MICE  

Menghargai Nyawa

Menghargai Nyawa

SELAIN konflik di Gaza serta serangan Amerika Serikat (AS) dan Inggris terhadap pejuang Houthi di Yaman, sebenarnya ada berita yang tak kalah ‘mengerikan’ yang terjadi di sepanjang pekan kemarin, yakni lepasnya salah satu penutup jendela pesawat milik maskapai Alaska Airlines. Pesawat yang sedang terbang di atas udara Oregon, menuju Ontario, California, AS, itu pun segera mendarat darurat di Portland.

Beruntung, dalam insiden yang terjadi pada 5 Januari itu semua penumpang yang berjumlah 177 orang berikut kru pesawat selamat. Bisa dibayangkan kengerian yang dialami mereka berada di pesawat jenis Boeing 737 Max 9 itu. Di atas ketinggian sekian ribu kaki, tiba-tiba panel jendela terlepas dan udara di luar segera menyeruak masuk. Dari video yang beredar, para penumpang terlihat mengenakan masker oksigen yang otomatis keluar dari atas masing-masing tempat duduk.

Sungguh sukar dipercaya, peristiwa yang selama ini mungkin hanya kita saksikan di film-film produksi Hollywood, ternyata sungguhan terjadi. Kepada BBC, salah seorang penumpang bahkan menggambarkan insiden itu sebagai perjalanan ke neraka. Beruntung dalam penerbangan itu tidak ada penumpang yang duduk dekat jendela yang copot tersebut.

Sehari selang peristiwa itu, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mela rang sementara (meng-grounded) tiga pesawat Boeing 737 Max 9 milik Lion Air untuk beroperasi. Langkah itu ditempuh setelah pihak Kemenhub berkoordinasi dengan Federal Aviation Administration (FAA) AS Regional Asia-Pacifi c, pihak Boeing, serta Lion Air sebagai maskapai nasional yang menggunakan pesawat jenis tersebut. Tindakan serupa pernah dilakukan Kemenhub pada 2019 terhadap pesawat Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia, menyusul kecelakaan pesawat sejenis di Ethiopia.

Tindakan sigap seperti itu penting untuk menghindari kejadian serupa. Dari penyelidikan awal yang dilakukan FAA, termasuk terhadap sejumlah pesawat sejenis lainnya, diketahui banyak baut yang kendur atau tidak terpasang sebagaimana mestinya. “Insiden ini seharusnya tidak pernah terjadi dan tidak boleh terjadi lagi,” sebut badan penerbangan AS itu, dalam pernyataannya, Kamis (11/1). Regulator transportasi AS telah melarang terbang 171 pesawat 737 Max 9 dengan konfi gurasi yang sama dengan jet yang terlibat dalam insiden yang terjadi pekan lalu.

Pihak Boeing melalui CEO-nya, Dave Calhoun, meng akui kesalahan dan berjanji akan terbuka terkait dengan hasil penyelidikan. Pihak Alaska Airlines untuk sementara juga telah mengandangkan 65 pesawat sejenis untuk diperiksa ulang. Ben Minicucci, CEO maskapai itu, mengatakan setiap pesawat akan kembali beroperasi jika selesai dilakukan pemeliharaan menyeluruh dan inspeksi keselamatan.

Peristiwa itu tentunya patut jadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk para pengelola sektor transportasi di Indonesia untuk lebih memperhatikan kualitas mutu armada mereka. Bukan hanya pesawat udara, melainkan juga bus, kereta api, kapal laut, dan moda transportasi massal lainnya. Bayangkan, perkara satu baut kecil yang kendur, bisa mengganggu serta berakibat fatal dan menghilangkan ratusan nyawa. Itu juga harus jadi perhatian masyarakat untuk mematuhi setiap aturan atau tata tertib yang berlaku dalam setiap moda transportasi, misalnya, penggunaan ponsel di pesawat ataupun memindahkan pelampung di kapal laut.

Keselamatan transportasi tentunya bukan semata tanggung jawab Kemenhub, melainkan juga para stakeholder lainnya, terutama para operator angkutan. Menurut sejumlah analis penerbangan, insiden yang terjadi pada Boeing 737 Max 9, diduga bukan lantaran desain pesawat tersebut cacat, melainkan lebih kepada lemahnya manajemen quality control.

Oleh karena itu, pemeriksaan rutin berkala menjadi hal mendasar yang penting dilakukan semua operator angkutan, baik darat, laut, maupun udara. Aktivitas itu tidak boleh dianggap sebagai rutinitas yang membosankan dan dilakukan sambil lalu. Justru itu menjadi salah satu bagian penting dalam dunia transportasi. Keselamatan masyarakat, terutama penumpang, harus ditempatkan di atas segalanya karena nyawa begitu berharga.

SELAIN konflik di Gaza serta serangan Amerika Serikat (AS) dan Inggris terhadap pejuang Houthi di Yaman, sebenarnya ada berita yang tak kalah ‘mengerikan’ yang terjadi di sepanjang pekan kemarin, yakni lepasnya salah satu penutup jendela pesawat milik maskapai Alaska Airlines. Pesawat yang sedang terbang di atas udara Oregon, menuju Ontario, California, AS, itu pun segera mendarat darurat di Portland.

Beruntung, dalam insiden yang terjadi pada 5 Januari itu semua penumpang yang berjumlah 177 orang berikut kru pesawat selamat. Bisa dibayangkan kengerian yang dialami mereka berada di pesawat jenis Boeing 737 Max 9 itu. Di atas ketinggian sekian ribu kaki, tiba-tiba panel jendela terlepas dan udara di luar segera menyeruak masuk. Dari video yang beredar, para penumpang terlihat mengenakan masker oksigen yang otomatis keluar dari atas masing-masing tempat duduk.

Sungguh sukar dipercaya, peristiwa yang selama ini mungkin hanya kita saksikan di film-film produksi Hollywood, ternyata sungguhan terjadi. Kepada BBC, salah seorang penumpang bahkan menggambarkan insiden itu sebagai perjalanan ke neraka. Beruntung dalam penerbangan itu tidak ada penumpang yang duduk dekat jendela yang copot tersebut.

Sehari selang peristiwa itu, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mela rang sementara (meng-grounded) tiga pesawat Boeing 737 Max 9 milik Lion Air untuk beroperasi. Langkah itu ditempuh setelah pihak Kemenhub berkoordinasi dengan Federal Aviation Administration (FAA) AS Regional Asia-Pacifi c, pihak Boeing, serta Lion Air sebagai maskapai nasional yang menggunakan pesawat jenis tersebut. Tindakan serupa pernah dilakukan Kemenhub pada 2019 terhadap pesawat Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia, menyusul kecelakaan pesawat sejenis di Ethiopia.

Tindakan sigap seperti itu penting untuk menghindari kejadian serupa. Dari penyelidikan awal yang dilakukan FAA, termasuk terhadap sejumlah pesawat sejenis lainnya, diketahui banyak baut yang kendur atau tidak terpasang sebagaimana mestinya. “Insiden ini seharusnya tidak pernah terjadi dan tidak boleh terjadi lagi,” sebut badan penerbangan AS itu, dalam pernyataannya, Kamis (11/1). Regulator transportasi AS telah melarang terbang 171 pesawat 737 Max 9 dengan konfi gurasi yang sama dengan jet yang terlibat dalam insiden yang terjadi pekan lalu.

Pihak Boeing melalui CEO-nya, Dave Calhoun, meng akui kesalahan dan berjanji akan terbuka terkait dengan hasil penyelidikan. Pihak Alaska Airlines untuk sementara juga telah mengandangkan 65 pesawat sejenis untuk diperiksa ulang. Ben Minicucci, CEO maskapai itu, mengatakan setiap pesawat akan kembali beroperasi jika selesai dilakukan pemeliharaan menyeluruh dan inspeksi keselamatan.

Peristiwa itu tentunya patut jadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk para pengelola sektor transportasi di Indonesia untuk lebih memperhatikan kualitas mutu armada mereka. Bukan hanya pesawat udara, melainkan juga bus, kereta api, kapal laut, dan moda transportasi massal lainnya. Bayangkan, perkara satu baut kecil yang kendur, bisa mengganggu serta berakibat fatal dan menghilangkan ratusan nyawa. Itu juga harus jadi perhatian masyarakat untuk mematuhi setiap aturan atau tata tertib yang berlaku dalam setiap moda transportasi, misalnya, penggunaan ponsel di pesawat ataupun memindahkan pelampung di kapal laut.

Keselamatan transportasi tentunya bukan semata tanggung jawab Kemenhub, melainkan juga para stakeholder lainnya, terutama para operator angkutan. Menurut sejumlah analis penerbangan, insiden yang terjadi pada Boeing 737 Max 9, diduga bukan lantaran desain pesawat tersebut cacat, melainkan lebih kepada lemahnya manajemen quality control.

Oleh karena itu, pemeriksaan rutin berkala menjadi hal mendasar yang penting dilakukan semua operator angkutan, baik darat, laut, maupun udara. Aktivitas itu tidak boleh dianggap sebagai rutinitas yang membosankan dan dilakukan sambil lalu. Justru itu menjadi salah satu bagian penting dalam dunia transportasi. Keselamatan masyarakat, terutama penumpang, harus ditempatkan di atas segalanya karena nyawa begitu berharga.

Sumber: mediaindonesia.com