MICE  

Membangun Sekolah Aman dengan MKBS

Membangun Sekolah Aman dengan MKBS

PENDIDIKAN sebagai wahana pembentukan karakter dan kepribadian siswa memerlukan pendekatan holistis yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada perkembangan pribadi dan sosial. Kedisiplinan menjadi unsur kritis dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan berdaya dorong. Namun, pendekatan tradisional sering kali melibatkan hukuman ketat dan penekanan berlebihan terhadap kontrol siswa, belakangan ini dipertanyakan keberlanjutannya. Pentingnya membangun kedisiplinan positif dalam konteks pendidikan modern dengan menekankan strategi alternatif tanpa hukuman keras. Mungkinkah?



Kekerasan di sekolah

Mendisiplinkan siswa ialah aspek penting dalam pendidikan dan pemahaman mendalam tentang berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah memainkan peran krusial dalam merancang strategi pendidikan efektif. Permendikbud No 46/2023 menyoroti berbagai bentuk kekerasan di sekolah, termasuk fisik, psikis, dan seksual.

Pentingnya memahami jenis-jenis kekerasan ini tidak hanya dalam identifikasi masalah, tetapi juga sebagai landasan untuk merancang strategi pendidikan pencegahan dan pembentukan karakter siswa. Pendidik yang memiliki wawasan mendalam terkait dengan bentuk-bentuk kekerasan dapat proaktif menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung pertumbuhan holistis siswa. Contohnya, memahami kekerasan fisik membantu pendidik mengidentifikasi pola perilaku yang memerlukan perhatian lebih. Sementara itu, pemahaman terhadap kekerasan psikis menjadi dasar untuk merancang pendekatan holistis dalam mendisiplinkan siswa. Pendidik juga dapat merancang strategi yang tidak hanya menindaklanjuti pelanggaran, tetapi juga mendorong pencegahan dan pembentukan karakter positif siswa.



Alternatif pendekatan

Pemahaman terhadap efektivitas hukuman sebagai respons terhadap pelanggaran telah berkembang seiring waktu. Tradisi memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar aturan sering kali tidak membawa hasil yang diinginkan dan dapat menimbulkan dampak negatif.

Pemahaman baru di kalangan pendidik menunjukkan model pendekatan ini tidak sejalan dengan arus perkembangan pendidikan dan kebijakan baru yang mendukung pembentukan karakter positif siswa. Terlebih, hukuman tradisional yang keras tidak hanya tidak sesuai dengan regulasi pendidikan yang ada, tetapi juga berpotensi menciptakan lingkungan belajar yang tidak kondusif, bahkan traumatik bagi siswa.

Di tengah tantangan itu, beberapa lembaga pendidikan, seperti Sekolah Sukma Bangsa (SSB), telah mengembangkan strategi alternatif untuk menciptakan kedisiplinan positif di antara siswa-siswinya. Salah satu strategi utama ialah melibatkan partisipasi siswa dalam proses pembuatan kesepakatan kelas. Pendekatan itu melibatkan siswa secara langsung dalam membahas, merumuskan, dan menetapkan aturan serta konsekuensi bersama. Itu membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap perilaku mereka, menciptakan ikatan yang lebih kuat antara siswa dan aturan yang telah disepakati.

Selain pembuatan kesepakatan kelas, pemberian bimbingan kepada siswa yang melanggar aturan menjadi bagian integral dari strategi mendisiplinkan siswa secara positif di SSB. Pendekatan itu memungkinkan para pendidik untuk lebih memahami latar belakang dan motivasi siswa yang terlibat dalam pelanggaran. Tidak sekadar memberikan hukuman, tetapi juga memberikan arahan dan dukungan yang dibutuhkan siswa, untuk memahami konsekuensi dari perbuatan mereka. Hal itu tidak hanya mereduksi tingkat pelanggaran, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk tumbuh dan belajar dari pengalaman mereka.



Manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS)

SSB menggabungkan dua pendekatan alternatif yang telah diuraikan tersebut dan mungkin sudah diterapkan di berbagai sekolah. SSB mengembangkan sistem manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) sejak berdirinya pada 2006, tercatat dalam Statuta Sekolah Sukma Bangsa (2006). MKBS dikembangkan Samsu Rizal Panggabean, bertujuan memberikan keterampilan mediasi dan penyelesaian konflik, mengajarkan cara menyelesaikan perbedaan secara konstruktif, serta menciptakan atmosfer positif di antara siswa (Rizal Panggabean, 2015). MKBS telah dijabarkan dalam buku berjudul Manajemen Konflik Berbasis Sekolah: Dari Sekolah Sukma Bangsa untuk Indonesia, diterbitkan Pusataka Alvabet pada 2015.

Dengan MKBS, SSB menciptakan lingkungan belajar kondusif, aman, dan positif, membentuk karakter siswa yang tangguh dan berpikiran positif melalui pendekatan mendisiplinkan siswa secara positif. MKBS tidak hanya sarana penyelesaian konflik, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang konflik. Siswa yang terlibat belajar cara menghadapi perbedaan pendapat secara konstruktif dan produktif serta memahami nilai-nilai dialog, respek, dan kerja sama.

MKBS juga berperan menciptakan atmosfer positif di antara siswa, membantu menciptakan iklim belajar positif, menyenangkan, dan efektif, serta membangun kepekaan terhadap keberagaman. Program itu juga memberikan pembelajaran tentang toleransi, keterampilan penting dalam membangun hubungan sehat di dalam ataupun di luar lingkungan sekolah.

MKBS di SSB bukan hanya alat penyelesaian konflik, melainkan juga pilar pembentukan karakter siswa, memberikan keterampilan mediasi, pemahaman konflik yang lebih baik, serta nilai-nilai seperti toleransi dan kerja sama. Setiap siswa yang mengikuti program ini tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga siap menghadapi kompleksitas dunia nyata dengan sikap positif dan pemahaman yang mendalam.



Tantangan

Menerapkan strategi mendisiplinkan siswa dengan pendekatan positif mendatangkan keuntungan, tetapi juga menimbulkan kritik dan tantangan. Beberapa guru dan orang tua berpendapat, strategi ini terlalu memanjakan siswa, mengorbankan otoritas guru, dan mengurangi rasa hormat terhadap aturan. Karena itu, pelaksanaan strategi ini memerlukan kehati-hatian dan keterlibatan semua pihak pendidikan, dengan kolaborasi antara guru, orangtua, dan pihak sekolah menjadi kunci utama, tanpa mengorbankan otoritas pendidik.

Di era pendidikan modern, membangun kedisiplinan positif semakin mendesak, dengan paradigma baru menekankan pendekatan bijaksana yang fokus pada pendidikan daripada hukuman. Melalui penerapan filosofi Trikon Ki Hadjar Dewantara, lembaga pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan siswa secara holistis.

Strategi alternatif, seperti membuat kesepakatan kelas, memberikan bimbingan dan konseling, serta menerapkan program MKBS di SSB, membuktikan bahwa mendisiplinkan siswa tidak selalu harus melibatkan hukuman tradisional.

Sebaliknya, pendekatan ini menjadi proses membangun karakter positif dan memberikan keterampilan kepada siswa untuk menghadapi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Terus berinovasi dalam praktik pendidikan menjadi langkah penting untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

PENDIDIKAN sebagai wahana pembentukan karakter dan kepribadian siswa memerlukan pendekatan holistis yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada perkembangan pribadi dan sosial. Kedisiplinan menjadi unsur kritis dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan berdaya dorong. Namun, pendekatan tradisional sering kali melibatkan hukuman ketat dan penekanan berlebihan terhadap kontrol siswa, belakangan ini dipertanyakan keberlanjutannya. Pentingnya membangun kedisiplinan positif dalam konteks pendidikan modern dengan menekankan strategi alternatif tanpa hukuman keras. Mungkinkah?

 

Kekerasan di sekolah

Mendisiplinkan siswa ialah aspek penting dalam pendidikan dan pemahaman mendalam tentang berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah memainkan peran krusial dalam merancang strategi pendidikan efektif. Permendikbud No 46/2023 menyoroti berbagai bentuk kekerasan di sekolah, termasuk fisik, psikis, dan seksual.

Pentingnya memahami jenis-jenis kekerasan ini tidak hanya dalam identifikasi masalah, tetapi juga sebagai landasan untuk merancang strategi pendidikan pencegahan dan pembentukan karakter siswa. Pendidik yang memiliki wawasan mendalam terkait dengan bentuk-bentuk kekerasan dapat proaktif menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung pertumbuhan holistis siswa. Contohnya, memahami kekerasan fisik membantu pendidik mengidentifikasi pola perilaku yang memerlukan perhatian lebih. Sementara itu, pemahaman terhadap kekerasan psikis menjadi dasar untuk merancang pendekatan holistis dalam mendisiplinkan siswa. Pendidik juga dapat merancang strategi yang tidak hanya menindaklanjuti pelanggaran, tetapi juga mendorong pencegahan dan pembentukan karakter positif siswa.

 

Alternatif pendekatan

Pemahaman terhadap efektivitas hukuman sebagai respons terhadap pelanggaran telah berkembang seiring waktu. Tradisi memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar aturan sering kali tidak membawa hasil yang diinginkan dan dapat menimbulkan dampak negatif.

Pemahaman baru di kalangan pendidik menunjukkan model pendekatan ini tidak sejalan dengan arus perkembangan pendidikan dan kebijakan baru yang mendukung pembentukan karakter positif siswa. Terlebih, hukuman tradisional yang keras tidak hanya tidak sesuai dengan regulasi pendidikan yang ada, tetapi juga berpotensi menciptakan lingkungan belajar yang tidak kondusif, bahkan traumatik bagi siswa.

Di tengah tantangan itu, beberapa lembaga pendidikan, seperti Sekolah Sukma Bangsa (SSB), telah mengembangkan strategi alternatif untuk menciptakan kedisiplinan positif di antara siswa-siswinya. Salah satu strategi utama ialah melibatkan partisipasi siswa dalam proses pembuatan kesepakatan kelas. Pendekatan itu melibatkan siswa secara langsung dalam membahas, merumuskan, dan menetapkan aturan serta konsekuensi bersama. Itu membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap perilaku mereka, menciptakan ikatan yang lebih kuat antara siswa dan aturan yang telah disepakati.

Selain pembuatan kesepakatan kelas, pemberian bimbingan kepada siswa yang melanggar aturan menjadi bagian integral dari strategi mendisiplinkan siswa secara positif di SSB. Pendekatan itu memungkinkan para pendidik untuk lebih memahami latar belakang dan motivasi siswa yang terlibat dalam pelanggaran. Tidak sekadar memberikan hukuman, tetapi juga memberikan arahan dan dukungan yang dibutuhkan siswa, untuk memahami konsekuensi dari perbuatan mereka. Hal itu tidak hanya mereduksi tingkat pelanggaran, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk tumbuh dan belajar dari pengalaman mereka.

 

Manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS)

SSB menggabungkan dua pendekatan alternatif yang telah diuraikan tersebut dan mungkin sudah diterapkan di berbagai sekolah. SSB mengembangkan sistem manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) sejak berdirinya pada 2006, tercatat dalam Statuta Sekolah Sukma Bangsa (2006). MKBS dikembangkan Samsu Rizal Panggabean, bertujuan memberikan keterampilan mediasi dan penyelesaian konflik, mengajarkan cara menyelesaikan perbedaan secara konstruktif, serta menciptakan atmosfer positif di antara siswa (Rizal Panggabean, 2015). MKBS telah dijabarkan dalam buku berjudul Manajemen Konflik Berbasis Sekolah: Dari Sekolah Sukma Bangsa untuk Indonesia, diterbitkan Pusataka Alvabet pada 2015.

Dengan MKBS, SSB menciptakan lingkungan belajar kondusif, aman, dan positif, membentuk karakter siswa yang tangguh dan berpikiran positif melalui pendekatan mendisiplinkan siswa secara positif. MKBS tidak hanya sarana penyelesaian konflik, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang konflik. Siswa yang terlibat belajar cara menghadapi perbedaan pendapat secara konstruktif dan produktif serta memahami nilai-nilai dialog, respek, dan kerja sama.

MKBS juga berperan menciptakan atmosfer positif di antara siswa, membantu menciptakan iklim belajar positif, menyenangkan, dan efektif, serta membangun kepekaan terhadap keberagaman. Program itu juga memberikan pembelajaran tentang toleransi, keterampilan penting dalam membangun hubungan sehat di dalam ataupun di luar lingkungan sekolah.

MKBS di SSB bukan hanya alat penyelesaian konflik, melainkan juga pilar pembentukan karakter siswa, memberikan keterampilan mediasi, pemahaman konflik yang lebih baik, serta nilai-nilai seperti toleransi dan kerja sama. Setiap siswa yang mengikuti program ini tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga siap menghadapi kompleksitas dunia nyata dengan sikap positif dan pemahaman yang mendalam.

 

Tantangan

Menerapkan strategi mendisiplinkan siswa dengan pendekatan positif mendatangkan keuntungan, tetapi juga menimbulkan kritik dan tantangan. Beberapa guru dan orang tua berpendapat, strategi ini terlalu memanjakan siswa, mengorbankan otoritas guru, dan mengurangi rasa hormat terhadap aturan. Karena itu, pelaksanaan strategi ini memerlukan kehati-hatian dan keterlibatan semua pihak pendidikan, dengan kolaborasi antara guru, orangtua, dan pihak sekolah menjadi kunci utama, tanpa mengorbankan otoritas pendidik.

Di era pendidikan modern, membangun kedisiplinan positif semakin mendesak, dengan paradigma baru menekankan pendekatan bijaksana yang fokus pada pendidikan daripada hukuman. Melalui penerapan filosofi Trikon Ki Hadjar Dewantara, lembaga pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan siswa secara holistis.

Strategi alternatif, seperti membuat kesepakatan kelas, memberikan bimbingan dan konseling, serta menerapkan program MKBS di SSB, membuktikan bahwa mendisiplinkan siswa tidak selalu harus melibatkan hukuman tradisional.

Sebaliknya, pendekatan ini menjadi proses membangun karakter positif dan memberikan keterampilan kepada siswa untuk menghadapi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Terus berinovasi dalam praktik pendidikan menjadi langkah penting untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sumber: mediaindonesia.com