MICE  

Manfaatkan Hujan, Petani di Cianjur Percepat Masa Tanam Padi

Manfaatkan Hujan, Petani di Cianjur Percepat Masa Tanam Padi

PARA petani di Kabupaten Cianjur sudah melakukan percepatan
masa tanam padi. Upaya itu dilakukan karena meningkatnya intensitas curah hujan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Nurdiyati, mengatakan kemarau yang cukup panjang beberapa waktu lalu sempat mengganggu pola tanam di wilayah tersebut. Banyak petani yang terpaksa menunda masa tanam padi karena pasokan air yang terus berkurang.

“Irigasi banyak yang kering selama kemarau. Sekarang pasokan air sudah
mulai normal. Tidak disuruh juga sebetulnya para petani mulai menanam.
Makanya, kemarin begitu ada hujan, sekitar November, itu sudah langsung
menanam,” katanya, Senin (1/1).

Dia mengaku upaya yang dilakukan di daerah linear dengan Kementerian
Pertanian yang melakukan upaya khusus percepatan tanam padi. Upaya khusus lainnya yaitu dengan menambah luas tambah tanam.

“Itu dilakukan mulai November 2023 hingga musim tanam pada Maret 2024. Itu terus menerus dilakukan penanaman,” terangnya.

Nurdiyati menyebutkan, meskipun kerap terjadi kemarau setiap tahunnya,
tetapi produksi gabah kering giling di Kabupaten Cianjur rata-rata memenuhi target. Seperti pada 2023, dari target 950 ribu ton, produksinya melebihi alias surplus.

“Kita itu sebetulnya selalu surplus dari target yang ditetapkan provinsi. Tahun 2023 target GKG sebesar 950 ribu ton. Kita sudah melebihi angka itu. Untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Cianjur sendiri sih sudah terpenuhi,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Ketahanan Pangan DTPHPKP Kabupaten Cianjur, Abdul Hanan, menuturkan secara umum berbagai komoditas pangan kebutuhan
masyarakat sebetulnya sudah terpenuhi. Artinya, ketersediaan atau stoknya sudah mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Kalau melihat neraca, ketersediaan hampir semua komoditas kebutuhan bahan pokok masyarakat itu mencukupi. Bahkan rata-rata surplus,” kata Hanan.

Beras misalnya, pada Desember 2023 ketersediaannya mencapai 37.590 ton.
Sementara kebutuhannya hanya 23.935 ton. Dengan kondisi itu terjadi surplus sebanyak 13.655 ton atau ketahanan stok sebanyak 34 ton per hari.

“Ada memang beberapa kecamatan yang produksinya minus. Seperti Cipanas,
Cugenang, dan Sukaresmi. Tapi kan secara akumulasi ketersediaan dari hasil produksi mencukupi kebutuhan bahkan lebih atau surplus,” kata Hanan. (SG))

PARA petani di Kabupaten Cianjur sudah melakukan percepatan

masa tanam padi. Upaya itu dilakukan karena meningkatnya intensitas curah hujan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Nurdiyati, mengatakan kemarau yang cukup panjang beberapa waktu lalu sempat mengganggu pola tanam di wilayah tersebut. Banyak petani yang terpaksa menunda masa tanam padi karena pasokan air yang terus berkurang.

“Irigasi banyak yang kering selama kemarau. Sekarang pasokan air sudah

mulai normal. Tidak disuruh juga sebetulnya para petani mulai menanam.

Makanya, kemarin begitu ada hujan, sekitar November, itu sudah langsung

menanam,” katanya, Senin (1/1).

Dia mengaku upaya yang dilakukan di daerah linear dengan Kementerian

Pertanian yang melakukan upaya khusus percepatan tanam padi. Upaya khusus lainnya yaitu dengan menambah luas tambah tanam.

“Itu dilakukan mulai November 2023 hingga musim tanam pada Maret 2024. Itu terus menerus dilakukan penanaman,” terangnya.

Nurdiyati menyebutkan, meskipun kerap terjadi kemarau setiap tahunnya,

tetapi produksi gabah kering giling di Kabupaten Cianjur rata-rata memenuhi target. Seperti pada 2023, dari target 950 ribu ton, produksinya melebihi alias surplus.

“Kita itu sebetulnya selalu surplus dari target yang ditetapkan provinsi. Tahun 2023 target GKG sebesar 950 ribu ton. Kita sudah melebihi angka itu. Untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Cianjur sendiri sih sudah terpenuhi,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Ketahanan Pangan DTPHPKP Kabupaten Cianjur, Abdul Hanan, menuturkan secara umum berbagai komoditas pangan kebutuhan

masyarakat sebetulnya sudah terpenuhi. Artinya, ketersediaan atau stoknya sudah mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Kalau melihat neraca, ketersediaan hampir semua komoditas kebutuhan bahan pokok masyarakat itu mencukupi. Bahkan rata-rata surplus,” kata Hanan.

Beras misalnya, pada Desember 2023 ketersediaannya mencapai 37.590 ton.

Sementara kebutuhannya hanya 23.935 ton. Dengan kondisi itu terjadi surplus sebanyak 13.655 ton atau ketahanan stok sebanyak 34 ton per hari.

“Ada memang beberapa kecamatan yang produksinya minus. Seperti Cipanas,

Cugenang, dan Sukaresmi. Tapi kan secara akumulasi ketersediaan dari hasil produksi mencukupi kebutuhan bahkan lebih atau surplus,” kata Hanan. (SG))

Sumber: mediaindonesia.com