MICE  

Kenaikan Signifikan Elektabilitas Prabowo Dipertanyakan

Kenaikan Signifikan Elektabilitas Prabowo Dipertanyakan

NAIKNYA elektabilitas Prabowo hingga mencapai 9,7 persen sebagaimana dinayatakan LSI, menuai keraguan dari berbagai pihak. Salah satunya dari pengamat Pusat Studi Demokrasi, Kiki Rizki Octavian.

Dikatakan, jika dihitung sejak 22 Oktober 2023 hingga 10 Desember 2023 elektabilitas Prabowo naik sebanyak 9,7 persen. Konversinya menjadi 19,8 juta suara jika diterapkan pada basis Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebesar 204 juta.

Rizki mempertanyakan bagaimana mungkin Prabowo mendapatkan tambahan 416.000 suara setiap hari selama 48 hari. Ia skeptis terhadap narasi dan mesin amplifikasi apa yang bisa menghasilkan pergeseran sebesar 19,8 juta suara dalam waktu singkat.

“Lucu kan, yang buat banyak salah itu Prabowo Gibran lalu kenapa yg ditinggalkan Ganjar Mahfud ?Apakah istilah Gemoy dan perubahan unsur kimia dalam Asam Folat hingga bisa menjadi Asam Sulfat punya kemampuan meyakinkan 19,8 juta orang untuk pindah dalam 48 hari,” ucap Rizki dalam keterangan yang diterima, Selasa (12/12).

Pertanyaan lebih lanjut mengarah pada isu apa yang mampu membuat perubahan drastis tersebut. Ia juga menyoroti bahwa dalam satu bulan terakhir, terdapat banyak sentimen negatif yang menimpa Prabowo, seperti Mahkamah Keluarga, Politik Dinasti, perubahan aturan walikota menjadi capres/cawapres, perubahan aturan debat, dan baliho. Menurutnya, sebuah ironi bahwa sentimen negatif itu mendorong elektabilitas Prabowo.

Lebih jauh, Rizki juga menyoroti apakah ada kejadian atau isu luar biasa yang mampu mempengaruhi pergeseran suara yang signifikan tersebut. Jika tidak, ia mengindikasikan kemungkinan kesalahan sampling dalam metode survei, dan menyerukan lembaga survei untuk mengevaluasi metodenya guna hasil yang lebih kredibel. (RO/R-2)

NAIKNYA elektabilitas Prabowo hingga mencapai 9,7 persen sebagaimana dinayatakan LSI, menuai keraguan dari berbagai pihak. Salah satunya dari pengamat Pusat Studi Demokrasi, Kiki Rizki Octavian.

Dikatakan, jika dihitung sejak 22 Oktober 2023 hingga 10 Desember 2023 elektabilitas Prabowo naik sebanyak 9,7 persen. Konversinya menjadi 19,8 juta suara jika diterapkan pada basis Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebesar 204 juta.

Rizki mempertanyakan bagaimana mungkin Prabowo mendapatkan tambahan 416.000 suara setiap hari selama 48 hari. Ia skeptis terhadap narasi dan mesin amplifikasi apa yang bisa menghasilkan pergeseran sebesar 19,8 juta suara dalam waktu singkat.

“Lucu kan, yang buat banyak salah itu Prabowo Gibran lalu kenapa yg ditinggalkan Ganjar Mahfud ?Apakah istilah Gemoy dan perubahan unsur kimia dalam Asam Folat hingga bisa menjadi Asam Sulfat punya kemampuan meyakinkan 19,8 juta orang untuk pindah dalam 48 hari,” ucap Rizki dalam keterangan yang diterima, Selasa (12/12).

Pertanyaan lebih lanjut mengarah pada isu apa yang mampu membuat perubahan drastis tersebut. Ia juga menyoroti bahwa dalam satu bulan terakhir, terdapat banyak sentimen negatif yang menimpa Prabowo, seperti Mahkamah Keluarga, Politik Dinasti, perubahan aturan walikota menjadi capres/cawapres, perubahan aturan debat, dan baliho. Menurutnya, sebuah ironi bahwa sentimen negatif itu mendorong elektabilitas Prabowo.

Lebih jauh, Rizki juga menyoroti apakah ada kejadian atau isu luar biasa yang mampu mempengaruhi pergeseran suara yang signifikan tersebut. Jika tidak, ia mengindikasikan kemungkinan kesalahan sampling dalam metode survei, dan menyerukan lembaga survei untuk mengevaluasi metodenya guna hasil yang lebih kredibel. (RO/R-2)

 

Sumber: mediaindonesia.com