MICE  

Era Wonderkids belum Tiba

Era Wonderkids belum Tiba

MANCHESTER United harus mengubur mimpi melanjutkan kiprah di Liga Champions. Kekalahan 0-1 dari Bayern Muenchen menempatkan ‘Setan Merah’ di posisi paling buncit penyisihan grup dengan hanya mengantongi 4 poin.

Erik ten Hag belum berhasil mengangkat Manchester United dari keterpurukan. Bahkan boleh dikatakan tim asuhannya makin tenggelam dalam keterpurukan. Tujuh kekalahan dalam 16 kali pertandingan di Liga Primer jelas bukan capaian yang pantas dibanggakan.

Apalagi Minggu malam besok mereka harus bertandang ke Anfield. Seperti diketahui, ‘si Merah’ bukan hanya sedang dalam tren prestasi yang menanjak, pelatih Juergen Klopp juga berhasil membangun Liverpool 2.0, tim baru yang mulai menjanjikan.

Memang prestasi Liverpool belumlah sespektakuler seperti sebelumnya. Namun, semangat juang tim sudah kembali dan mereka selalu mampu keluar dari situasi yang sulit.

Virgil van Dijk dan kawan-kawan bisa lolos dari kekalahan saat bertandang ke kandang juara bertahan Manchester City. Dalam dua pertandingan terakhir melawan Fulham dan Crystal Palace, the Reds mampu bangkit dari ketertinggalan untuk meraih kemenangan.

Kalau sekarang anak asuhan Juergen Klopp bisa bercokol di puncak klasemen, itu salah satu bukti bahwa mereka berhasil membangun Liverpool 2.0. Minggu malam ini, jika bisa membenamkan musuh besar Manchester United, bukan mustahil Liverpool akan menjadi juara paruh musim.



Anak ajaib

Sejarah Manchester United sendiri selalu ditandai dengan kehadiran wonderkids. Apabila di awal 1960-an hadir bintang muda berbakat seperti Bobby Charlton dan George Best, pada awal 1990-an muncul nama-nama seperti David Beckham, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, dan Nicky Butt.

APABILA pada awal 1960-an Matt Busby menjadi arsitek yang melahirkan anak-anak ajaib ‘Setan Merah’, pada era 1990-an Sir Alex Ferguson menjadi tokoh utamanya. Dengan materi anak-anak ajaib itu Manchester United tidak hanya merajai kompetisi Inggris, tetapi juga Eropa.

Periode kelahiran wonderkids setiap 30 tahunan itulah yang terputus sekarang ini. Seharusnya pada era 2020-an muncul anak-anak ajaib baru di Old Trafford. Ternyata Erik ten Hag yang diharapkan membuat keajaiban baru gagal untuk melakukannya.

Sudah satu dekade ‘Setan Merah’ tidak bisa lagi berbicara banyak di ajang Liga Primer. Apalagi ajang yang lebih tinggi, Liga Champions. Satu-satunya hiburan yang didapat ialah ketika musim lalu Ten Hag berhasil mempersembahkan Piala Carabao untuk pecinta Manchester United.

Manchester United sekarang ini sebenarnya tidak kekurangan pemain muda. Mereka punya pemain seperti Alejandro Garnacho yang masih berusia 19 tahun. Ada Rasmus Hojlund dan Hannibal Mejbri yang berusia 20 tahun. Bahkan yang 18 tahun seperti Kobbie Mainoo atau Finley Joseph McAllister yang berusia 17 tahun sudah mulai masuk tim senior.

Namun, mereka ternyata bukan wonderkids seperti Bobby Charlton atau Beckham. Garnacho sempat mencetak gol yang istimewa seperti pernah dilakukan Wayne Rooney ke gawang Everton. Namun, kehebatannya masih sekali-sekali saja muncul.

Sentuhan emas Ten Hag di Ajax Amsterdam belum terlihat berhasil di Old Trafford. Pemain-pemain muda yang ada belum kunjung matang seperti Beckham pertama tampil di Liga Utama Inggris.

Dibutuhkan perombakan besar agar karakter permainan yang keras dan tanpa kompromi ‘Setan Merah’ kembali muncul. Itu membutuhkan kemampuan teknik yang tinggi dan kerja sama yang apik agar permainan tidak malah menjadi kasar.



Ujian berat

Mimpi buruk Ten Hag menjadi terasa nyata karena Minggu malam ini ia harus kehilangan 13 pemain menjelang bertandang ke Anfield. Dua pemain terakhir yang harus ditarik keluar saat bertemu Bayern Muenchen ialah dua pemain belakang Harry Maguire dan Luke Shaw.

Sebelumnya ‘Setan Merah’ harus mengistirahatkan Lisandro Martinez (cedera kaki), Casemiro (cedera paha), serta Tyrell Malacia, Christian Eriksen, dan Amad Diallo yang sama-sama mengalami cedera lutut. Sementara itu, kapten kesebelasan Bruno Fernandes besok tidak bisa tampil karena larangan bermain.

Bayang-bayang kekalahan 0-7 pada musim lalu wajar kini muncul kembali. Kalau itu sampai terjadi lagi, bukan mustahil Ten Hag akan kehilangan kursi pelatihnya karena gagal membangunkan harapan bagi Manchester United.

Apabila Mohamed Salah-Darwin Nunez-Luis Diaz bisa mencuri gol pada awal pertandingan, bukan mustahil mereka akan bisa berpesta gol kembali. Dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, pertahanan ‘Setan Merah’ akan semakin mudah goyah.

Para pemain Liverpool pasti tidak pernah akan memberi ampun. Apalagi lawan yang dihadapi ialah musuh besar mereka selama ini. The Kop akan sangat berpesta apabila bisa kembali mempermalukan tim lawan mereka.

Kemungkinan itu diperkuat materi pemain ‘si Merah’ yang jauh lebih solid. Klopp membangkucadangkan semua pemain utama saat tampil di penyisihan grup Liga Eropa, Kamis lalu. Meski harus menelan kekalahan 1-2 dari Union Saint-Gilloise, Belgia, tapi itu tidak memengaruhi langkah ‘si Merah’ menjadi juara grup. Semua itu dipilih agar semua pemain siap untuk menghadapi Manchester United.

Untuk memperkuat daya gempur, bukan mustahil Klopp akan mendorong bek kanan Trent Alexander-Arnold bermain ke tengah. Kehadiran Alexander-Arnold akan sangat membantu Alexis Mac Alister atau Wataru Endo untuk bisa bergantian ke luar menyerang. Hal itu akan juga menambah kemampuan bagi Dominik Szoboszlai dan Cody Gakpo untuk menyuplai bola bagi trisula mereka di depan.

Apabila format 3-4-3 yang dipilih Klopp, formassi Joe Gomez-Van Dijk-Ibrahima Konate merupakan pilihan terbaik untuk mengawal pertahanan. Tiga center-back itu akan mampu mengendalikan trio penyerang lawan, Garnacho-Anthony Martial-Marcus Rashford. Apalagi jika Martial dan Rashford tidak kunjung sembuh dari sakit seperti saat menghadapi Bayern Muenchen Selasa lalu. Pilihan yang tersisa dari ‘Setan Merah’ tinggal terletak pada Anthony dan Hojlund.

Materi kelas dua yang dimiliki Manchester United tentunya bukan ancaman besar bagi kiper Allison Becker. Absennya Fernandes sebagai pengatur serangan akan membuat para pemain tamu kehilangan orkestrator.

Awal kelam yang menyelimuti Old Trafford akan membawa malapetaka bagi Ten Hag. Pemilik baru Manchester United Sir Jim Ratcliffe sudah memberikan sinyal bahwa pertandingan besok akan menjadi pertandingan perpisahan bagi pelatih asal Belanda itu. Ratcliffe yang merogoh kantong 1,3 miliar pound sterling untuk mendapatkan 25% kepemilikan ‘Setan Merah’ sudah menawari Graham Potter untuk menggantikan Ten Hag.

Namun, center-back Manchester United Jonny Evans yakin timnya tidak semudah yang diperkirakan untuk bisa dikalahkan Liverpool. “Kegagalan di Liga Champions justru menjadi pemicu untuk berkonsentrasi di Liga Primer. Kami sudah melupakan kekalahan kemarin dan masih ada waktu bagi kami mempersiapkan diri menghadapi pertandingan besar di Anfield,” ujar Evans mencoba optimistis.



MANCHESTER United harus mengubur mimpi melanjutkan kiprah di Liga Champions. Kekalahan 0-1 dari Bayern Muenchen menempatkan ‘Setan Merah’ di posisi paling buncit penyisihan grup dengan hanya mengantongi 4 poin.

Erik ten Hag belum berhasil mengangkat Manchester United dari keterpurukan. Bahkan boleh dikatakan tim asuhannya makin tenggelam dalam keterpurukan. Tujuh kekalahan dalam 16 kali pertandingan di Liga Primer jelas bukan capaian yang pantas dibanggakan.

Apalagi Minggu malam besok mereka harus bertandang ke Anfield. Seperti diketahui, ‘si Merah’ bukan hanya sedang dalam tren prestasi yang menanjak, pelatih Juergen Klopp juga berhasil membangun Liverpool 2.0, tim baru yang mulai menjanjikan.

Memang prestasi Liverpool belumlah sespektakuler seperti sebelumnya. Namun, semangat juang tim sudah kembali dan mereka selalu mampu keluar dari situasi yang sulit.

Virgil van Dijk dan kawan-kawan bisa lolos dari kekalahan saat bertandang ke kandang juara bertahan Manchester City. Dalam dua pertandingan terakhir melawan Fulham dan Crystal Palace, the Reds mampu bangkit dari ketertinggalan untuk meraih kemenangan.

Kalau sekarang anak asuhan Juergen Klopp bisa bercokol di puncak klasemen, itu salah satu bukti bahwa mereka berhasil membangun Liverpool 2.0. Minggu malam ini, jika bisa membenamkan musuh besar Manchester United, bukan mustahil Liverpool akan menjadi juara paruh musim.

 

Anak ajaib

Sejarah Manchester United sendiri selalu ditandai dengan kehadiran wonderkids. Apabila di awal 1960-an hadir bintang muda berbakat seperti Bobby Charlton dan George Best, pada awal 1990-an muncul nama-nama seperti David Beckham, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, dan Nicky Butt.

APABILA pada awal 1960-an Matt Busby menjadi arsitek yang melahirkan anak-anak ajaib ‘Setan Merah’, pada era 1990-an Sir Alex Ferguson menjadi tokoh utamanya. Dengan materi anak-anak ajaib itu Manchester United tidak hanya merajai kompetisi Inggris, tetapi juga Eropa.

Periode kelahiran wonderkids setiap 30 tahunan itulah yang terputus sekarang ini. Seharusnya pada era 2020-an muncul anak-anak ajaib baru di Old Trafford. Ternyata Erik ten Hag yang diharapkan membuat keajaiban baru gagal untuk melakukannya.

Sudah satu dekade ‘Setan Merah’ tidak bisa lagi berbicara banyak di ajang Liga Primer. Apalagi ajang yang lebih tinggi, Liga Champions. Satu-satunya hiburan yang didapat ialah ketika musim lalu Ten Hag berhasil mempersembahkan Piala Carabao untuk pecinta Manchester United.

Manchester United sekarang ini sebenarnya tidak kekurangan pemain muda. Mereka punya pemain seperti Alejandro Garnacho yang masih berusia 19 tahun. Ada Rasmus Hojlund dan Hannibal Mejbri yang berusia 20 tahun. Bahkan yang 18 tahun seperti Kobbie Mainoo atau Finley Joseph McAllister yang berusia 17 tahun sudah mulai masuk tim senior.

Namun, mereka ternyata bukan wonderkids seperti Bobby Charlton atau Beckham. Garnacho sempat mencetak gol yang istimewa seperti pernah dilakukan Wayne Rooney ke gawang Everton. Namun, kehebatannya masih sekali-sekali saja muncul.

Sentuhan emas Ten Hag di Ajax Amsterdam belum terlihat berhasil di Old Trafford. Pemain-pemain muda yang ada belum kunjung matang seperti Beckham pertama tampil di Liga Utama Inggris.

Dibutuhkan perombakan besar agar karakter permainan yang keras dan tanpa kompromi ‘Setan Merah’ kembali muncul. Itu membutuhkan kemampuan teknik yang tinggi dan kerja sama yang apik agar permainan tidak malah menjadi kasar.

 

Ujian berat

Mimpi buruk Ten Hag menjadi terasa nyata karena Minggu malam ini ia harus kehilangan 13 pemain menjelang bertandang ke Anfield. Dua pemain terakhir yang harus ditarik keluar saat bertemu Bayern Muenchen ialah dua pemain belakang Harry Maguire dan Luke Shaw.

Sebelumnya ‘Setan Merah’ harus mengistirahatkan Lisandro Martinez (cedera kaki), Casemiro (cedera paha), serta Tyrell Malacia, Christian Eriksen, dan Amad Diallo yang sama-sama mengalami cedera lutut. Sementara itu, kapten kesebelasan Bruno Fernandes besok tidak bisa tampil karena larangan bermain.

Bayang-bayang kekalahan 0-7 pada musim lalu wajar kini muncul kembali. Kalau itu sampai terjadi lagi, bukan mustahil Ten Hag akan kehilangan kursi pelatihnya karena gagal membangunkan harapan bagi Manchester United.

Apabila Mohamed Salah-Darwin Nunez-Luis Diaz bisa mencuri gol pada awal pertandingan, bukan mustahil mereka akan bisa berpesta gol kembali. Dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, pertahanan ‘Setan Merah’ akan semakin mudah goyah.

Para pemain Liverpool pasti tidak pernah akan memberi ampun. Apalagi lawan yang dihadapi ialah musuh besar mereka selama ini. The Kop akan sangat berpesta apabila bisa kembali mempermalukan tim lawan mereka.

Kemungkinan itu diperkuat materi pemain ‘si Merah’ yang jauh lebih solid. Klopp membangkucadangkan semua pemain utama saat tampil di penyisihan grup Liga Eropa, Kamis lalu. Meski harus menelan kekalahan 1-2 dari Union Saint-Gilloise, Belgia, tapi itu tidak memengaruhi langkah ‘si Merah’ menjadi juara grup. Semua itu dipilih agar semua pemain siap untuk menghadapi Manchester United.

Untuk memperkuat daya gempur, bukan mustahil Klopp akan mendorong bek kanan Trent Alexander-Arnold bermain ke tengah. Kehadiran Alexander-Arnold akan sangat membantu Alexis Mac Alister atau Wataru Endo untuk bisa bergantian ke luar menyerang. Hal itu akan juga menambah kemampuan bagi Dominik Szoboszlai dan Cody Gakpo untuk menyuplai bola bagi trisula mereka di depan.

Apabila format 3-4-3 yang dipilih Klopp, formassi Joe Gomez-Van Dijk-Ibrahima Konate merupakan pilihan terbaik untuk mengawal pertahanan. Tiga center-back itu akan mampu mengendalikan trio penyerang lawan, Garnacho-Anthony Martial-Marcus Rashford. Apalagi jika Martial dan Rashford tidak kunjung sembuh dari sakit seperti saat menghadapi Bayern Muenchen Selasa lalu. Pilihan yang tersisa dari ‘Setan Merah’ tinggal terletak pada Anthony dan Hojlund.

Materi kelas dua yang dimiliki Manchester United tentunya bukan ancaman besar bagi kiper Allison Becker. Absennya Fernandes sebagai pengatur serangan akan membuat para pemain tamu kehilangan orkestrator.

Awal kelam yang menyelimuti Old Trafford akan membawa malapetaka bagi Ten Hag. Pemilik baru Manchester United Sir Jim Ratcliffe sudah memberikan sinyal bahwa pertandingan besok akan menjadi pertandingan perpisahan bagi pelatih asal Belanda itu. Ratcliffe yang merogoh kantong 1,3 miliar pound sterling untuk mendapatkan 25% kepemilikan ‘Setan Merah’ sudah menawari Graham Potter untuk menggantikan Ten Hag.

Namun, center-back Manchester United Jonny Evans yakin timnya tidak semudah yang diperkirakan untuk bisa dikalahkan Liverpool. “Kegagalan di Liga Champions justru menjadi pemicu untuk berkonsentrasi di Liga Primer. Kami sudah melupakan kekalahan kemarin dan masih ada waktu bagi kami mempersiapkan diri menghadapi pertandingan besar di Anfield,” ujar Evans mencoba optimistis.

 

 

Sumber: mediaindonesia.com