MICE  

Menteri Kesehatan G20 Sepakati Enam Aksi Pencegahan Pandemi

PERTEMUAN Menteri Kesehatan (2nd HMM) negara anggota G20 di Bali berakhir hari ini. Para menteri sepakat merealisasikan arsitektur kesehatan global dalam enam aksi.

Enam tindakan utama tersebut, pertama, pembentukan gugus tugas gabungan keuangan dan kesehatan dengan mengajak negara G20 mencapai Dana Perantara Keuangan untuk Pandemi (Financial Intermediary Fund/FIF).

 

Kedua, adalah regulasi yang jelas tentang tata cara akses penggunaan dan ketersediaan dana FIF untuk menghadapi pandemi di masa depan.

 

Ketiga, adalah pengembangan pada sektor pengawasan genomik yang bisa membuka jalan untuk mengawasi dan mencegah potensi pandemi.

 

Keempat, berhubungan dengan sistem sertifikat perjalanan digital yang mencantumkan data vaksin dan informasi kesehatan pelaku perjalanan internasional untuk saling berkolaborasi melakukan pengawasan importasi penyakit menular.

 

Kelima, adalah kesepakatan melakukan analisa dan pemetaan dari riset, penelitian, dan jaringan laboratorium untuk pemerataan akses layanan kesehatan.

 

“Keenam, G20 bidang kesehatan melihat adanya tindakan yang jelas untuk meningkatkan pendanaan penanggulangan tuberkulosis dan inisiatif kesehatan terpadu dan ajakan tindakan penyempurnaan dalam kapasitas untuk mencegah, mendeteksi dan menanggapi kekebalan antibiotik,” terang Menkes Budi Gunadi Sadikin, Jumat (28/10).

Kesepakatan itu tidak jauh dari hasil mufakat yang dicapai di hari sebelumnya yang menghasilkan kelima deliverables sebagai upaya pencegahan, persiapan, dan respons menghadapi pandemi berikutnya.

Yang pertama, terang Menkes, adalah penguatan dukungan atas pendirian pendirian FIF. Pada 1 Juli 2022, Dewan Direksi Bank Dunia (World Bank) menyetujui pembentukan FIF dan telah resmi beroperasi sejak pertemuan 1st FIF Governing Board, 8-9 September 2022.

“Pembentukan FIF adalah salah satu terobosan bersejarah Presidensi G20 Indonesia bidang kesehatan. FIF akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas global untuk pencegahan, persiapan dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang,” kata Budi.

Sebagai contoh, sahut dia, dana ini dapat digunakan untuk riset dan produksi vaksin dan obat serta perlengkapan kesehatan.

Kedua, lanjut Menkes, adanya arahan terhadap struktur mobilisasi sumber daya esensial kesehatan. Ketiga, Penguatan surveillance, termasuk genomic surveillance, serta memberikan arahan untuk platform kerja sama berbagi data patogen untuk kesiapsiagaan dan penanganan pendemik yang lebih baik.

Keempat, penguatan dukungan adanya platform bersama dalam menghubungkan berbagai sistem digital sertifikasi dokumen kesehatan, termasuk vaksin dan hasil diagnostik guna memfasilitasi pergerakan orang dan barang.

“Hal ini diharapkan dapat mendorong pulihnya situasi ekonomi dan sosial di berbagai sektor,” ujarnya.

Kelima, memperluas pusat penelitian dan manufaktur global. Perluasan ini diharapkan dapat membuat negara-negara khususnya negara low middle income memilki akses yang lebih baik terhadap vaksinasi, pengobatan, dan diagnostik.

Dari pertemuan kedua HMM ini, diharapkan menghasilkan keberhasilan Indonesia dan negara G20 di bidang kesehatan dalam hal penguatan arsitektur kesehatan untuk penguatan kesiapsiagaan serta respons pandemi yang lebih baik.

Forum ini diikuti oleh 190 delegasi dari negara anggota G20 dan negara maju lainnya seperti Singapura, Uni emirates Arab, Swiss, Belanda, dan perwakilan dari beberapa negara mewakili regional seperti ASEAN, Pacific Island Forum, African Union, Caribbean Community, dan NEPAD.

Diundang juga organisasi internasional terkait seperti WHO, World Bank, GAVI, CEPI, Global Fund, OECD dan lainnya untuk memberikan masukan atau pengayaan terhadap isu prioritas G20 di bidang Kesehatan. (H-2)


Sumber: mediaindonesia.com