MICE  

Forpasi Tantang Capres Benahi Persoalan Sampah

Forpasi Tantang Capres Benahi Persoalan Sampah

DALAM rangka mendorong penyelesaian permasalahan sampah dan pesta demokrasi, Forum Peduli Sampah Seluruh Indonesia (Forpasi) bersama dengan BijakMemilih, menggelar “1 2 3, Siapa Peduli Sampah?”.

Acara ini digagas untuk mengetahui sejauh mana calon presiden (capres) memiliki komitmen dalam mengatasi permasalahan sampah secara menyeluruh.

“Acara ini merupakan kontribusi kepada diskursus isu publik, khususnya
isu sampah dan secara bersamaan menjadi referensi isu, bagi pemilih
khususnya kaum muda dalam menentukan pilihannya. Kami memliki focus
dalam meningkatkan kepedulian public terhadap isu persampahan sehingga
menciptakan keberpihakan politik para pemimpin publik,” kata pendiri dan inisiator Forpasi, Hadohoan Satyalen Simareme.

Menurut Hadohoan, terbakarnya 38 TPA dalam Juni-Oktober 2023 merupakan bukti kekasaran umat manusia pada lingkungan. Dampaknya kembali ke mansuia, udaranya yang dihirup, airnya di minum dan sumber dayanya makan.

“Keberpihakan politik dari para capres sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan isu sampah, sehingga terdapat prioritas dan anggaran yang
benar benar memadai. Kami juga mengusulkan pembentukan badan
penanggulanangan sampah nasional untuk mengintegrasikan penanganan
sampah dari hulu ke hilir, dan dari tingkat pusat hingga daerah,” ungkapnya.

Dalam acara diskusi itu hadir Sri Bebassari, Ketua Dewan Pembina
Indonesian Solid Waste Association (InSWA), yang merupakan narasumber
pakar dalam pengelolaan sampah tingkat nasional. Dia dijuluki sebagai
Ratu Sampah, yang ikut menggagas Undang Undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Sri, kata Hadohoan, memiliki keresahan mengenai upaya yang belum
terintegrasi sehingga belum mencapai penyelesaian yang optimal. Kegiatan yang ada masih sporadis, khususnya di masyarakat, kebanyakan masih berbasis kesukarelawanan dan hobi.

Pengelolaan sampah bukan hanya sekadar membuat bank sampah, maupun bisnis daur ulang. Idealnya, industri sampah adalah industri jasa
kebersihan. Tanpa sistem yang jelas dari pemerintah pusat, upaya-upaya
ini dampaknya belum signifikan.

Fazlur Rahman dari tim substansi Capres Anies dan cawapres Muhaimin
(Amin), secara langsung menyampaikan berbagai kesuksesan dan keseriusan
Anies Baswedan ketika menjabat di DKI Jakarta. Masalah sampah jelas akan menjadi prioritas Amin.

“Dalam visi misi yang beredar, kata sampah kami cantumkan lebih banyak
dibandingkan yang lain. Tidak hanya sampah kota, tetapi juga sampah di
desa,” tandasnya. (SG)

DALAM rangka mendorong penyelesaian permasalahan sampah dan pesta demokrasi, Forum Peduli Sampah Seluruh Indonesia (Forpasi) bersama dengan BijakMemilih, menggelar “1 2 3, Siapa Peduli Sampah?”.

Acara ini digagas untuk mengetahui sejauh mana calon presiden (capres) memiliki komitmen dalam mengatasi permasalahan sampah secara menyeluruh.

“Acara ini merupakan kontribusi kepada diskursus isu publik, khususnya

isu sampah dan secara bersamaan menjadi referensi isu, bagi pemilih

khususnya kaum muda dalam menentukan pilihannya. Kami memliki focus

dalam meningkatkan kepedulian public terhadap isu persampahan sehingga

menciptakan keberpihakan politik para pemimpin publik,” kata pendiri dan inisiator Forpasi, Hadohoan Satyalen Simareme.

Menurut Hadohoan, terbakarnya 38 TPA dalam Juni-Oktober 2023 merupakan bukti kekasaran umat manusia pada lingkungan. Dampaknya kembali ke mansuia, udaranya yang dihirup, airnya di minum dan sumber dayanya makan.

“Keberpihakan politik dari para capres sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan isu sampah, sehingga terdapat prioritas dan anggaran yang

benar benar memadai. Kami juga mengusulkan pembentukan badan

penanggulanangan sampah nasional untuk mengintegrasikan penanganan

sampah dari hulu ke hilir, dan dari tingkat pusat hingga daerah,” ungkapnya.

Dalam acara diskusi itu hadir Sri Bebassari, Ketua Dewan Pembina

Indonesian Solid Waste Association (InSWA), yang merupakan narasumber

pakar dalam pengelolaan sampah tingkat nasional. Dia dijuluki sebagai

Ratu Sampah, yang ikut menggagas Undang Undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Sri, kata Hadohoan,  memiliki keresahan mengenai upaya yang belum

terintegrasi sehingga belum mencapai penyelesaian yang optimal. Kegiatan yang ada masih sporadis, khususnya di masyarakat, kebanyakan masih berbasis kesukarelawanan dan hobi.

Pengelolaan sampah bukan hanya sekadar membuat bank sampah, maupun bisnis daur ulang. Idealnya, industri sampah adalah industri jasa

kebersihan. Tanpa sistem yang jelas dari pemerintah pusat, upaya-upaya

ini dampaknya belum signifikan.

Fazlur Rahman dari tim substansi Capres Anies dan cawapres Muhaimin

(Amin), secara langsung menyampaikan berbagai kesuksesan dan keseriusan

Anies Baswedan ketika menjabat di DKI Jakarta. Masalah sampah jelas akan menjadi prioritas Amin.

“Dalam visi misi yang beredar, kata sampah kami cantumkan lebih banyak

dibandingkan yang lain. Tidak hanya sampah kota, tetapi juga sampah di

desa,” tandasnya. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com