MICE  

Lulusan UPM Diharapkan Manfaatkan AI untuk Raih Kesuksesan

Lulusan UPM Diharapkan Manfaatkan AI untuk Raih Kesuksesan

UNIVERSITAS Prasetiya Mulya (UPM) mengajak lulusannya memasuki babak baru era kolaborasi manusia dengan mesin kecerdasan buatan (AI) dan memanfaatkannya sebagai mitra dalam meraih masa depan gemilang. Hal itu dilakukan melalui acara wisuda bertema ‘Into the Age of Human-Machine Companionship’ yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD.

Dalam sambutan saat aca wisuda Edwin Soeryadjaya, Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, yang juga menjabat Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasetiya Mulya menyatakan perubahan yang terjadi di masyarakat seperti revolusi di bidang science, technology, engineering, dan mathematics (STEM) yang melahirkan sumber energi baru dan terbarukan seperti genome editing technologies, Artificial Intelligence (AI), Quantum Computing dan Blockchain merupakan suatu tanda bahwa dunia terus bergerak maju dengan cepat. Ia berharap dengan menggabungkan kreativitas dan inovasi, Universitas Prasetiya Mulya kembali menjadi garda depan pembaruan pemikiran di Indonesia.

“Jika kita terbuka dan siap menerima perubahan ini, maka akan ada ruang bagi kemajuan pribadi dan kolektif. Inilah perubahan yang datangnya dari sumber internal, dari diri kita sendiri,” jelas Edwin dalam keterangan yang diterima, Jumat (8/12).

Sedangkan Rektor UPM Prof. Dr. Djisman S. Simandjuntak menyampaikan sejatinya menjadi manusia adalah pelajaran abadi. Di era AI, jelasnya, kita harus mampu bersaing karena kita adalah manusia yang tangguh sejak ratusan tahun lalu dengan otak yang memiliki kemampuan luar biasa. “Karena itu, jadilah duta-duta perubahan gaya hidup, jadilah duta-duta pembebasan diri dari belenggu naluri infernal,” ungkap Djisman

Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Noviyanto, dalam pidato sambutannya menyatakan Indonesia telah menetapkan tujuan jangka panjang pada 2045 yaitu menjadi Indonesia emas. Dalam upaya meraih tujuan tersebut, jelasnya, lulusan perguruan tinggi harus memiliki keunggulan komparatif agar mampu bersaing di kancah nasional dan internasional.

Sedangkan Prof. Stella Christie dari Tsinghua University dalam pidato ilmiahnya saat acara wisuda menjelaskan bahwa di era gempuran manusia versus kecerdasan buatan (AI) dengan revolusi yang dihadirkan, ketakutan adalah hal yang perlu kita rasakan. Namun, ketakutan ini bukan berarti hal yang tidak baik, justru menyadarkan akan ada persaingan.

“Ketakutan itu harus disertai kesadaran, bahwa walaupun sangat membantu ternyata kecerdasan buatan (AI) tidak sepintar yang kita pikirkan. Karena itu, kita harus memiliki pedoman yang dapat membuat kita bersaing sukses melalui kemampuan yang tidak dimiliki oleh AI yaitu human focus skill serta system thinking,” jelas Prof Stella.

Pada wisuda kali ini, UPM melepas 1.281 lulusan dari program studi School of STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), School of Law and International Studies, dan School of Business and Economics. Seperti tahun sebelumnya, Prasetiya Mulya juga memberikan penghargaan bagi wisudawan dengan kategori Best Academic in Program, Best of the Best Achievement, Best Academic Achievement in undergraduate program, Best of LEAMICA, Best Contributor in Community Development, STEM Graduate Award, dan Best Women in STEM Graduate.

Clarissa Christie Harimas, S.T.P. peraih penghargaan Women in STEM Best Graduate 2023 menyampaikan kesan pesannya dalam wisuda tahun ini. “Berbagai peluang untuk pengembangan diri tersedia di Universitas Prasetiya Mulya selama masa perkuliahan. Saya sangat bersyukur dapat memanfaatkan hal tersebut dengan baik sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Clarissa. (RO-R-2)

UNIVERSITAS Prasetiya Mulya (UPM) mengajak lulusannya memasuki babak baru era kolaborasi manusia dengan mesin kecerdasan buatan (AI) dan memanfaatkannya sebagai mitra dalam meraih masa depan gemilang. Hal itu dilakukan melalui acara wisuda bertema ‘Into the Age of Human-Machine Companionship’ yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD.

Dalam sambutan saat aca wisuda Edwin Soeryadjaya, Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, yang juga menjabat Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasetiya Mulya menyatakan perubahan yang terjadi di masyarakat seperti revolusi di bidang science, technology, engineering, dan mathematics (STEM) yang melahirkan sumber energi baru dan terbarukan seperti genome editing technologies, Artificial Intelligence (AI), Quantum Computing dan Blockchain merupakan suatu tanda bahwa dunia terus bergerak maju dengan cepat. Ia berharap dengan menggabungkan kreativitas dan inovasi, Universitas Prasetiya Mulya kembali menjadi garda depan pembaruan pemikiran di Indonesia.

“Jika kita terbuka dan siap menerima perubahan ini, maka akan ada ruang bagi kemajuan pribadi dan kolektif. Inilah perubahan yang datangnya dari sumber internal, dari diri kita sendiri,” jelas Edwin dalam keterangan yang diterima, Jumat (8/12).

Sedangkan Rektor UPM Prof. Dr. Djisman S. Simandjuntak menyampaikan sejatinya menjadi manusia adalah pelajaran abadi. Di era AI, jelasnya, kita harus mampu bersaing karena kita adalah manusia yang tangguh sejak ratusan tahun lalu dengan otak yang memiliki kemampuan luar biasa. “Karena itu, jadilah duta-duta perubahan gaya hidup, jadilah duta-duta pembebasan diri dari belenggu naluri infernal,” ungkap Djisman

Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Noviyanto, dalam pidato sambutannya menyatakan Indonesia telah menetapkan tujuan jangka panjang pada 2045 yaitu menjadi Indonesia emas. Dalam upaya meraih tujuan tersebut, jelasnya, lulusan perguruan tinggi harus memiliki keunggulan komparatif agar mampu bersaing di kancah nasional dan internasional.

Sedangkan Prof. Stella Christie dari Tsinghua University dalam pidato ilmiahnya saat acara wisuda menjelaskan bahwa di era gempuran manusia versus kecerdasan buatan (AI) dengan revolusi yang dihadirkan, ketakutan adalah hal yang perlu kita rasakan. Namun, ketakutan ini bukan berarti hal yang tidak baik, justru menyadarkan akan ada persaingan.

“Ketakutan itu harus disertai kesadaran, bahwa walaupun sangat membantu ternyata kecerdasan buatan (AI) tidak sepintar yang kita pikirkan. Karena itu, kita harus memiliki pedoman yang dapat membuat kita bersaing sukses melalui kemampuan yang tidak dimiliki oleh AI yaitu human focus skill serta system thinking,” jelas Prof Stella.

Pada wisuda kali ini, UPM melepas 1.281 lulusan dari program studi School of STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), School of Law and International Studies, dan School of Business and Economics. Seperti tahun sebelumnya, Prasetiya Mulya juga memberikan penghargaan bagi wisudawan dengan kategori Best Academic in Program, Best of the Best Achievement, Best Academic Achievement in undergraduate program, Best of LEAMICA, Best Contributor in Community Development, STEM Graduate Award, dan Best Women in STEM Graduate.

Clarissa Christie Harimas, S.T.P. peraih penghargaan Women in STEM Best Graduate 2023 menyampaikan kesan pesannya dalam wisuda tahun ini. “Berbagai peluang untuk pengembangan diri tersedia di Universitas Prasetiya Mulya selama masa perkuliahan. Saya sangat bersyukur dapat memanfaatkan hal tersebut dengan baik sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Clarissa. (RO-R-2)

Sumber: mediaindonesia.com