MICE  

Kunjungi Rumah ke Rumah, Begini yang Dilakukan Vera Cegah Stunting

NAMANYA Vera Ratnaningsih, biasa dipanggil Vera. Ia lahir di Jakarta 57 tahun silam, lalu pindah ke Kabupaten Tegal di Jawa Tengah saat masuk ke Sekolah Dasar. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, kini Vera tinggal di sebuah desa yang bernama Kalisapu di Kecamatan Slawi.

“Saya menikah tahun 1984, lalu memutuskan tinggal di desa Kalisapu sejak lulus SMA,” ujarnya mengawali percakapan.

Vera adalah ibu rumah tangga dengan 3 orang anak yang seluruhnya laki-laki. Ia juga dikenal aktif mengikuti kegiatan di desanya, seperti bergabung dengan Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), menjadi kader Posyandu, kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), majelis taklim, dan kegiatan sosial lainnya. Pada dasarnya ia senang berorganisasi, karena selain mendapat ilmu, juga menambah pengalaman dan pertemanan.

Kegiatan sosial pertama yang diikuti Vera adalah menjadi kader Posyandu Balita di area Rukun Warga (RW) tempat tinggalnya pada tahun 1990. Awalnya ia hanya diminta untuk membantu kegiatan di RW, lalu ia diajak membantu kegiatan Posyandu dalam lingkup yang lebih luas, meliputi seluruh Desa Kalisapu. Pada awalnya sempat tidak percaya diri karena belum mengenal kader-kader yang lain.

Dari kegiatan menjadi kader Posyandu balita itulah kemudian ia menjadi anggota PKK Desa. Dari kegiatan sosial yang diikuti, Vera mendapatkan banyak pelatihan, tentang pemberdayaan, organisasi, kepemimpinan, dan serta kesetaraan gender, yang semuanya itu sangat ia rasakan manfaatnya.

“Dari berbagai pelatihan itu saya jadi tahu betapa besar arti pengabdian, baik untuk keluarga maupun lingkungan. Sejak saat itulah keberanian saya semakin bertambah. Saya tidak lagi canggung atau malu ketika mendapatkan undangan untuk menghadiri rapat di lingkungan pemerintah desa,” katanya.

Vera ingin mengajak teman-temannya sesama perempuan untuk terus berkembang dan dapat memberikan manfaat yang jelas dan baik bagi pembangunan desa sebagai bagian dari masyarakat. Tidak pernah malu dan minder karena akan semakin membuat perempuan merasa tidak mampu.

Aktif di Kegiatan Pencegahan Stunting

Sebagai bentuk komitmen yang kuat dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setelah ditunjuk oleh Presiden RI Joko Widodo sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting, maka Langkah strategis BKKBN salah satunya dengan membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) di setiap desa. TPK yang beranggotakan orang-orang dari unsur PKK, kader KB dan bidan, harapannya dapat ikut berperan dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Atas pembentukan TPK tersebut, Vera turut serta ambil bagian untuk menjadi kader penurunan stunting di desanya. Apalagi ia juga diminta oleh kawan-kawan kader untuk bergabung karena mereka sudah mengenal bagaimana cara Vera memimpin dan menjalankan program di kegiatan sosial lainnya.

Menurut Vera, tugas dari TPK diantaranya melakukan serangkaian kegiatan terhadap keluarga yang memiliki ibu hamil, pasca salin, anak di bawah 5 tahun dan calon pengantin atau calon PUS untuk deteksi dini faktor stunting dan melakukan upaya meminimalisir atau pencegahan pengaruh faktor risiko stunting.

Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti Penyuluhan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), fasilitasi rujukan pelayanan, fasilitasi program bantuan dan surveilans, serta menyelenggarakan Posyandu remaja.

Vera juga rajin turun ke rumah-rumah, mulai dari mendatangi remaja putri yang akan menikah, memastikan kesehatan ibu hamil dalam keadaan sehat, hingga berkunjung ke keluarga yang memiliki anak di bawah dua tahun.

Seperti yang ia lakukan saat mengunjungi seorang ibu hamil yang berada di komplek Desa Kalisapu, Vera bersama rekan TPK mencatat semua data yang dibutuhkan agar kelak jika terjadi sesuatu akan lebih cepat tertangani.

Menurutnya, ada beberapa langkah penurunan stunting yang dapat dilakukan dalam pendampingan terhadap keluarga yang berisiko yaitu terhadap calon pengantin, pendampingan terhadap ibu hamil, pendampingan terhadap ibu pasca melahirkan, pendampingan terhadap ibu menyusui dan pendampingan terhadap bayi baru lahir sampai pada umur 2 tahun.

“Ada kebanggaan tersendiri, jika anak yang lahir nanti dalam keadaan sehat dan tentunya tidak stunting, karena memang kita juga fokus di pencegahan terutama mulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), seperti yang dulu pernah dilatih Tanoto Foundation,” ujarnya.

Sebagai seorang ibu, Vera merasakan pentingnya arti sebuah perjuangan seorang perempuan sebagai penerus kehidupan ini. Dimulai dari menjadi seorang calon pengantin, menjalani kehamilan selama 9 bulan, hingga melahirkan. Ada suatu kebanggaan bagi dirinya ketika mampu menolong sesama ibu di Desa Kalisapu Tegal yang lain terbebas dari stunting.

“Menjadi seorang ibu tentu saja bukan pekerjaan mudah, namun di situlah seninya, apalagi jika kita berhasil memberikan semangat ke sasama ibu. Itulah pentingnya kita sesama perempuan agar tetap mendukung perempuan,” jelas Vera.

Desa Dampingan Tanoto Foundation

Desa Kalisapu adalah salah satu desa dampingan program percepatan penurunan stunting yang dilakukan oleh Tanoto Foundation. Intervensi yang dilakukan mulai dari pelatihan pemberian makan bayi dan anak (PMBA), penguatan kapasitas kader TPK dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), hingga kegiatan komunikasi perubahan perilaku percepatan penurunan stunting.

Setelah mengikuti pelatihan dari Tanoto Foundation, Vera mengaku akan terus mengembangkan kapasitas dirinya sebagai kader desa, tidak sebatas kader kesehatan, namun juga terhadap isu lainnya. (RO/S-3)

NAMANYA Vera Ratnaningsih, biasa dipanggil Vera. Ia lahir di Jakarta 57 tahun silam, lalu pindah ke Kabupaten Tegal di Jawa Tengah saat masuk ke Sekolah Dasar. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, kini Vera tinggal di sebuah desa yang bernama Kalisapu di Kecamatan Slawi. 

“Saya menikah tahun 1984, lalu memutuskan tinggal di desa Kalisapu sejak lulus SMA,” ujarnya mengawali percakapan.

Vera adalah ibu rumah tangga dengan 3 orang anak yang seluruhnya laki-laki. Ia juga dikenal aktif mengikuti kegiatan di desanya, seperti bergabung dengan Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), menjadi kader Posyandu, kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), majelis taklim, dan kegiatan sosial lainnya. Pada dasarnya ia senang berorganisasi, karena selain mendapat ilmu, juga menambah pengalaman dan pertemanan. 

Kegiatan sosial pertama yang diikuti Vera adalah menjadi kader Posyandu Balita di area Rukun Warga (RW) tempat tinggalnya pada tahun 1990. Awalnya ia hanya diminta untuk membantu kegiatan di RW, lalu ia diajak membantu kegiatan Posyandu dalam lingkup yang lebih luas, meliputi seluruh Desa Kalisapu. Pada awalnya sempat tidak percaya diri karena belum mengenal kader-kader yang lain.

Dari kegiatan menjadi kader Posyandu balita itulah kemudian ia menjadi anggota PKK Desa. Dari kegiatan sosial yang diikuti, Vera mendapatkan banyak pelatihan, tentang pemberdayaan, organisasi, kepemimpinan, dan serta kesetaraan gender, yang semuanya itu sangat ia rasakan manfaatnya. 

“Dari berbagai pelatihan itu saya jadi tahu betapa besar arti pengabdian, baik untuk keluarga maupun lingkungan. Sejak saat itulah keberanian saya semakin bertambah. Saya tidak lagi canggung atau malu ketika mendapatkan undangan untuk menghadiri rapat di lingkungan pemerintah desa,” katanya. 

Vera ingin mengajak teman-temannya sesama perempuan untuk terus berkembang dan dapat memberikan manfaat yang jelas dan baik bagi pembangunan desa sebagai bagian dari masyarakat. Tidak pernah malu dan minder karena akan semakin membuat perempuan merasa tidak mampu. 

Aktif di Kegiatan Pencegahan Stunting

Sebagai bentuk komitmen yang kuat dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setelah ditunjuk oleh Presiden RI Joko Widodo sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting, maka Langkah strategis BKKBN salah satunya dengan membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) di setiap desa. TPK yang beranggotakan orang-orang dari unsur PKK, kader KB dan bidan, harapannya dapat ikut berperan dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Atas pembentukan TPK tersebut, Vera turut serta ambil bagian untuk menjadi kader penurunan stunting di desanya. Apalagi ia juga diminta oleh kawan-kawan kader untuk bergabung karena mereka sudah mengenal bagaimana cara Vera memimpin dan menjalankan program di kegiatan sosial lainnya. 

Menurut Vera, tugas dari TPK diantaranya melakukan serangkaian kegiatan terhadap keluarga yang memiliki ibu hamil, pasca salin, anak di bawah 5 tahun dan calon pengantin atau calon PUS untuk deteksi dini faktor stunting dan melakukan upaya meminimalisir atau pencegahan pengaruh faktor risiko stunting. 

Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti Penyuluhan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), fasilitasi rujukan pelayanan, fasilitasi program bantuan dan surveilans, serta menyelenggarakan Posyandu remaja.

Vera juga rajin turun ke rumah-rumah, mulai dari mendatangi remaja putri yang akan menikah, memastikan kesehatan ibu hamil dalam keadaan sehat, hingga berkunjung ke keluarga yang memiliki anak di bawah dua tahun. 

Seperti yang ia lakukan saat mengunjungi seorang ibu hamil yang berada di komplek Desa Kalisapu, Vera bersama rekan TPK mencatat semua data yang dibutuhkan agar kelak jika terjadi sesuatu akan lebih cepat tertangani.  

Menurutnya, ada beberapa langkah penurunan stunting yang dapat dilakukan dalam pendampingan terhadap keluarga yang berisiko yaitu terhadap calon pengantin, pendampingan terhadap ibu hamil, pendampingan terhadap ibu pasca melahirkan, pendampingan terhadap ibu menyusui dan pendampingan terhadap bayi baru lahir sampai pada umur 2 tahun.

“Ada kebanggaan tersendiri, jika anak yang lahir nanti dalam keadaan sehat dan tentunya tidak stunting, karena memang kita juga fokus di pencegahan terutama mulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), seperti yang dulu pernah dilatih Tanoto Foundation,” ujarnya.

Sebagai seorang ibu, Vera merasakan pentingnya arti sebuah perjuangan seorang perempuan sebagai penerus kehidupan ini. Dimulai dari menjadi seorang calon pengantin, menjalani kehamilan selama 9 bulan, hingga melahirkan. Ada suatu kebanggaan bagi dirinya ketika mampu menolong sesama ibu di Desa Kalisapu Tegal yang lain terbebas dari stunting.  

“Menjadi seorang ibu tentu saja bukan pekerjaan mudah, namun di situlah seninya, apalagi jika kita berhasil memberikan semangat ke sasama ibu. Itulah pentingnya kita sesama perempuan agar tetap mendukung perempuan,” jelas Vera.

Desa Dampingan Tanoto Foundation

Desa Kalisapu adalah salah satu desa dampingan program percepatan penurunan stunting yang dilakukan oleh Tanoto Foundation. Intervensi yang dilakukan mulai dari pelatihan pemberian makan bayi dan anak (PMBA), penguatan kapasitas kader TPK dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), hingga kegiatan komunikasi perubahan perilaku percepatan penurunan stunting. 

Setelah mengikuti pelatihan dari Tanoto Foundation, Vera mengaku akan terus mengembangkan kapasitas dirinya sebagai kader desa, tidak sebatas kader kesehatan, namun juga terhadap isu lainnya. (RO/S-3)

Sumber: mediaindonesia.com