MICE  

Kampanye dan Debat Pilpres 2024, Membangun Kecerdasan Sosial

Kampanye dan Debat Pilpres 2024, Membangun Kecerdasan Sosial

SALAH satu asa visioner founding fathers ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar sebagai visi kebangsaan, mencerdaskan bangsa sebagaimana tertuang di alinea keempat Pembukaan UUD 1945 pun merupakan amanah yang harus diwujudkan oleh semua pemimpin di negeri ini.

Pandangan mulia para pendiri bangsa tersebut relevan untuk direnungkan oleh para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang kini sedang berkontestasi. Dalam berkampanye misalnya, setiap calon harus mampu membangun kecerdasan sosial konstituennya. Setiap individu harus memiliki kecerdasan sosial (social intelligence/SI).

Dengan kecerdasan sosial tinggi, orang akan sangat powerfull dalam membina hubungan dan bekerja baik dengan sesama. Karena itu, setiap capres-cawapres harus mampu meningkatkan SI warga tatkala berkampanye dan berdebat.

Dalam berkampanye atau hadir dalam debat yang dihelat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tiap kontestan tak sekadar merebut simpati dan perhatian rakyat. Capres dan cawapres dituntut untuk mewujudkan visi mencerdaskan kehidupan rakyat. Berdasarkan kecerdasannya, rakyat kemudian mampu memilih calon pemimpin secara rasional.

KPU berharap ajang kampanye dan debat sebagai rangkaian pemilihan capres-cawapres lebih bermutu, serta menghindari sifat formalitas dan jebakan ritus lima tahunan. Mutu debat dipengaruhi oleh pengalaman dan track record kontestan. Capres-cawapres harus menunjukkan performa terbaik dan argumen logis yang berbasis pada fakta (evidence based).

Tak hanya massa, setiap aksi kampanye dan perdebatan membawa emosi pula bagi para kandidat. Dalam tiga periode terakhir, pilpres menampakkan diri sebagai ritual yang menguras emosi dan berpotensi menyulut gesekan antarkomponen.

Gesekan mengarah konflik kian mengkhawatirkan seiring dengan kemudahan dalam distribusi informasi melalui saluran digital. Karena itu, setiap pihak harus mengerem emosi diri mengingat bahwa semua rangkaian aksi adalah untuk kepentingan bangsa. Jangan sampai ada yang terjebak.

Kondisi sosial-politik dalam ritus politik lima tahunan acap tampak bagai sebuah labirin. Setiap langkah kandidat dan pendukungnya kemungkinan bisa salah, yakni mengarah pada jalan buntu atau pintu jebakan yang menggagalkan. Namun, bisa pula masuk pada jalan keberhasilan dan sukses meraih tujuan.



Menavigasi kecerdasan sosial

Para kandidat perlu memiliki bekal memadai dalam berkampanye dan berdebat sesuai aturan main yang telah ditetapkan oleh KPU. Setiap calon tentu memiliki kemampuan untuk menavigasi berbagai langkah strategis dalam membangun SI bagi para masyarakat.

SI menunjukkan pemahaman pendukung atau konstituen terhadap makna kontestasi. SI menuntut tiap orang memahami hakekat hidup berkebangsaan dan memiliki social-skill agar mampu berinteraksi sosial secara elegan sebagai bentuk interpersonal yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

Capres-cawapres mengembangkan navigasi dalam membangun kecerdasan sosial sesuai indikator SI. Seseorang dengan SI yang tinggi alias cerdas secara sosial, menunjukkan kompetensi sosial kuat serta berperilaku baik hingga membuat pihak lain merasa lebih dihargai, dipercaya, dan dihormati.

Dengan aksi kampanye dan debat yang ditampilkan, setiap kandidat harus memberi pelajaran tentang makna keramahan, persahabatan, dan mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai norma dan etika sosial. Selain itu juga membangun spirit konstituen agar bersedia bekerja sama dengan setiap orang. Nilai inilah yang dikonseptualisasikan secara khas di Indonesia sebagai ‘gotong royong’.

Sebaliknya, SI yang rendah mendorong perilaku culas menyulut agresifitas massa yang cenderung destruktif. Perilaku merusak acap dipicu kurangnya kesadaran berbangsa dan bermasyarakat serta nir pemahaman tentang dampak perilaku buruk terhadap ketertiban sosial.

Tiap kandidat memiliki pengalaman dan rekam jejak yang memengaruhi persepsi massa. Setiap orang menangkap emosi satu sama lain melalui ekspresi diri, suasana hati, dan lainnya. Kian kuat relasi emosional dalam berinteraksi, kian kuat pula dampaknya terhadap persepsi.

Karena itu, setiap kandidat dituntut mampu menunjukkan ekspresi diri yang atraktif dan empati tinggi. Setiap aksi dalam kampanye atau debat politik mampu menciptakan suasana adem tak menyulut destruksi sosial. Saatnya bagi capres-cawapres menunjukkan diri sebagai negarawan yang mampu membangun hubungan sosial dalam suasana damai.



Membangun kecerdasan sosial

Dari berbagai aksi kampanye dalam rangkaian pilpres yang berlangsung saat ini, secara natural dapat dilihat keterampilan sosial dan komunikasi setiap kandidat, termasuk di dalamnya adalah kemampuan membangun SI khususnya bagi konstituen dan masyarakat luas secara umum.

Membangun SI dapat dilakukan dengan menunjukkan teladan. Capres-cawapres memberi contoh terbaik dalam sikap, perilaku dan lontaran berbagai smart statements yang menyejukkan. Masyarakat nyaman dengan kehadiran calon pemimpinnya.

SI dapat juga dibangun dengan menunjukkan pandangan mencerahkan tak mengganggu perasaan dan persepsi masyarakat. Dengan pandangan positif, kandidat dinilai masyarakat patut didengarkan, diperhatikan, layak dipilih, dan prospektif sejalan dengan tuntutan masa depan.

Kondisi masa depan yang bersifat unpredictable sangat merisaukan masyarakat. Dalam kondisi ini, capres mengembangkan empati yakni mengambil posisi sebagaimana dialami rakyat kebanyakan. Tatkala merasakan empati, warga terhubung erat secara psikologis dengan figur pemimpin.

Dengan sikap elegan dan mengayomi, SI dibangun melalui lontaran berbagai ide, pandangan, dan visi yang jelas. Sebagai calon pimpinan tertingi, capres-cawapres menghindari miskomunikasi dan salah-paham masyarakat melalui ekspresi diri yang jelas dan meyakinkan.

Membangun SI dapat pula dilakukan secara prudent, yakni berpikir mendalam sebelum berbicara dan beraksi. Menyempatkan diri untuk berpikir mendalam sebelum bertindak dapat mencegah tindakan impulsif yang bakal membuat sesal di kemudian hari.

Kecerdasan dalam kehidupan berbangsa harus pula diartikan sebagai bentuk kemampuan masyarakat menghargai kejujuran. Berdasarkan bukti otentik dan rasional, warga memilih pemimpin yang tak hanya patut dicontoh, namun memiliki rekam jejak kejujuran mengesankan.



Momentum edukasi kaum muda

Pemilihan capres-cawapres ialah momentum mengedukasi penduduk yang didominasi Generasi Z (Gen-Z) sebagai pemilih (voters). Jumlah Gen-Z mencapai sekitar 47,5 juta jiwa. Lahir antara 1997-2006 dan sebagian 2007, Gen-Z berhak memilih pada Pemilu 2024. Sebagian besar dari mereka adalah pemilih pemula (first voters) yang sangat layak dibidik oleh capres.

Momentum bagi kandidat mengedukasi pemuda dapat dilakukan dengan memahami karakteristik Gen-Z yang akrab dengan perangkat dan platform digital. Mereka berpikiran terbuka dan menghargai perbedaan serta cenderung pragmatis dan mempertimbangkan aspek finansial.

Namun, di balik kehebatannya, Gen-Z disinyalir rentan dari aspek psikologis atau kejiwaan. Kondisi psikologis Gen-Z dan kaum muda umumnya yang rentan alias mudah goyah, merupakan peluang bagi capres untuk membangun SI mereka dengan penyampaian ide yang mencerdaskan pula.

Pengaruh disrupsi digital membuat batas kebenaran dan kepalsuan kian tipis memicu kaum muda cenderung skeptis atau kritis. Namun, capres dapat menyampaikan informasi dengan cepat, jujur dan terpercaya, berbobot serta relevan dengan kebutuhan anak muda.

Membangun SI bagi Gen-Z adalah momentum untuk meningkatkaan kepercayaan (trust). Di sisi lain, bagi capres-cawapres adalah saat untuk meraih kredibilitas di depan pemilih yang dari sisi kuantitatif sangat potensial. Trust dan reputasi dapat dicapai melalui proses yang panjang disertai konsistensi, komitmen, dan no compromise terhadap segala bentuk kesalahan.

Untuk memelihara momentum edukasi politik bagi generasi muda, capres-cawapres bisa menuangkannya dalam agenda setting untuk kampanye maupun debat politik yang dihelat KPU. Penyusunan agenda setting dengan menimbang dinamika sektoral seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lapangan kerja, serta sektor lainnya yang memberi kemudahan akses kaum muda.

Upaya membangun SI didukung kemampuan menavigasi sejumlah isu serta fokus pada pemenuhan berbagai kepentingan anak muda sebagai voters terbesar, capres-cawapres nantinya diyakini mampu memenuhi asa pendiri bangsa dalam mencerdaskan masyarakat. Selain itu, mampu pula mengemban amanah untuk membangun negeri sesuai konstitusi.

SALAH satu asa visioner founding fathers ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar sebagai visi kebangsaan, mencerdaskan bangsa sebagaimana tertuang di alinea keempat Pembukaan UUD 1945 pun merupakan amanah yang harus diwujudkan oleh semua pemimpin di negeri ini.

Pandangan mulia para pendiri bangsa tersebut relevan untuk direnungkan oleh para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang kini sedang berkontestasi. Dalam berkampanye misalnya, setiap calon harus mampu membangun kecerdasan sosial konstituennya. Setiap individu harus memiliki kecerdasan sosial (social intelligence/SI).

Dengan kecerdasan sosial tinggi, orang akan sangat powerfull dalam membina hubungan dan bekerja baik dengan sesama. Karena itu, setiap capres-cawapres harus mampu meningkatkan SI warga tatkala berkampanye dan berdebat.

Dalam berkampanye atau hadir dalam debat yang dihelat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tiap kontestan tak sekadar merebut simpati dan perhatian rakyat. Capres dan cawapres dituntut untuk mewujudkan visi mencerdaskan kehidupan rakyat. Berdasarkan kecerdasannya, rakyat kemudian mampu memilih calon pemimpin secara rasional.

KPU berharap ajang kampanye dan debat sebagai rangkaian pemilihan capres-cawapres lebih bermutu, serta menghindari sifat formalitas dan jebakan ritus lima tahunan. Mutu debat dipengaruhi oleh pengalaman dan track record kontestan. Capres-cawapres harus menunjukkan performa terbaik dan argumen logis yang berbasis pada fakta (evidence based).

Tak hanya massa, setiap aksi kampanye dan perdebatan membawa emosi pula bagi para kandidat. Dalam tiga periode terakhir, pilpres menampakkan diri sebagai ritual yang menguras emosi dan berpotensi menyulut gesekan antarkomponen.

Gesekan mengarah konflik kian mengkhawatirkan seiring dengan kemudahan dalam distribusi informasi melalui saluran digital. Karena itu, setiap pihak harus mengerem emosi diri mengingat bahwa semua rangkaian aksi adalah untuk kepentingan bangsa. Jangan sampai ada yang terjebak.

Kondisi sosial-politik dalam ritus politik lima tahunan acap tampak bagai sebuah labirin. Setiap langkah kandidat dan pendukungnya kemungkinan bisa salah, yakni mengarah pada jalan buntu atau pintu jebakan yang menggagalkan. Namun, bisa pula masuk pada jalan keberhasilan dan sukses meraih tujuan.

 

Menavigasi kecerdasan sosial

Para kandidat perlu memiliki bekal memadai dalam berkampanye dan berdebat sesuai aturan main yang telah ditetapkan oleh KPU. Setiap calon tentu memiliki kemampuan untuk menavigasi berbagai langkah strategis dalam membangun SI bagi para masyarakat.

SI menunjukkan pemahaman pendukung atau konstituen terhadap makna kontestasi. SI menuntut tiap orang memahami hakekat hidup berkebangsaan dan memiliki social-skill agar mampu berinteraksi sosial secara elegan sebagai bentuk interpersonal yang membawa  kebaikan bagi masyarakat.

Capres-cawapres mengembangkan navigasi dalam membangun kecerdasan sosial sesuai indikator SI. Seseorang dengan SI yang tinggi alias cerdas secara sosial, menunjukkan kompetensi sosial kuat serta berperilaku baik hingga membuat pihak lain merasa lebih dihargai, dipercaya, dan dihormati.

Dengan aksi kampanye dan debat yang ditampilkan, setiap kandidat harus memberi pelajaran tentang makna keramahan, persahabatan, dan mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai norma dan etika sosial. Selain itu juga membangun spirit konstituen agar bersedia bekerja sama dengan setiap orang. Nilai inilah yang dikonseptualisasikan secara khas di Indonesia sebagai ‘gotong royong’.

Sebaliknya, SI yang rendah mendorong perilaku culas menyulut agresifitas massa yang cenderung destruktif. Perilaku merusak acap dipicu kurangnya kesadaran berbangsa dan bermasyarakat serta nir pemahaman tentang dampak perilaku buruk terhadap ketertiban sosial.

Tiap kandidat memiliki pengalaman dan rekam jejak yang memengaruhi persepsi massa. Setiap orang menangkap emosi satu sama lain melalui ekspresi diri, suasana hati, dan lainnya. Kian kuat relasi emosional dalam berinteraksi, kian kuat pula dampaknya terhadap persepsi.

Karena itu, setiap kandidat dituntut mampu menunjukkan ekspresi diri yang atraktif dan empati tinggi. Setiap aksi dalam kampanye atau debat politik mampu menciptakan suasana adem tak menyulut destruksi sosial. Saatnya bagi capres-cawapres menunjukkan diri sebagai negarawan yang mampu membangun hubungan sosial dalam suasana damai.

 

Membangun kecerdasan sosial

Dari berbagai aksi kampanye dalam rangkaian pilpres yang berlangsung saat ini, secara natural dapat dilihat keterampilan sosial dan komunikasi setiap kandidat, termasuk di dalamnya adalah kemampuan membangun SI khususnya bagi konstituen dan masyarakat luas secara umum.

Membangun SI dapat dilakukan dengan menunjukkan teladan. Capres-cawapres memberi contoh terbaik dalam sikap, perilaku dan lontaran berbagai smart statements yang menyejukkan. Masyarakat nyaman dengan kehadiran calon pemimpinnya.

SI dapat juga dibangun dengan menunjukkan pandangan mencerahkan tak mengganggu perasaan dan persepsi masyarakat. Dengan pandangan positif, kandidat dinilai masyarakat patut didengarkan, diperhatikan, layak dipilih, dan prospektif sejalan dengan tuntutan masa depan.

Kondisi masa depan yang bersifat unpredictable sangat merisaukan masyarakat. Dalam kondisi ini, capres mengembangkan empati yakni mengambil posisi sebagaimana dialami rakyat kebanyakan. Tatkala merasakan empati, warga terhubung erat secara psikologis dengan figur pemimpin.

Dengan sikap elegan dan mengayomi, SI dibangun melalui lontaran berbagai ide, pandangan, dan visi yang jelas. Sebagai calon pimpinan tertingi, capres-cawapres menghindari miskomunikasi dan salah-paham masyarakat melalui ekspresi diri yang jelas dan meyakinkan.

Membangun SI dapat pula dilakukan secara prudent, yakni berpikir mendalam sebelum berbicara dan beraksi. Menyempatkan diri untuk berpikir mendalam sebelum bertindak dapat mencegah tindakan impulsif yang bakal membuat sesal di kemudian hari.

Kecerdasan dalam kehidupan berbangsa harus pula diartikan sebagai bentuk kemampuan masyarakat menghargai kejujuran. Berdasarkan bukti otentik dan rasional, warga memilih pemimpin yang tak hanya patut dicontoh, namun memiliki rekam jejak kejujuran mengesankan.

 

Momentum edukasi kaum muda

Pemilihan capres-cawapres ialah momentum mengedukasi penduduk yang didominasi Generasi Z (Gen-Z) sebagai pemilih (voters). Jumlah Gen-Z mencapai sekitar 47,5 juta jiwa. Lahir antara 1997-2006 dan sebagian 2007, Gen-Z berhak memilih pada Pemilu 2024. Sebagian besar dari mereka adalah pemilih pemula (first voters) yang sangat layak dibidik oleh capres.

Momentum bagi kandidat mengedukasi pemuda dapat dilakukan dengan memahami karakteristik Gen-Z yang akrab dengan perangkat dan platform digital. Mereka berpikiran terbuka dan menghargai perbedaan serta cenderung pragmatis dan mempertimbangkan aspek finansial.

Namun, di balik kehebatannya, Gen-Z disinyalir rentan dari aspek psikologis atau kejiwaan. Kondisi psikologis Gen-Z dan kaum muda umumnya yang rentan alias mudah goyah, merupakan peluang bagi capres untuk membangun SI mereka dengan penyampaian ide yang mencerdaskan pula.

Pengaruh disrupsi digital membuat batas kebenaran dan kepalsuan kian tipis memicu kaum muda cenderung skeptis atau kritis. Namun, capres dapat menyampaikan informasi dengan cepat, jujur dan terpercaya, berbobot serta relevan dengan kebutuhan anak muda.

Membangun SI bagi Gen-Z adalah momentum untuk meningkatkaan kepercayaan (trust). Di sisi lain, bagi capres-cawapres adalah saat untuk meraih kredibilitas di depan pemilih yang dari sisi kuantitatif sangat potensial. Trust dan reputasi dapat dicapai melalui proses yang panjang disertai konsistensi, komitmen, dan no compromise terhadap segala bentuk kesalahan.

Untuk memelihara momentum edukasi politik bagi generasi muda, capres-cawapres bisa menuangkannya dalam agenda setting untuk kampanye maupun debat politik yang dihelat KPU. Penyusunan agenda setting dengan menimbang dinamika sektoral seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lapangan kerja, serta sektor lainnya yang memberi kemudahan akses kaum muda.

Upaya membangun SI didukung kemampuan menavigasi sejumlah isu serta fokus pada pemenuhan berbagai kepentingan anak muda sebagai voters terbesar, capres-cawapres nantinya diyakini mampu memenuhi asa pendiri bangsa dalam mencerdaskan masyarakat. Selain itu, mampu pula mengemban amanah untuk membangun negeri sesuai konstitusi.

Sumber: mediaindonesia.com