MICE  

Kemandirian Perempuan di Tengah Kerawanan Sosial Ekonomi

Kemandirian Perempuan di Tengah Kerawanan Sosial Ekonomi

PERJALANAN perempuan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi sering kali dihadapkan pada ragam tantangan yang disebabkan oleh tingkat kerawanan sosial ekonomi. Dalam situasi tersebut, perempuan harus berjuang dan meningkatkan resiliensinya sebagai upaya mewujudkan tingkat kesetaraan gender dalam lingkup yang luas. Kerawanan ekonomi sosial menjadi salah satu akar penyebab munculnya ketimpangan berbasis gender.

Indeks ketimpangan gender di Indonesia sesuai dengan data BPS 2022 berada pada kategori menengah atas, yang berkisar di angka 0,459. Adapun indeks kerawanan sosial ekonomi perempuan (IKSEP) Indonesia menurut hasil penelitian Putri & Yuhan (2019) menghasilkan angka 0,399 di 2017. Artinya masih berada pada kategori tinggi. Tingginya nilai yang ditunjukkan pada kedua indikator tersebut dapat berpengaruh pada terhambatnya tingkat pertumbuhan kemandirian perempuan di tengah terjadinya kerawanan sosial ekonomi.

Kerawanan sosial ekonomi perempuan mencakup kesenjangan dalam hal upah kerja, terbatasnya akses pendidikan dan pekerjaan, hingga peran ganda pada lingkup publik maupun domestik. Hal itu tentu tidak boleh diabaikan mengingat dampaknya yang dapat menciptakan lingkungan yang sulit dan tak terduga bagi perempuan. Saat dihadapkan pada dinamika yang kompleks, perempuan dituntut untuk mampu beradaptasi dan membuktikan bahwa mereka mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Hal ini juga menjadi pemicu bagi banyak perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Setiap langkah kecil yang diambil oleh perempuan adalah kemenangan. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dapat dicapai bahkan dalam kondisi yang penuh tantangan. Perjuangan mencapai kemandirian ekonomi ini tidak hanya tentang perempuan yang berkembang di tengah kesulitan, tetapi juga tentang kekuatan perempuan untuk mengubah realitas menjadi sesuatu yang lebih baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Kemandirian ekonomi merupakan langkah penting bagi perempuan dalam upaya mengatasi kesenjangan gender yang ada agar terwujud masyarakat yang lebih inklusif. Hal ini bukan saja bicara tentang peningkatan pendapatan, tapi juga tentang bagaimana perempuan mampu berdaya dan mengekplorasi segala potensi yang dimiliki, serta ikut berperan dalam mengambil keputusan, mengelola sumber daya, dan mendefinisikan arah hidup yang akan diambil terutama dalam menghadapai era digital.



Ikhtiar perempuan

Dalam membangun kemandirian ekonomi, banyak di antara perempuan Indonesia berani bergelut dengan dunia wirausaha sebagai bukti serta tekad keberanian melangkah di luar batas konvensional. Mereka sudah mampu membongkar sekat peradaban yang selama ini membatasi ruang gerak sosialnya. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya membuka usaha, tetapi juga menjadi pelaku kunci dalam menginspirasi perubahan di tingkat komunitas. Sebagai contoh ketika dunia dihantam krisis kesehatan dengan adanya pandemi covid-19, di mana wabah itu berakibat pada krisis sosial dan ekonomi bagi semua kalangan, maka perempuan menjadi salah satu garda depan dalam upaya pertahanan dari aspek sosial dan ekonomi.

Di tengah krisis yang menimpa, banyak perempuan yang kemudian mengambil langkah taktis untuk membaca dan mengambil peluang bisnis daring. Dengan keuletan dan kreativitas mereka, banyak perempuan mengambil kesempatan untuk menjalankan bisnis sendiri, merintis startup, atau terlibat dalam perdagangan daring. Fenomena tersebut sudah dibuktikan oleh survei BPS 2021 yang menyebutkan bahwa pelaku UMKM sebanyak 64,5% dioperasikan oleh kaum perempuan.

Jalan wirausaha menjadi alternatif pilihan yang diambil kaum perempuan sebagai upaya untuk keluar dari kesenjangan upah yang lebih rendah dari kaum laki-laki. Selain itu, jalur ini menjadi solusi bagi peran ganda perempuan yang masih dituntut paling utama untuk melakukan pengasuhan pada anak. Dengan demikian, perempuan dapat tepat berkreasi dan berinovasi dalam kontribuasi keamanan keuangan keluarga.

Di sisi lain, bagi perempuan yang masih belum bisa terlepas dari posisi publiknya, maka muncul kreativitas dan inovasi untuk keluar dari belenggu budaya yang mengikatnya di ranah domestik. Beberapa perempuan menciptakan jaringan dan kemitraan dengan sesama ibu atau keluarga untuk berbagi tanggung jawab dalam hal pengasuhan. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan model kerja yang fleksibel memungkinkan perempuan untuk mempertahankan peran ganda tanpa mengorbankan kesejahteraannya.

Dalam menunjang kreativitas wirausaha perempuan, pemanfaatan teknologi juga menjadi isu penting bagi mereka. Teknologi digital dapat meningkatkan kapasitas perempuan melalui saluran dan informasi yang mendukung bertambahnya keterampilan baru, seperti keterampilan digital, keterampilan kewirausahaan, dan keterampilan lain. Di samping itu, juga dapat dimanfaatkan dalam memasarkan produk dan jasa, serta memperluas jaringan usaha secara terbuka tanpa sekat ruang dan waktu.



MI/Seno



Tantangan perempuan

Di tengah geliat bangkitnya perempuan dalam mewujudkan kemandirian, tetap saja masih menghadapi berbagai tantangan khususnya di era digital. Pertama, tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap teknologi digital. Hal ini ditandai dengan adanya sekitar 36,47% perempuan Indonesia yang belum dapat mengakses internet.

Kedua, adanya stereotip gender yang membatasi peran perempuan dalam ekonomi. Hal ini ditandai oleh rendahnya capaian indikator pendidikan perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki.

Ketiga, tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan. Tantangan-tantangan itulah yang dapat menghambat perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemandirian ekonomi.

Dalam mencapai kemandirian ekonomi, perempuan memerlukan dukungan dan perlindungan atas kekerasan, menyediakan sumber daya untuk pemulihan fisik dan mental, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan supaya berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Oleh karena itu, dalam mengentaskan tantangan-tantangan tersebut diperlukan upaya berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan organisasi perempuan. Pemerintah perlu menyediakan akses yang lebih luas terhadap teknologi digital dan mengikis habis stereotip gender.

Perempuan juga butuh dukungan masyarakat serta organisasi perempuan untuk mengembangkan potensi di bidang ekonomi, juga pendampingan dan advokasi untuk mewujudkan kemandirian mereka.

Selain itu, yang perlu mendapat atensi khusus ialah terkait peningkatan pendidikan dan keterampilan para perempuan sehingga mampu memainkan peran penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi perempuan yang juga dapat menopang peran ayah dalam ekonomi.

Dengan akses pendidikan yang semakin luas, akses pelatihan keterampilan terbuka lebar, maka akan semakin mendorong perempuan dalam meningkatkan kapasitas mereka demi pekerjaan yang lebih baik, dan bahkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru, baik untuk dirinya maupun masyarakat.

Selanjutnya, aksi lain yang dapat dilakukan dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi perempuan ialah memberikan akses yang setara pada sumber daya finansial seperti kredit mikro dan pinjaman usaha kecil, serta membantu memberdayakan perempuan untuk memulai atau mengembangkan bisnis sendiri.

Pemberdayaan wirausaha perempuan juga menjadi kunci, dengan menyediakan mentorship, pelatihan kewirausahaan, dan akses ke jaringan bisnis. Secara sosial, penghapusan diskriminasi dan stereotip gender, dukungan fleksibilitas kerja dan keseimbangan hidup, serta partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kemandirian ekonomi perempuan.

Akhirnya, kita semua, bukan hanya perempuan, akan diuji komitmennya terhadap hak perempuan, terutama dalam hal kesetaraan dan kemandirian ekonomi perempuan. Hal itu akan menjadi cerminan tentang ketangguhan dan keberanian perempuan sebagai bentuk solidaritas dari sistem di sekitarnya.

Perempuan mandiri adalah narasi sekaligus bukti cerminan daya tahan perempuan dalam menghadapi tantangan, serta kemampuannya untuk mengilhami perubahan secara positif di sekitarnya. Dengan setiap langkah kecil menuju kemandirian ekonomi, perempuan tidak hanya membentuk masa depan mereka sendiri, tetapi juga membawa cahaya bagi kemajuan sosial dan ekonomi keluarga sampai dengan ekosistem ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

PERJALANAN perempuan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi sering kali dihadapkan pada ragam tantangan yang disebabkan oleh tingkat kerawanan sosial ekonomi. Dalam situasi tersebut, perempuan harus berjuang dan meningkatkan resiliensinya sebagai upaya mewujudkan tingkat kesetaraan gender dalam lingkup yang luas. Kerawanan ekonomi sosial menjadi salah satu akar penyebab munculnya ketimpangan berbasis gender.

Indeks ketimpangan gender di Indonesia sesuai dengan data BPS 2022 berada pada kategori menengah atas, yang berkisar di angka 0,459. Adapun indeks kerawanan sosial ekonomi perempuan (IKSEP) Indonesia menurut hasil penelitian Putri & Yuhan (2019) menghasilkan angka 0,399 di 2017. Artinya masih berada pada kategori tinggi. Tingginya nilai yang ditunjukkan pada kedua indikator tersebut dapat berpengaruh pada terhambatnya tingkat pertumbuhan kemandirian perempuan di tengah terjadinya kerawanan sosial ekonomi.

Kerawanan sosial ekonomi perempuan mencakup kesenjangan dalam hal upah kerja, terbatasnya akses pendidikan dan pekerjaan, hingga peran ganda pada lingkup publik maupun domestik. Hal itu tentu tidak boleh diabaikan mengingat dampaknya yang dapat menciptakan lingkungan yang sulit dan tak terduga bagi perempuan. Saat dihadapkan pada dinamika yang kompleks, perempuan dituntut untuk mampu beradaptasi dan membuktikan bahwa mereka mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Hal ini juga menjadi pemicu bagi banyak perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Setiap langkah kecil yang diambil oleh perempuan adalah kemenangan. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dapat dicapai bahkan dalam kondisi yang penuh tantangan. Perjuangan mencapai kemandirian ekonomi ini tidak hanya tentang perempuan yang berkembang di tengah kesulitan, tetapi juga tentang kekuatan perempuan untuk mengubah realitas menjadi sesuatu yang lebih baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Kemandirian ekonomi merupakan langkah penting bagi perempuan dalam upaya mengatasi kesenjangan gender yang ada agar terwujud masyarakat yang lebih inklusif. Hal ini bukan saja bicara tentang peningkatan pendapatan, tapi juga tentang bagaimana perempuan mampu berdaya dan mengekplorasi segala potensi yang dimiliki, serta ikut berperan dalam mengambil keputusan, mengelola sumber daya, dan mendefinisikan arah hidup yang akan diambil terutama dalam menghadapai era digital.

 

Ikhtiar perempuan

Dalam membangun kemandirian ekonomi, banyak di antara perempuan Indonesia berani bergelut dengan dunia wirausaha sebagai bukti serta tekad keberanian melangkah di luar batas konvensional. Mereka sudah mampu membongkar sekat peradaban yang selama ini membatasi ruang gerak sosialnya. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya membuka usaha, tetapi juga menjadi pelaku kunci dalam menginspirasi perubahan di tingkat komunitas. Sebagai contoh ketika dunia dihantam krisis kesehatan dengan adanya pandemi covid-19, di mana wabah itu berakibat pada krisis sosial dan ekonomi bagi semua kalangan, maka perempuan menjadi salah satu garda depan dalam upaya pertahanan dari aspek sosial dan ekonomi.

Di tengah krisis yang menimpa, banyak perempuan yang kemudian mengambil langkah taktis untuk membaca dan mengambil peluang bisnis daring. Dengan keuletan dan kreativitas mereka, banyak perempuan mengambil kesempatan untuk menjalankan bisnis sendiri, merintis startup, atau terlibat dalam perdagangan daring. Fenomena tersebut sudah dibuktikan oleh survei BPS 2021 yang menyebutkan bahwa pelaku UMKM sebanyak 64,5% dioperasikan oleh kaum perempuan.

Jalan wirausaha menjadi alternatif pilihan yang diambil kaum perempuan sebagai upaya untuk keluar dari kesenjangan upah yang lebih rendah dari kaum laki-laki. Selain itu, jalur ini menjadi solusi bagi peran ganda perempuan yang masih dituntut paling utama untuk melakukan pengasuhan pada anak. Dengan demikian, perempuan dapat tepat berkreasi dan berinovasi dalam kontribuasi keamanan keuangan keluarga.

Di sisi lain, bagi perempuan yang masih belum bisa terlepas dari posisi publiknya, maka muncul kreativitas dan inovasi untuk keluar dari belenggu budaya yang mengikatnya di ranah domestik. Beberapa perempuan menciptakan jaringan dan kemitraan dengan sesama ibu atau keluarga untuk berbagi tanggung jawab dalam hal pengasuhan. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan model kerja yang fleksibel memungkinkan perempuan untuk mempertahankan peran ganda tanpa mengorbankan kesejahteraannya.

Dalam menunjang kreativitas wirausaha perempuan, pemanfaatan teknologi juga menjadi isu penting bagi mereka. Teknologi digital dapat meningkatkan kapasitas perempuan melalui saluran dan informasi yang mendukung bertambahnya keterampilan baru, seperti keterampilan digital, keterampilan kewirausahaan, dan keterampilan lain. Di samping itu, juga dapat dimanfaatkan dalam memasarkan produk dan jasa, serta memperluas jaringan usaha secara terbuka tanpa sekat ruang dan waktu.

MI/Seno

 

Tantangan perempuan

Di tengah geliat bangkitnya perempuan dalam mewujudkan kemandirian, tetap saja masih menghadapi berbagai tantangan khususnya di era digital. Pertama, tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap teknologi digital. Hal ini ditandai dengan adanya sekitar 36,47% perempuan Indonesia yang belum dapat mengakses internet.

Kedua, adanya stereotip gender yang membatasi peran perempuan dalam ekonomi. Hal ini ditandai oleh rendahnya capaian indikator pendidikan perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki.

Ketiga, tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan. Tantangan-tantangan itulah yang dapat menghambat perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemandirian ekonomi.

Dalam mencapai kemandirian ekonomi, perempuan memerlukan dukungan dan perlindungan atas kekerasan, menyediakan sumber daya untuk pemulihan fisik dan mental, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan supaya berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Oleh karena itu, dalam mengentaskan tantangan-tantangan tersebut diperlukan upaya berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan organisasi perempuan. Pemerintah perlu menyediakan akses yang lebih luas terhadap teknologi digital dan mengikis habis stereotip gender.

Perempuan juga butuh dukungan masyarakat serta organisasi perempuan untuk mengembangkan potensi di bidang ekonomi, juga pendampingan dan advokasi untuk mewujudkan kemandirian mereka.

Selain itu, yang perlu mendapat atensi khusus ialah terkait peningkatan pendidikan dan keterampilan para perempuan sehingga mampu memainkan peran penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi perempuan yang juga dapat menopang peran ayah dalam ekonomi.

Dengan akses pendidikan yang semakin luas, akses pelatihan keterampilan terbuka lebar, maka akan semakin mendorong perempuan dalam meningkatkan kapasitas mereka demi pekerjaan yang lebih baik, dan bahkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru, baik untuk dirinya maupun masyarakat.

Selanjutnya, aksi lain yang dapat dilakukan dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi perempuan ialah memberikan akses yang setara pada sumber daya finansial seperti kredit mikro dan pinjaman usaha kecil, serta membantu memberdayakan perempuan untuk memulai atau mengembangkan bisnis sendiri.

Pemberdayaan wirausaha perempuan juga menjadi kunci, dengan menyediakan mentorship, pelatihan kewirausahaan, dan akses ke jaringan bisnis. Secara sosial, penghapusan diskriminasi dan stereotip gender, dukungan fleksibilitas kerja dan keseimbangan hidup, serta partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kemandirian ekonomi perempuan.

Akhirnya, kita semua, bukan hanya perempuan, akan diuji komitmennya terhadap hak perempuan, terutama dalam hal kesetaraan dan kemandirian ekonomi perempuan. Hal itu akan menjadi cerminan tentang ketangguhan dan keberanian perempuan sebagai bentuk solidaritas dari sistem di sekitarnya.

Perempuan mandiri adalah narasi sekaligus bukti cerminan daya tahan perempuan dalam menghadapi tantangan, serta kemampuannya untuk mengilhami perubahan secara positif di sekitarnya. Dengan setiap langkah kecil menuju kemandirian ekonomi, perempuan tidak hanya membentuk masa depan mereka sendiri, tetapi juga membawa cahaya bagi kemajuan sosial dan ekonomi keluarga sampai dengan ekosistem ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Sumber: mediaindonesia.com