dari ekspresi lukisan-lukisannya

mengangkat tema kepedulian pada masa kini dan masa depan kaum perempuan

serta anak-anak,” ujarnya.

Di Kota Bandung, kata John, tidak sedikit pihak yang memiliki pengalaman keterlibatan secara langsung dan khusus, dengan berbagai gagasan pentingnya. Setiap orang bisa memiliki sudut padang penilaian

yang khusus dan berbeda.

Semua kisah pengalaman maupun sikap penghargaan yang dinyatakan oleh publik Bandung, baginya akan menjadi bahan catatan dan informasi penting untuk pihak keluarga serta menjadi bagian dari gagasan pendirian Museum Tjutju Widjaya di Kota Bandung.

“Hal penting lainnya adalah upaya untuk menghidupkan gagasan kekaryaan

dan seni yang dirintis mendiang Tjutju Widjaya di bidang seni rupa.

Untuk dikukuhkan sebagai seorang pelukis, beliau menempuh jenjang

pendidikan formal seni rupa, hingga mencapai jenjang tingkat yang

tertinggi. Bergerak dari pendekatan kecenderungan realis,” jelas John.

Menurut dia, almarhumah Tjutju Widjaja telah melakukan eksporasi,

kemungkinan ekspresi yang mampu terus menghidupkan tradisi seni lukis

realisme ke dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer. Tentu tidak

mudah, namun karya-karya yang telah diciptakannya mampu memberikan

tawaran estetis yang berarti, tidak hanya bagi perkembangan seni lukis

di Bandung tetapi juga bagi seni rupa Indonesia.

Periode akhir dari karya-karyanya ialah kecenderungan ekspresi seni yang mengambil inspirasi dari tradisi seni kaligrafi China. Kecenderungan ini pula yang dibawa dalam proyek karya-karya tugas akhirnya di jenjang doktoral.

Sementara itu, General Manager InterContinental Bandung Dago Pakar, Pascal Caubo, mengatakan, kerja sama ini merupakan bentuk kepedulian InterContinental Bandung Dago Pakar terhadap seni, pendidikan, dan sosial di Kota Bandung.

Diharapkan dengan kepedulian ini, warga Kota Bandung dapat menjaga kelestarian karya-karya dari seniman lokal Bandung, terutama seniman perempuan.

“Dukungan penuh yang kami berikan terhadap seniman lokal Bandung, Karya

dan Karsa, diharapkan dapat dinikmati oleh publik selama tiga hari. Rangkaian Karya & Karsa ini dapat dikunjungi di Intercontinental Bandung Dago Pakar,” tambahnya. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com