MICE  

Mengasah Kembali Kilau Seni Logam Afrika

Mengasah Kembali Kilau Seni Logam Afrika

Bulan lalu, UNESCO menetapkan seni logam Afrika sebagai warisan budaya takbenda. Namun, meskipun seni ini mendapat pengakuan di luar negeri, para perajin lokal menyesalkan bahwa seni ukir logam ini masih kurang dihargai di dalam negeri dan kurang mendapat dukungan dari pemerintah.

“Penetapan oleh UNESCO membuat kami berkomitmen untuk melestarikan pengetahuan luar biasa ini,” kata Imed Soula, seorang seniman logam asal Tunisia yang membantu memperjuangkan ukiran tersebut dinominasikan dalam daftar tersebut.

Menurut Soula para perajin lokal terinspirasi oleh nilai estetika, agama, dan budaya masyarakat mereka ketika menciptakan karya yang sangat indah ini. “Saya tidak ingin tradisi ini hilang. Saya khawatir suatu hari nanti tidak akan ada yang meneruskan tradisi ini,” kata Mohamed Amine Htiouich, seorang seniman lainnya.

Htiouich mulai mengasah keterampilan mengukir logamnya saat remaja. Kini pria Tunisia berusia 37 tahun itu sedang melatih generasi berikutnya mengenai tradisi kuno ini.

Htiouich pertama kali mengerjakan tembaga, kemudian perak dan akhirnya emas di bengkel keluarganya.

Dua dekade kemudian, ia menawarkan magang gratis kepada para anak-anak muda untuk belajar seni logam ini untuk membuat perhiasan dan benda-benda rumah tangga.

Hal yang sama juga dilakukan Chiheb Eddine Ben Jabballah. Di bengkelnya di pinggiran kota Den Den di Tunis, ia sering mengajarkan kerajinan tangan kepada perempuan yang ingin membuat perhiasan atau keranjang dengan ornamen tembaga yang dipahat.

Pria berusia 68 tahun yang juga mengepalai Kadin Tunisia ini telah melatih ratusan perajin selama selama lima dekade kariernya.

Namun, dia mengatakan, masa magang seringkali terlalu singkat, hanya berlangsung selama tiga bulan. “Diperlukan setidaknya dua tahun untuk mempelajari semua teknik mengukir,” jelasnya tentang kerajinan yang berasal dari bangsa Kartago tersebut.

Beragamnya teknik ini berasal dari percampuran peradaban Islam dan tradisi Mediterania, serta warisan penduduk asli Amazigh dan pengaruh Timur Jauh.

Meski bangga dengan profesinya, Ben Jabballah menyesalkan profesinya yang kurang dihargai di dalam negeri.

Di Maroko, perajin Abdelilah Mounir yakin penunjukan UNESCO terhjadap seni logam Afrika akan membantu industri pariwisata dan sektor perekonomian lainnya.

“Ini adalah publisitas internasional yang bagus, terutama bagi yang menjual barang-barang tembaga di kota Fez di bagian utara,” ujarnya.

Namun, bagi Mohamed Moumni, seorang pembuat perhiasan dari Kota Sale di barat laut, permintaan terhadap benda-benda seni ini bukanlah masalah di Maroko.

“Masalahnya adalah kurangnya orang yang tahu cara membuatnya. Kita tidak bisa lagi menemukan perajinnya lagi,” ujarnya.

Di Libya para perajin juga mengeluhkan kurangnya dukungan dari pemerintah. “Perkembangan kerajinan ini sangat sedikit,” kata Youssef Chouchine, 60, salah satu dari sedikit perajin yang tersisa di Madinah Tripoli.

“Tanpa bantuan dari pihak berwenang, hanya permintaan dari pembeli yang membuat para perajin tetap bertahan,” kata Chouchine. (AFP/M-3)

Bulan lalu, UNESCO menetapkan seni logam Afrika sebagai warisan budaya takbenda. Namun, meskipun seni ini mendapat pengakuan di luar negeri, para perajin lokal menyesalkan bahwa seni ukir logam ini masih kurang dihargai di dalam negeri dan kurang mendapat dukungan dari pemerintah.

“Penetapan oleh UNESCO membuat kami berkomitmen untuk melestarikan pengetahuan luar biasa ini,” kata Imed Soula, seorang seniman logam asal Tunisia yang membantu memperjuangkan ukiran tersebut dinominasikan dalam daftar tersebut.

Menurut Soula para perajin lokal terinspirasi oleh nilai estetika, agama, dan budaya masyarakat mereka ketika menciptakan karya yang sangat indah ini. “Saya tidak ingin tradisi ini hilang. Saya khawatir suatu hari nanti tidak akan ada yang meneruskan tradisi ini,” kata Mohamed Amine Htiouich, seorang seniman lainnya.

Htiouich mulai mengasah keterampilan mengukir logamnya saat remaja. Kini pria Tunisia berusia 37 tahun itu sedang melatih generasi berikutnya mengenai tradisi kuno ini.

Htiouich pertama kali mengerjakan tembaga, kemudian perak dan akhirnya emas di bengkel keluarganya.

Dua dekade kemudian, ia menawarkan magang gratis kepada para anak-anak muda untuk belajar seni logam ini untuk membuat perhiasan dan benda-benda rumah tangga.

Hal yang sama juga dilakukan Chiheb Eddine Ben Jabballah. Di bengkelnya di pinggiran kota Den Den di Tunis, ia sering mengajarkan kerajinan tangan kepada perempuan yang ingin membuat perhiasan atau keranjang dengan ornamen tembaga yang dipahat.

Pria berusia 68 tahun yang juga mengepalai Kadin Tunisia ini telah melatih ratusan perajin selama selama lima dekade kariernya.

Namun, dia mengatakan, masa magang seringkali terlalu singkat, hanya berlangsung selama tiga bulan. “Diperlukan setidaknya dua tahun untuk mempelajari semua teknik mengukir,” jelasnya tentang kerajinan yang berasal dari bangsa Kartago tersebut.

Beragamnya teknik ini berasal dari percampuran peradaban Islam dan tradisi Mediterania, serta warisan penduduk asli Amazigh dan pengaruh Timur Jauh.

Meski bangga dengan profesinya, Ben Jabballah menyesalkan profesinya yang kurang dihargai di dalam negeri.

Di Maroko, perajin Abdelilah Mounir yakin penunjukan UNESCO terhjadap seni logam Afrika akan membantu industri pariwisata dan sektor perekonomian lainnya.

“Ini adalah publisitas internasional yang bagus, terutama bagi yang menjual barang-barang tembaga di kota Fez di bagian utara,” ujarnya.

Namun, bagi Mohamed Moumni, seorang pembuat perhiasan dari Kota Sale di barat laut, permintaan terhadap benda-benda seni ini bukanlah masalah di Maroko.

“Masalahnya adalah kurangnya orang yang tahu cara membuatnya. Kita tidak bisa lagi menemukan perajinnya lagi,” ujarnya.

Di Libya para perajin juga mengeluhkan kurangnya dukungan dari pemerintah. “Perkembangan kerajinan ini sangat sedikit,” kata Youssef Chouchine, 60, salah satu dari sedikit perajin yang tersisa di Madinah Tripoli.

“Tanpa bantuan dari pihak berwenang, hanya permintaan dari pembeli yang membuat para perajin tetap bertahan,” kata Chouchine. (AFP/M-3)

Sumber: mediaindonesia.com