MICE  

Merawat Nurani

Merawat Nurani

SEMOGA sepanjang hari ini cerah. Kalaupun turun hujan, cukuplah gerimis, tidak perlu pakai angin ribut, badai petir, dan banjir segala. Bikin repot. Itu doa saya di akhir pekan ini. Jika hari cerah, bukan hanya asyik untuk berolahraga dan berkumpul bersama keluarga, melainkan juga tenang untuk beribadah, terutama bagi saudara-saudari kita umat Nasrani.

Ini malam Natal. Konon, malam ini, berabad silam di Kota Betlehem, yang kini berada di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel, Yesus lahir. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada perayaan apa-apa di sana. Padahal, selama Desember, kota itu biasanya ramai dengan ribuan peziarah dan wisatawan. Namun, yang ada kini hanya rombongan pengungsi akibat aksi brutal Israel yang terus berlanjut di Gaza.

Jalanan dan halaman rumah di Betlehem sebagian besar kini sepi. Itu saya baca di sejumlah media, termasuk Al-Jazeera. Serdadu Israel, katanya, menutup akses menuju kota tersebut. Mereka juga menggerebek rumah warga, yang tak jarang disertai dengan kekerasan. Gereja-gereja di seluruh Palestina membatalkan semua perayaan Natal sebagai ekspresi solidaritas untuk Gaza. Mereka hanya menggelar kebaktian dan doa dalam suasana prihatin.

Sejumlah tokoh dan para pemimpin dunia, termasuk Paus Fransiskus, berulang kali telah menyerukan agar kekerasan di Gaza dihentikan. Namun, dasar pasukan Zionis ndablek, mereka bergeming dan patuh pada Netanyahu yang enggak tahu malu.

Yesus pun kira-kira lahir dalam zaman krisis seperti itu ketika agama, moral, dan etika diremehkan. Kaum ningrat Yahudi menindas rakyat kecil dan hidup sak enake dewe alias sesukanya. Boleh dibilang, Yesus datang ketika akhlak di kalangan kaum elite morat-marit dan rakyat dilanda kebingungan.

Betapa sering sejarah mengulang diri. Itu sekarang terjadi di mana-mana, dari Gaza, Ukraina, hingga Afrika. Di Indonesia, saya yakin rakyat juga bingung karena sebagian elite ada juga yang miskin akhlak, meski bergelimang harta. Mereka yang seharusnya menjadi penegak hukum, misalnya, malah seenaknya menekak-nekuk hukum. Mereka yang semestinya memberantas korupsi, malah diduga ikutan korup.

Kita semua tentu prihatin, tapi enggak usah bingung. Sebagai orang yang beriman, tetaplah rajin berdoa sembari merawat hati nurani agar tidak ikut-ikutan terdistorsi. Semoga negeri ini dikaruniai pemimpin yang berakhlak, jangan seperti Netanyahu atau elite-elite itu, yang tidak tahu malu. Selamat Hari Raya Natal. Semoga Tuhan senantiasa melindung dan memberkati. Wasalam.

SEMOGA sepanjang hari ini cerah. Kalaupun turun hujan, cukuplah gerimis, tidak perlu pakai angin ribut, badai petir, dan banjir segala. Bikin repot. Itu doa saya di akhir pekan ini. Jika hari cerah, bukan hanya asyik untuk berolahraga dan berkumpul bersama keluarga, melainkan juga tenang untuk beribadah, terutama bagi saudara-saudari kita umat Nasrani.

Ini malam Natal. Konon, malam ini, berabad silam di Kota Betlehem, yang kini berada di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel, Yesus lahir. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada perayaan apa-apa di sana. Padahal, selama Desember, kota itu biasanya ramai dengan ribuan peziarah dan wisatawan. Namun, yang ada kini hanya rombongan pengungsi akibat aksi brutal Israel yang terus berlanjut di Gaza.

Jalanan dan halaman rumah di Betlehem sebagian besar kini sepi. Itu saya baca di sejumlah media, termasuk Al-Jazeera. Serdadu Israel, katanya, menutup akses menuju kota tersebut. Mereka juga menggerebek rumah warga, yang tak jarang disertai dengan kekerasan. Gereja-gereja di seluruh Palestina membatalkan semua perayaan Natal sebagai ekspresi solidaritas untuk Gaza. Mereka hanya menggelar kebaktian dan doa dalam suasana prihatin.

Sejumlah tokoh dan para pemimpin dunia, termasuk Paus Fransiskus, berulang kali telah menyerukan agar kekerasan di Gaza dihentikan. Namun, dasar pasukan Zionis ndablek, mereka bergeming dan patuh pada Netanyahu yang enggak tahu malu. 

Yesus pun kira-kira lahir dalam zaman krisis seperti itu ketika agama, moral, dan etika diremehkan. Kaum ningrat Yahudi menindas rakyat kecil dan hidup sak enake dewe alias sesukanya. Boleh dibilang, Yesus datang ketika akhlak di kalangan kaum elite morat-marit dan rakyat dilanda kebingungan. 

Betapa sering sejarah mengulang diri. Itu sekarang terjadi di mana-mana, dari Gaza, Ukraina, hingga Afrika. Di Indonesia, saya yakin rakyat juga bingung karena sebagian elite ada juga yang miskin akhlak, meski bergelimang harta. Mereka yang seharusnya menjadi penegak hukum, misalnya, malah seenaknya menekak-nekuk hukum. Mereka yang semestinya memberantas korupsi, malah diduga ikutan korup.

Kita semua tentu prihatin, tapi enggak usah bingung. Sebagai orang yang beriman, tetaplah rajin berdoa sembari merawat hati nurani agar tidak ikut-ikutan terdistorsi. Semoga negeri ini dikaruniai pemimpin yang berakhlak, jangan seperti Netanyahu atau elite-elite itu, yang tidak tahu malu. Selamat Hari Raya Natal. Semoga Tuhan senantiasa melindung dan memberkati. Wasalam.

Sumber: mediaindonesia.com