MICE  

Menyulam Inspirasi dengan Kepemimpinan Transformatif

Menyulam Inspirasi dengan Kepemimpinan Transformatif

“SEMAKIN dekat apa yang dibicarakan dan apa yang diperbuat, maka orang akan semakin terhormat, konsisten, dan berintegritas,” ucap Bima Arya, Wali Kota Bogor, dalam Talkshow Semifinalis Mojang Jajaka Kota Bogor 2023, beberapa waktu lalu.

Kalimat tersebut merupakan jawaban dari sang wali kota ketika ditanya mengenai kepemimpinan transformasional yang dia terapkan dalam membangun Kota Bogor. Di sisi lain, ada sosok pemimpin yang pernah menempati posisi ketiga dari kategori Wali Kota terbaik versi The World Mayor Foundation 2015, yakni Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya 2010–2020.

Karena keberhasilannya dalam membawa Kota Surabaya menuju perubahan, ia pun didapuk menjadi Menteri Sosial RI pada akhir 2020. Lalu, apakah benar bahwa Bima dan Risma sudah dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang transformatif?

Kepemimpinan transformasional dimaknai sebagai model kepemimpinan yang mengindikasikan bahwa sang pemimpin mampu mentransformasikan ide perubahan yang visioner. Selain itu mampu memengaruhi anggota organisasinya untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Hal itu tentu memerlukan kekuatan visi dan misi serta nilai-nilai yang dianut oleh pemimpin organisasi tersebut. Karena ia diharuskan untuk menggeser nilai-nilai lama, khususnya yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Catatan perubahan

Pada 10 tahun lalu, Kementerian Perhubungan merilis data bahwa Kota Bogor, Jawa Barat merupakan kota termacet di Indonesia. Merespons data tersebut, Bima menyampaikan bahwa saat itu infrastruktur di Kota Bogor masih semrawut dan tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduknya.

Hal itu juga diperparah dengan lokasi kota yang didominasi tempat wisata. Dampaknya banyak pendatang dari luar Bogor yang membuat jalanan semakin macet.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pada 2016 Bima mengeluarkan kebijakan rekayasa lalu lintas, yaitu penerapan sistem satu arah (SSA) di sekitar kawasan Kebun Raya Bogor sesuai dengan arah jarum jam. Persoalan kemacetan jelas memerlukan solusi yang signifikan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sifat kepemimpinan transformasional Bima dapat dilihat dari keberaniannya mengambil kebijakan SSA. Pasalnya hal itu tentu akan berdampak pada perubahan secara drastis bagi masyarakat Kota Bogor.

Tak hanya berhenti di penerapan SSA, kebijakan tersebut juga diiringi dengan penerapan sterilisasi jalur kendaraan dari pedagang kaki lima (PKL), perluasan pedestrian, hingga pembuatan shelter Trans Pakuan jalur tengah.

Di sisi lain, ia juga berhasil menerapkan tata kelola kota yang baru dengan meredistribusi fungsi setiap bagian kota. Kebijakan redistribusi fungsi ini mengindikasikan ia tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga memperbaiki struktur dan sistem mendasar dari permasalahan yang ada.

Hal itu juga sejalan dengan program non motorized vehicle bagi warga atau pengunjung yang ingin keliling kota tanpa kendaraan. Mereka bisa menggunakan sepeda atau berjalan kaki di area pedestrian yang sudah diperluas, sehingga mampu mendukung kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan di Kota Bogor.

Hasilnya, pada awal 2022 Global Traffic Scorecard merilis data kota termacet di dunia berdasarkan lama waktu tempuh. Kota Bogor berada di urutan kelima sebagai kota termacet di Indonesia setelah Surabaya, Jakarta, Denpasar, dan Malang.

Mengusung konsep ‘Bogor Berlari’, sang wali kota meyakini bahwa membangun kota bukan hanya memerlukan kecepatan, melainkan juga filosofi dan strategi yang tepat. Peluncuran maskot RuBo (Rusa Bogor) sebagai brand ambassador sebagai hasil survei terhadap 3.169 responden (81% warga Bogor dan 19% warga luar Bogor), mencerminkan sikap kepemimpinan transformasional.

Pekerjaan rumah

Namun demikian masih terdapat beberapa pekerjaan rumah bagi Bima. Salah satu yang menjadi fokus utama masyarakat adalah kegagalan dia dalam memberantas kecurangan sistem zonasi pada PPDB di Kota Bogor.

Kecurangan dalam sistem zonasi di Kota Bogor sudah marak terjadi sejak tahun pertama penerapan sistem tersebut. Membentuk tim khusus dan terjun langsung menyelesaikan masalah, tak juga ada titik terang. Bahkan kasus serupa terulang pada PPDB 2023.

Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan koordinasi yang kuat antara institusi pendidikan, kepolisian, hingga masyarakat. Tujuannya menciptakan strategi holistik dalam memberantas kecurangan sistem zonasi di Kota Bogor.

Langkah kontroversial

Selain Bima, Indonesia juga memiliki sosok pemimpin transformatif yang bahkan sudah diakui dunia, yakni Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya yang menjabat selama 10 tahun. Salah satu perubahan besar yang berhasil dilakukannya ialah pembangunan 573 taman di sekitar Kota Surabaya.

Dengan kebijakannya itu ruang terbuka hijau (RTH) Kota Surabaya mencapai lebih dari 7.356,24 hektare. Pembangunan RTH itu tak serta merta dilakukan saat ia menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Risma sebelumnya merupakan Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Kota Surabaya. Hal ini tentu mendorongnya untuk terus membangun taman di Kota Surabaya dengan berbagai tema dan luas yang berbeda-beda.

Langkah yang terbilang kontroversial Risma ialah penutupan Gang Dolly, lokasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Pada proses penutupannya, ia bersama pihak kepolisian selalu dihadang oleh warga setempat yang menolak penutupan tersebut. Namun, dengan kegigihannya, tempat itu pun berhasil ditutup pada Juni 2014.

Risma tidak hanya mengubah tata ruang melalui pembangunan RTH, tetapi juga membawa dedikasi dari pengalaman karirnya. Transformasi ini mencerminkan kemampuan seorang pemimpin transformatif untuk mengaplikasikan keahliannya, dalam rangka mencapai tujuan besar dan positif bagi masyarakat.

Menutup Gang Dolly menegaskan kepemimpinan transformatifnya yang berani dan gigih, demi menjaga moralitas dan integritas kota hingga menghasilkan dampak positif jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa pemimpin transformatif tidak hanya peduli pada pencapaian populis, tetapi juga pada kepentingan moral dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Catatan pekerjaan rumah

Di balik berbagai keberhasilannya, Risma tentu memiliki beberapa ‘pekerjaan rumah’ yang dianggap masih perlu diperbaiki untuk bisa mengembangkan kiprahnya sebagai pemimpin yang transformasional. Salah satu hal yang kerap disorot masyarakat adalah tindakan dominasinya yang berpotensi merugikan proses regenerasi pemimpin di Kota Surabaya.

Hal ini juga didukung oleh kemampuan berkomunikasi dia yang dinilai kurang baik. Salah satu kejadian yang membuat masyarakat menilai buruknya kemampuan berkomunikasi Risma adalah ketika kejadian rusaknya Taman Bungkul. Di kejadian tersebut, ia tidak segan mengeluarkan kata-kata kasar dan mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, Risma dapat memberikan para calon pemimpin muda ruang untuk berkembang sehingga tidak terjadi dominasi yang berlebihan. Pemberian peluang kepada generasi muda ini dapat memastikan proses regenerasi kepemimpinan di Kota Surabaya berjalan lancar dan berkesinambungan.

Selain itu, dia juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasinya melalui pelatihan atau pendampingan khusus. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara pemimpin dan masyarakat serta menghindari kontroversi yang dapat merugikan citra kepemimpinan.

Inspirasi kepemimpinan transformasional

Kedua pemimpin daerah tersebut memiliki komitmen kuat untuk membangun kota yang dinaunginya. Berbagai inovasi Bima dan Risma lakukan demi merubah pola pikir masyarakat melalui pembuatan kebijakan publik agar bisa maju bersama dengan pemerintah setempat.

Tingginya komitmen dan gencarnya inovasi yang dilakukan mampu membangun sistem birokrasi yang baik, sehingga mampu menimbulkan kepercayaan penuh dari masyarakat. Hal ini mencerminkan karakteristik pemimpin yang transformasional.

“SEMAKIN dekat apa yang dibicarakan dan apa yang diperbuat, maka orang akan semakin terhormat, konsisten, dan berintegritas,” ucap Bima Arya, Wali Kota Bogor, dalam Talkshow Semifinalis Mojang Jajaka Kota Bogor 2023, beberapa waktu lalu.

Kalimat tersebut merupakan jawaban dari sang wali kota ketika ditanya mengenai kepemimpinan transformasional yang dia terapkan dalam membangun Kota Bogor. Di sisi lain, ada sosok pemimpin yang pernah menempati posisi ketiga dari kategori Wali Kota terbaik versi The World Mayor Foundation 2015, yakni Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya 2010–2020.

Karena keberhasilannya dalam membawa Kota Surabaya menuju perubahan, ia pun didapuk menjadi Menteri Sosial RI pada akhir 2020. Lalu, apakah benar bahwa Bima dan Risma sudah dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang transformatif?

Kepemimpinan transformasional dimaknai sebagai model kepemimpinan yang mengindikasikan bahwa sang pemimpin mampu mentransformasikan ide perubahan yang visioner. Selain itu mampu memengaruhi anggota organisasinya untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Hal itu tentu memerlukan kekuatan visi dan misi serta nilai-nilai yang dianut oleh pemimpin organisasi tersebut. Karena ia diharuskan untuk menggeser nilai-nilai lama, khususnya yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Catatan perubahan

Pada 10 tahun lalu, Kementerian Perhubungan merilis data bahwa Kota Bogor, Jawa Barat merupakan kota termacet di Indonesia. Merespons data tersebut, Bima menyampaikan bahwa saat itu infrastruktur di Kota Bogor masih semrawut dan tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduknya.

Hal itu juga diperparah dengan lokasi kota yang didominasi tempat wisata. Dampaknya banyak pendatang dari luar Bogor yang membuat jalanan semakin macet.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pada 2016 Bima mengeluarkan kebijakan rekayasa lalu lintas, yaitu penerapan sistem satu arah (SSA) di sekitar kawasan Kebun Raya Bogor sesuai dengan arah jarum jam. Persoalan kemacetan jelas memerlukan solusi yang signifikan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sifat kepemimpinan transformasional Bima dapat dilihat dari keberaniannya mengambil kebijakan SSA. Pasalnya hal itu tentu akan berdampak pada perubahan secara drastis bagi masyarakat Kota Bogor.

Tak hanya berhenti di penerapan SSA, kebijakan tersebut juga diiringi dengan penerapan sterilisasi jalur kendaraan dari pedagang kaki lima (PKL), perluasan pedestrian, hingga pembuatan shelter Trans Pakuan jalur tengah.

Di sisi lain, ia juga berhasil menerapkan tata kelola kota yang baru dengan meredistribusi fungsi setiap bagian kota. Kebijakan redistribusi fungsi ini mengindikasikan ia tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga memperbaiki struktur dan sistem mendasar dari permasalahan yang ada.

Hal itu juga sejalan dengan program non motorized vehicle bagi warga atau pengunjung yang ingin keliling kota tanpa kendaraan. Mereka bisa menggunakan sepeda atau berjalan kaki di area pedestrian yang sudah diperluas, sehingga mampu mendukung kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan di Kota Bogor.

Hasilnya, pada awal 2022 Global Traffic Scorecard merilis data kota termacet di dunia berdasarkan lama waktu tempuh. Kota Bogor berada di urutan kelima sebagai kota termacet di Indonesia setelah Surabaya, Jakarta, Denpasar, dan Malang.

Mengusung konsep ‘Bogor Berlari’, sang wali kota meyakini bahwa membangun kota bukan hanya memerlukan kecepatan, melainkan juga filosofi dan strategi yang tepat. Peluncuran maskot RuBo (Rusa Bogor) sebagai brand ambassador sebagai hasil survei terhadap 3.169 responden (81% warga Bogor dan 19% warga luar Bogor), mencerminkan sikap kepemimpinan transformasional.

Pekerjaan rumah

Namun demikian masih terdapat beberapa pekerjaan rumah bagi Bima. Salah satu yang menjadi fokus utama masyarakat adalah kegagalan dia dalam memberantas kecurangan sistem zonasi pada PPDB di Kota Bogor.

Kecurangan dalam sistem zonasi di Kota Bogor sudah marak terjadi sejak tahun pertama penerapan sistem tersebut. Membentuk tim khusus dan terjun langsung menyelesaikan masalah, tak juga ada titik terang. Bahkan kasus serupa terulang pada PPDB 2023.

Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan koordinasi yang kuat antara institusi pendidikan, kepolisian, hingga masyarakat. Tujuannya menciptakan strategi holistik dalam memberantas kecurangan sistem zonasi di Kota Bogor.

Langkah kontroversial

Selain Bima, Indonesia juga memiliki sosok pemimpin transformatif yang bahkan sudah diakui dunia, yakni Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya yang menjabat selama 10 tahun. Salah satu perubahan besar yang berhasil dilakukannya ialah pembangunan 573 taman di sekitar Kota Surabaya.

Dengan kebijakannya itu ruang terbuka hijau (RTH) Kota Surabaya mencapai lebih dari 7.356,24 hektare. Pembangunan RTH itu tak serta merta dilakukan saat ia menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Risma sebelumnya merupakan Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Kota Surabaya. Hal ini tentu mendorongnya untuk terus membangun taman di Kota Surabaya dengan berbagai tema dan luas yang berbeda-beda.

Langkah yang terbilang kontroversial Risma ialah penutupan Gang Dolly, lokasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Pada proses penutupannya, ia bersama pihak kepolisian selalu dihadang oleh warga setempat yang menolak penutupan tersebut. Namun, dengan kegigihannya, tempat itu pun berhasil ditutup pada Juni 2014.

Risma tidak hanya mengubah tata ruang melalui pembangunan RTH, tetapi juga membawa dedikasi dari pengalaman karirnya. Transformasi ini mencerminkan kemampuan seorang pemimpin transformatif untuk mengaplikasikan keahliannya, dalam rangka mencapai tujuan besar dan positif bagi masyarakat.

Menutup Gang Dolly menegaskan kepemimpinan transformatifnya yang berani dan gigih, demi menjaga moralitas dan integritas kota hingga menghasilkan dampak positif jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa pemimpin transformatif tidak hanya peduli pada pencapaian populis, tetapi juga pada kepentingan moral dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Catatan pekerjaan rumah

Di balik berbagai keberhasilannya,  Risma tentu memiliki beberapa ‘pekerjaan rumah’ yang dianggap masih perlu diperbaiki untuk bisa mengembangkan kiprahnya sebagai pemimpin yang transformasional. Salah satu hal yang kerap disorot masyarakat adalah tindakan dominasinya yang berpotensi merugikan proses regenerasi pemimpin di Kota Surabaya.

Hal ini juga didukung oleh kemampuan berkomunikasi dia yang dinilai kurang baik. Salah satu kejadian yang membuat masyarakat menilai buruknya kemampuan berkomunikasi Risma adalah ketika kejadian rusaknya Taman Bungkul. Di kejadian tersebut, ia tidak segan mengeluarkan kata-kata kasar dan mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, Risma dapat memberikan para calon pemimpin muda ruang untuk berkembang sehingga tidak terjadi dominasi yang berlebihan. Pemberian peluang kepada generasi muda ini dapat memastikan proses regenerasi kepemimpinan di Kota Surabaya berjalan lancar dan berkesinambungan.

Selain itu, dia juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasinya melalui pelatihan atau pendampingan khusus. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara pemimpin dan masyarakat serta menghindari kontroversi yang dapat merugikan citra kepemimpinan.

Inspirasi kepemimpinan transformasional

Kedua pemimpin daerah tersebut memiliki komitmen kuat untuk membangun kota yang dinaunginya. Berbagai inovasi Bima dan Risma lakukan demi merubah pola pikir masyarakat melalui pembuatan kebijakan publik agar bisa maju bersama dengan pemerintah setempat.

Tingginya komitmen dan gencarnya inovasi yang dilakukan mampu membangun sistem birokrasi yang baik, sehingga mampu menimbulkan kepercayaan penuh dari masyarakat. Hal ini mencerminkan karakteristik pemimpin yang transformasional.

Sumber: mediaindonesia.com