MICE  

Kritisi Pengelolaan Sampah, Pelukis Gelar Pameran di TPA Sarimukti

Kritisi Pengelolaan Sampah, Pelukis Gelar Pameran di TPA Sarimukti

JIKA biasanya pameran lukisan dilakukan di dalam gedung atau lapangan
terbuka, apa jadinya jika kegiatan itu dilaksanakan di sekitar gunungan
sampah?

Aksi tak biasa itu dilakukan sejumlah seniman pada pameran seni lukis
bertajuk “Cul Weh” yang digelar di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (28/12). Karya goresan tangan ini dibuat sebagai kritik atas karut-marutnya penyelesaian sampah Bandung Raya.

“Rasanya tidak masuk akal ketika mengkritik sampah tapi digelar dalam
galeri mewah ruangan ber-AC. Jadi menurut kami mengkritik sampah, ya
di tempatnya langsung,” ucap Juru Bicara Pemuda Pancaseni, Alin, di lokasi.

Ada delapan karya lukisan yang menggambarkan kondisi persampahan yang ditumpahkan di atas kanvas berukuran 100×100 sentimeter.

Menurut Alin, salah satu lukisan yang cukup menarik perhatian adalah karya berjudul ‘Boikot Tubuh’ karena dikerjakan langsung oleh empat orang seniman.

“Dari 8 lukisan itu, kami gambarkan berbagai persoalan TPA Sarimukti
sepanjang tahun ini di antaranya akses landasan truk menuju zona pembuangan yang mengakibatkan antrean panjang, limbah air lindi yang mencemari sungai Citarum, hingga kebakaran hebat yang sulit padam,” katanya.

Koordinator pameran, Fatal mengungkapkan, melalui aksi ini pihaknya ingin mengampanyekan betapa karut-marutnya persoalan sampah baik dari hulu maupun hilir di TPA Sarimukti.

“Garis besar dari tema acara ini, kami ingin memberi pesan tentang
keteledoran manusia dengan sampahnya. Pada pameran ini kami ingin
menyampaikan masih banyaknya yang lepas tanggung jawab atas sampah mereka sendiri,” ungkapnya.

Ibnu, 27, seorang pengunjung mengaku, dirinya baru pertama kali menyaksikan pameran lukisan di tengah-tengah hamparan sampah. Ia pun merasa bangga dengan aksi seniman yang bisa melampiaskan kegelisahannya tentang penanganan sampah.

“Mereka menggelar pameran bukan di gedung mahal atau ruangan yang nyaman. Ini malah di lokasi gunungan sampahnya langsung, bagus, keren,” kata Ibnu. (SG)

JIKA biasanya pameran lukisan dilakukan di dalam gedung atau lapangan

terbuka, apa jadinya jika kegiatan itu dilaksanakan di sekitar gunungan

sampah?

Aksi tak biasa itu dilakukan sejumlah seniman pada pameran seni lukis

bertajuk “Cul Weh” yang digelar di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (28/12). Karya goresan tangan ini dibuat sebagai kritik atas karut-marutnya penyelesaian sampah Bandung Raya.

“Rasanya tidak masuk akal ketika mengkritik sampah tapi digelar dalam

galeri mewah ruangan ber-AC. Jadi menurut kami mengkritik sampah, ya

di tempatnya langsung,” ucap Juru Bicara Pemuda Pancaseni, Alin, di lokasi.

Ada delapan karya lukisan yang menggambarkan kondisi persampahan yang ditumpahkan di atas kanvas berukuran 100×100 sentimeter.

Menurut Alin, salah satu lukisan yang cukup menarik perhatian adalah karya berjudul ‘Boikot Tubuh’ karena dikerjakan langsung oleh empat orang seniman.

“Dari 8 lukisan itu, kami gambarkan berbagai persoalan TPA Sarimukti

sepanjang tahun ini di antaranya akses landasan truk menuju zona pembuangan yang mengakibatkan antrean panjang, limbah air lindi yang mencemari sungai Citarum, hingga kebakaran hebat yang sulit padam,” katanya.

Koordinator pameran, Fatal mengungkapkan, melalui aksi ini pihaknya ingin mengampanyekan betapa karut-marutnya persoalan sampah baik dari hulu maupun hilir di TPA Sarimukti.

“Garis besar dari tema acara ini, kami ingin memberi pesan tentang

keteledoran manusia dengan sampahnya. Pada pameran ini kami ingin

menyampaikan masih banyaknya yang lepas tanggung jawab atas sampah mereka sendiri,” ungkapnya.

Ibnu, 27, seorang pengunjung mengaku, dirinya baru pertama kali menyaksikan pameran lukisan di tengah-tengah hamparan sampah. Ia pun merasa bangga dengan aksi seniman yang bisa melampiaskan kegelisahannya tentang penanganan sampah.

“Mereka menggelar pameran bukan di gedung mahal atau ruangan yang nyaman. Ini malah di lokasi gunungan sampahnya langsung, bagus, keren,” kata Ibnu. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com