MICE  

Humaniora Digital, Pendekatan Baru dalam Kajian Sastra di Era Digital

Humaniora Digital, Pendekatan Baru dalam Kajian Sastra di Era Digital

Pendekatan humaniora digital dalam kajian sastra telah membuka wawasan baru dan mengungkap dinamika yang sebelumnya tak terlihat dalam kepustakaan. Melalui analisis dataraya (big data) yang dibimbing oleh wawasan statistik dan pemikiran kritis, pendekatan ini telah mengubah cara para sarjana memahami karya sastra, dari struktur formalnya hingga representasi kultural dan sejarahnya.

Demikian intisari pidato Kesusasteraan dengan tajuk Humaniora Digital untuk Sastra Indonesia: Menjawab Tantangan Kajian Sastra di Era Digital yang disampaikan Dr. Martin Suryajaya, M.Hum, di Auditorium Gedung 4 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia, Kamis (21/12).

Menurut Martin, keberhasilan ini menegaskan potensi besar humaniora digital dalam memberikan perspektif baru dan lebih mendalam pada studi sastra, menggabungkan kekuatan teknologi dan kepekaan humanistik dalam menganalisis karya sastra dan ekosistem sastra.

Untuk diketahui, humaniora digital adalah sebuah istilah yang relatif baru dari sebuah upaya yang berusia cukup panjang. Upaya itu, kata Martin, dimulai pada 1949, yakni ketika Roberto Busa, S.J. berkolaborasi dengan IBM untuk membuat Index Thomisticus. Ini adalah index verborum yang mengindeks seluruh kata dalam karya Thomas Aquinas, dengan total kata mencapai 11 juta. Peristiwa itu menjadi langkah awal yang signifikan dalam menggabungkan teknologi komputasi dengan humaniora.

Seperti kita ketahui, era digital telah menghadirkan transformasi dalam ekosistem kesusastraan. Ini berkaitan dengan tiga aspek sekaligus: dari segi produksi, distribusi dan konsumsi. Kemudahan penerbitan buku sastra yang dimungkinkan lewat penerbitan indie berbasis print on demand dan mekanisme preorder yang difasilitasi lewat media sosial.

Selain itu, platform pasar digital (atau digital marketplace), media sosial dan kanal sastra digital yang menjual konten eksklusif (seperti Wattpad, dan sebagainya) memungkinkan distribusi buku yang lebih luas tanpa melalui jaringan toko buku besar.

Cara orang mengkonsumsi wacana sastra pun bergeser: dari yang semula membaca buku dan artikel sastra di surat kabar ke membaca unggahan di media sosial dan menonton diskusi sastra di youtube.

Dalam situasi semacam itu, kata Martin, membaca semakin menjadi aktivitas sosial. “Semua perubahan ini bermuara pada dua tantangan bagi kajian sastra di era digital. Tantangan pertama adalah mengenai skala informasi. Era digital telah mendorong percepatan dalam produksi, distribusi, dan konsumsi wacana sastra,” ujar penulis yang juga ahli filsafat ini.

Skala penerbitan sastra, terutama di Indonesia menimbulkan tantangan tersendiri. “Seorang pengkaji sastra mungkin membaca sepuluh atau dua puluh novel yang terbit dalam setahun. Namun apakah dengan itu, ia bisa merumuskan penilaian tentang perkembangan sastra Indonesia yang representatif? Dua puluh novel dibandingkan berapa ribu? Seorang pengkaji sastra bisa saja menyetel dirinya sebagai seorang spesialis dalam satu genre. Namun berapa ribu buku yang diterbitkan dalam genre itu dan berapa puluh yang bisa ia betul-betul baca setiap tahun?” ujar Martin.

Lantas, bagaimana menarik kesimpulan tentang perkembangan genre tertentu dalam sastra Indonesia secara keseluruhan berdasarkan sampel sekecil itu? Bagaimana pula dengan kebutuhan mengerjakan tinjauan pustaka di zaman yang menghasilkan kepustakaan secepat kilat sedangkan kecepatan manusia membaca tetap sama seperti seratus tahun lalu? Semua perkara ini dapat disarikan dalam sebuah pertanyaan: bagaimana caranya mengerjakan kajian sastra yang representatif di hadapan banjir bandang informasi ini?

Menurut Martin, humaniora digital mampu menjawab kedua tantangan ini dan memberikan kajian sastra kekuatan baru untuk berhadapan dengan transformasi ekosistem sastra Indonesia. Berhadapan dengan masalah skala, humaniora digital menawarkan pembacaan jauh (distant reading) yang dapat melengkapi pembacaan dekat (close reading).

Jika pembacaan dekat atas belasan ribu karya dalam setahun tidak mungkin, pembacaan melalui komputer atas keseluruhan karya itu dapat membantu untuk setidaknya menangkap pola umum yang mengemuka dari korpus besar sastra Indonesia. Berhadapan dengan masalah manajemen informasi, humaniora digital menawarkan aneka cara menarik dan mengolah data secara kritis tanpa terjebak dalam algoritma bawaan platform digital.

“Social Network Analysis atas seluruh interaksi antar-pengguna Twitter dalam membicarakan sastra Indonesia, misalnya, dapat membantu pengkaji sastra untuk keluar dari filter bubble-nya sendiri yang tercipta dari lingkaran pertemanannya yang terbatas,” ujar dia.

Analisis bibliometrik atas publikasi sastra, contoh lainnya, juga memungkinkan pengkaji lebih sadar tentang peta besar dari kepustakaan akademik yang kerap tak terbaca secara manual.

Di Indonesia

Lantas, apa yang perlu dilakukan untuk memajukan pendekatan humaniora digital dalam kajian sastra di Indonesia? Menurut Martin ada dua hal dasar yang bisa diupayakan bersama. Pertama, perlu membentuk Korpus Nasional Sastra Indonesia, yakni basis data digital dari semua karya sastra Indonesia yang dapat digunakan sebagai korpus penelitian bersama seluruh pengkaji sastra Indonesia.

Untuk menghormati hukum yang mengatur hak cipta dari setiap karya tersebut, kata dia, sebaiknya Korpus Nasional ini dikelola sebagai dashboard digital yang memungkinkan pengguna menarik aneka data statistik kebahasaan dari setiap karya di dalamnya tanpa membuka akses untuk pembacaan langsung atas karya tersebut di situs.

“Dengan demikian, Korpus Nasional akan bisa melayani kebutuhan riset humaniora digital tanpa berisiko memudahkan juga tindak pembajakan karya sastra,” ujarnya.

Langkah kedua adalah mendorong pembentukan Pusat-Pusat Kajian Humaniora Digital yang melibatkan tenaga intelektual lintas-disiplin: para ahli sastra, data science, statistik, dan pemrograman. Era digital menantang para peneliti sastra di Indonesia untuk keluar dari sekat keilmuan yang digariskan oleh era sebelum digital.

“Mereka perlu lebih banyak berdialog dengan para ilmuwan dari latar belakang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan berani mengulik berbagai aparatus teknologi masa kini untuk menghasilkan temuan-temuan baru atas aneka segi kesusastraan,” ujar Martin menutup paparannya.

Selain pidato kesusastraan, acara yang dihadiri para sivitas akademika FIB UI dan juga para peminat sastra ini, dilanjutkan dengan dskusi yang menghadirkan pembicara Dr Martin Suryajaya, M.Hum dan Prof. Manneke Budiman, M.A., Ph.D, yang dipandu oleh Dr. Phil. Lily Tjanjandari, M.Hum. (M-3)

Pendekatan humaniora digital dalam kajian sastra telah membuka wawasan baru dan mengungkap dinamika yang sebelumnya tak terlihat dalam kepustakaan. Melalui analisis dataraya (big data) yang dibimbing oleh wawasan statistik dan pemikiran kritis, pendekatan ini telah mengubah cara para sarjana memahami karya sastra, dari struktur formalnya hingga representasi kultural dan sejarahnya.

Demikian intisari pidato Kesusasteraan dengan tajuk Humaniora Digital untuk Sastra Indonesia: Menjawab Tantangan Kajian Sastra di Era Digital yang disampaikan Dr. Martin Suryajaya, M.Hum, di Auditorium Gedung 4 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia, Kamis (21/12). 

Menurut Martin, keberhasilan ini menegaskan potensi besar humaniora digital dalam memberikan perspektif baru dan lebih mendalam pada studi sastra, menggabungkan kekuatan teknologi dan kepekaan humanistik dalam menganalisis karya sastra dan ekosistem sastra.

Untuk diketahui, humaniora digital adalah sebuah istilah yang relatif baru dari sebuah upaya yang berusia cukup panjang. Upaya itu, kata Martin, dimulai pada 1949, yakni ketika Roberto Busa, S.J. berkolaborasi dengan IBM untuk membuat Index Thomisticus. Ini adalah index verborum yang mengindeks seluruh kata dalam karya Thomas Aquinas, dengan total kata mencapai 11 juta. Peristiwa itu menjadi langkah awal yang signifikan dalam menggabungkan teknologi komputasi dengan humaniora.

Seperti kita ketahui, era digital telah menghadirkan transformasi dalam ekosistem kesusastraan. Ini berkaitan dengan tiga aspek sekaligus: dari segi produksi, distribusi dan konsumsi.  Kemudahan penerbitan buku sastra yang dimungkinkan lewat penerbitan indie berbasis print on demand dan mekanisme preorder yang difasilitasi lewat media sosial.  

Selain itu, platform pasar digital (atau digital marketplace), media sosial dan kanal sastra digital yang menjual konten eksklusif (seperti Wattpad, dan sebagainya) memungkinkan distribusi buku yang lebih luas tanpa melalui jaringan toko buku besar.

Cara orang mengkonsumsi wacana sastra pun bergeser: dari yang semula membaca buku dan artikel sastra di surat kabar ke membaca unggahan di media sosial dan menonton diskusi sastra di youtube.

Dalam situasi semacam itu, kata Martin, membaca semakin menjadi aktivitas sosial. “Semua perubahan ini bermuara pada dua tantangan bagi kajian sastra di era digital. Tantangan pertama adalah mengenai skala informasi. Era digital telah mendorong percepatan dalam produksi, distribusi, dan konsumsi wacana sastra,” ujar penulis yang juga ahli filsafat ini.

Skala penerbitan sastra, terutama di Indonesia menimbulkan tantangan tersendiri. “Seorang pengkaji sastra mungkin membaca sepuluh atau dua puluh novel yang terbit dalam setahun. Namun apakah dengan itu, ia bisa merumuskan penilaian tentang perkembangan sastra Indonesia yang representatif? Dua puluh novel dibandingkan berapa ribu? Seorang pengkaji sastra bisa saja menyetel dirinya sebagai seorang spesialis dalam satu genre. Namun berapa ribu buku yang diterbitkan dalam genre itu dan berapa puluh yang bisa ia betul-betul baca setiap tahun?” ujar Martin.

Lantas, bagaimana menarik kesimpulan tentang perkembangan genre tertentu dalam sastra Indonesia secara keseluruhan berdasarkan sampel sekecil itu? Bagaimana pula dengan kebutuhan mengerjakan tinjauan pustaka di zaman yang menghasilkan kepustakaan secepat kilat sedangkan kecepatan manusia membaca tetap sama seperti seratus tahun lalu?  Semua perkara ini dapat disarikan dalam sebuah pertanyaan: bagaimana caranya mengerjakan kajian sastra yang representatif di hadapan banjir bandang informasi ini?

Menurut Martin, humaniora digital mampu menjawab kedua tantangan ini dan memberikan kajian sastra kekuatan baru untuk berhadapan dengan transformasi ekosistem sastra Indonesia. Berhadapan dengan masalah skala, humaniora digital menawarkan pembacaan jauh (distant reading) yang dapat melengkapi pembacaan dekat (close reading).

Jika pembacaan dekat atas belasan ribu karya dalam setahun tidak mungkin, pembacaan melalui komputer atas keseluruhan karya itu dapat membantu untuk setidaknya menangkap pola umum yang mengemuka dari korpus besar sastra Indonesia. Berhadapan dengan masalah manajemen informasi, humaniora digital menawarkan aneka cara menarik dan mengolah data secara kritis tanpa terjebak dalam algoritma bawaan platform digital.

“Social Network Analysis atas seluruh interaksi antar-pengguna Twitter dalam membicarakan sastra Indonesia, misalnya, dapat membantu pengkaji sastra untuk keluar dari filter bubble-nya sendiri yang tercipta dari lingkaran pertemanannya yang terbatas,” ujar dia.

Analisis bibliometrik atas publikasi sastra, contoh lainnya, juga memungkinkan pengkaji lebih sadar tentang peta besar dari kepustakaan akademik yang kerap tak terbaca secara manual.

Di Indonesia

Lantas, apa yang perlu dilakukan untuk memajukan pendekatan humaniora digital dalam kajian sastra di Indonesia? Menurut Martin ada dua hal dasar yang bisa diupayakan bersama. Pertama, perlu membentuk Korpus Nasional Sastra Indonesia, yakni basis data digital dari semua karya sastra Indonesia yang dapat digunakan sebagai korpus penelitian bersama seluruh pengkaji sastra Indonesia.

Untuk menghormati hukum yang mengatur hak cipta dari setiap karya tersebut, kata dia, sebaiknya Korpus Nasional ini dikelola sebagai dashboard digital yang memungkinkan pengguna menarik aneka data statistik kebahasaan dari setiap karya di dalamnya tanpa membuka akses untuk pembacaan langsung atas karya tersebut di situs.

“Dengan demikian, Korpus Nasional akan bisa melayani kebutuhan riset humaniora digital tanpa berisiko memudahkan juga tindak pembajakan karya sastra,” ujarnya.

Langkah kedua adalah mendorong pembentukan Pusat-Pusat Kajian Humaniora Digital yang melibatkan tenaga intelektual lintas-disiplin: para ahli sastra, data science, statistik, dan pemrograman. Era digital menantang para peneliti sastra di Indonesia untuk keluar dari sekat keilmuan yang digariskan oleh era sebelum digital.

“Mereka perlu lebih banyak berdialog dengan para ilmuwan dari latar belakang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan berani mengulik berbagai aparatus teknologi masa kini untuk menghasilkan temuan-temuan baru atas aneka segi kesusastraan,” ujar Martin menutup paparannya.

Selain pidato kesusastraan, acara yang dihadiri para sivitas akademika FIB UI dan juga para peminat sastra ini, dilanjutkan dengan dskusi yang menghadirkan pembicara Dr Martin Suryajaya, M.Hum dan Prof. Manneke Budiman, M.A., Ph.D, yang dipandu oleh  Dr. Phil. Lily Tjanjandari, M.Hum. (M-3)

Sumber: mediaindonesia.com