Indeks
MICE  

Eksistensi Kerupuk, Antara Ada dan Tiada

Eksistensi Kerupuk, Antara Ada dan Tiada

BANYAK orang menyukai kerupuk, bahkan tidak sedikit yang mengatakan, “Makan tanpa kerupuk tidak lengkap rasanya.” Namun, seberapa jauh orang mengenal kerupuk? Mengapa dinamakan kerupuk, dari mana asalnya, sampai apakah kerupuk layak disebut sebagai warisan budaya tak benda?

Dari sekian banyak literatur tentang kerupuk dalam bentuk penelitian dan semacamnya, semuanya hanya menyangkut teknis belaka. Belum ada satu pun buku yang mengulas perihal kerupuk dari aspek sejarah dan budaya gastronomi. Barangkali karena kerupuk dianggap tidak penting.

Sebab itu, saya tergerak menuliskan buku tentang kerupuk dari aspek sejarah dan budaya. Buku yang akan segera terbit ini bertolak dari keberadaan pabrik Kerupuk Klenteng Rasa Asli di Bojonegoro yang yang berdiri sejak 1929 dan masih eksis hingga generasi keempat sekarang ini. Kerupuk (kadang ditulis krupuk) adalah sejenis makanan ringan yang terbuat dari tepung tapioka. Pada umumnya kerupuk bukanlah makanan yang dapat ‘berdiri sendiri’, melainkan hanya sebagai pelengkap, sebagaimana juga rempeyek. Berbeda dengan keripik atau rambak yang dapat dikonsumsi secara mandiri, meski sebetulnya rambak juga digolongkan sebagai jenis kerupuk.

Disebut krupuk oleh orang Jawa, keropok di Malaysia, dan kropek dalam bahasa Tagalog di Filipina, kesemuanya terbuat dari tepung singkong (tapioka). Namun, di Sumatra dan Kalimantan, kerupuk yang disebut kemplang atau amplang umumnya terbuat dari ikan tenggiri, yang dicampur dengan tepung tapioka dan penyedap rasa lain, dikeringkan dan kemudian dipanggang atau digoreng.

Di Bali, yang disebut kerupuk ialah terbuat dari kulit babi, yang di Jawa biasa disebut rambak atau kerupuk rambak. Demikian pula di Nusa Tenggara, meski bukan dari kulit babi, yang dimaksudkan kerupuk adalah juga rambak. Adapun di Sulawesi, kerupuk adalah salah satu jenis camilan yang bisa dimakan tanpa harus menjadi penyerta nasi.

Kerupuk telah meniti perjalanan yang sangat panjang, lintas waktu, dan lintas masa sehingga ada kerupuk tertentu yang menjadi ‘benda warisan’ dari suatu generasi ke generasi. Kerupuk merupakan produk budaya, maka dapat dibilang sebagai warisan budaya (heritage). Kerupuk dalam konteks ini merupakan aset budaya yang dimiliki oleh negara atau lebih khusus lagi milik khas dari suatu daerah, yang disebut dengan heritage lokal (daerah). Maka, terbukalah kemungkinan ada suatu jenis kerupuk tertentu yang jadi ikon daerah karena kerupuklah yang membuat daerah itu tenar.

Khusus kerupuk tapioka, itu panganan asli Indonesia, terutama Jawa yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di seluruh Nusantara dan banyak negara. Kerupuk ini menjadi penganan semua lapisan dengan tersaji di warung pinggir jalan, restoran, perkantoran, rumah  rakyat kecil sampai orang kaya.

Sejumlah nama tenar yang dikenal penyuka kerupuk ialah Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudoyono, Wapres Ma’ruf Amin, Gibran Rakabuming Raka, termasuk pejabat Kemenlu Tiongkok Dong Shuhui. Bahkan seusai acara balap besar Moto-GP di Mandalika pada 2022, Presiden Jokowi memberikan cendera mata khusus kepada para pembalap berupa bumbu makanan khas Indonesia, rempah seduh, berbagai varian kopi, juga kerupuk.

Popularitas kerupuk bahkan melampaui fungsinya sebagai makanan. Lomba makan kerupuk tidak terpisahkan dari perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, lomba makan kerupuk setiap 17-an juga merupakan simbol keprihatinan. Ini berasal dari kondisi masyarakat pada era 30-40-an yang sangat kekurangan bahan pangan sehingga hanya bisa makan dengan lauk kerupuk serta olahan bahan pangan dari singkong.

Kerupuk juga terdapat pada nyanyian. Contohnya ialah lagu anak-anak berjudul Kerupuk yang menarasikan kerupuk yang rasanya kriuk-kriuk dan disuka oleh anak-anak. Di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, juga terdapat lagu berjudul Kerupuk Basah. Dalam ajang pameran seni rupa kontemporer ArtJog, kerupuk juga pernah menjadi tema sentral karya FX Harsono (2015) dan Fajar (2018), pameran di Galeri Nasional oleh Dedi Sufriadi (2015), dan beberapa pameran lainnya. Kerupuk juga pernah menjadi cerita sinetron di RCTI berjudul Kaleng Kerupuk Pembawa Cinta (2019). Pada pertunjukan tradisional Sandur Manduro dari Jombang, Jawa Timur, terdapat hiasan kerupuk yang digantunggantung sekeliling panggung.

Sebuah lagu lama berbahasa Belanda yang berkisah tentang nasi goreng ternyata juga menyinggung soal kerupuk dalam syairnya berikut ini. Geef mij maar nasi goreng met een gebakken eiWat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbijGeef mij maar nasi goreng met een gebakken eiWat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier
…………
Terjemahan bebasnya:
…………..
Beri saja aku nasi goreng dengan telur dadar dengan sambal dan kerupuk dan segelas bir Beri saja aku nasi goreng dengan telur dadar dengan sambal dan kerupuk dan segelas bir
……………..

Mental kerupuk

Popularitas kerupuk juga dijadikan perumpamaan untuk orang-orang yang memiliki sifat kurang ulet atau gampang menyerah. Misalnya, mental kerupuk yang mengacu pada sifat kerupuk yang ketika baru digoreng terlihat garang dan renyah, tetapi ketika dibiarkan di udara terbuka dalam waktu yang tidak lama akan berubah melempem.

Istilah kerupuk sangat populer dalam kehidupan kita sehari-hari terkait dengan tradisi mengonsumsi lauk-pauk dalam berbagai bentuk olahan. Karena itu, ada kata lain yang ditempatkan sebelum kata krupuk, yakni iwak, sehingga terdapat kata gabung iwak krupuk sebagai pertanda bahwa kerupuk dijadikan sebagai lauk. Bagi kaum papa, meski lauk itu tidak berbahan daging atau ikan (iwak), sebutan untuknya sebagai lauk adalah iwak… seperti juga pada sebutan iwak tempe, iwak tahu, iwak peyek, iwak endog, dan seba gainya.

Asal-usul dan ragam

Mengapa dinamakan kerupuk? Mungkin ini jenis onomatope (nama berdasarkan bunyinya), kerupuk ketika dimakan berbunyi kriuk, atau kress, dalam bahasa Inggris juga disebut crackers. 

Istilah kerupuk ditemukan di Kakawin Ramayana, Kakawin Bhomakawya yang ditulis Mpu Panuluh, Kakawin Sumanasantaka yang ditulis Mpu Monaguna di abad XII, termasuk Serat Centhini yang menyebutkan beberapa jenis kerupuk. Asal-usul kerupuk, menurut Fadly Rahman, sudah sangat tua, yakni sekitar abad ke-9, yang ditemukan pada prasasti Watukura I (902 M) yang menyebut kerupuk rambak.

Secara geografis kerupuk terbagi dua, yaitu kerupuk pesisir dan kerupuk pedalaman. Kerupuk pesisir biasanya dibuat dengan bahan ikan, udang, cumicumi, dan hasil pertambakan. Adapun kerupuk pedalaman biasanya terbuat dari singkong, nasi, ketan, ubi jalar, dan sebagainya. Namun, kerupuk juga dapat dibagi menurut bahan, bentuk, cara pembuatan, rasa, asal daerah, warna, dan juga perusahaan yang membuatnya, atau juga kota asalnya. Dengan demikian, ada kerupuk yang namanya sama, tapi bentuknya berbeda ataupun sebaliknya.

Yang menarik, di Kapuas Hulu, kerupuk tidak selalu identik dengan kerenyahan. Di sana ada kerupuk basah (temet, kerupuk bata) yang berbahan ikan yang habitatnya di sungai– kuliner khas Putussibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kebiasaan masyarakat Indonesia melakukan eksperimen terhadap makanan telah menciptakan banyak sekali varian dari kerupuk. Di beberapa daerah kerupuk telah menjadi salah satu makanan khas. Aspek tertentu dari kerupuk ditonjolkan sehingga menjadikan kerupuk tersebut sebagai bagian dari simbol daerah.

Salah satu jenis kerupuk yang dibuat di Bojonegoro ialah ‘Kerupuk Klenteng Rasa Asli’. Nama tersebut mengacu pada merek dagang yang dilekatkan pada tempat produksinya yang memang tidak jauh dari Kelenteng Hok Swie Bio di Kota Bojonegoro. Kerupuk ini diklaim sebagai ‘kerupuk asli’ Bojonegoro dan dianggap sebagai salah satu makanan khas kabupaten di Jawa Timur bagian barat ini.

Salah satu ciri yang menonjol dari kerupuk itu ialah warnanya, yaitu merah dan hijau, sehingga dikenal dengan sebutan kerupuk abang ijo, meski dalam perkembangannya ada warna kuning dan putih. Kerupuk Klenteng diproduksi pertama kali oleh Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio pada 1929. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerupuk yang diproduksi tanpa bahan penyedap, pengembang, dan pewarna sintetis ini telanjur menjadi makanan yang disuka oleh konsumen, bahkan menjadi makanan kesukaan hingga anak cucu mereka.

Beraneka ragamanya kerupuk klenteng juga menunjukkan kemampuan inovasi mereka. Inovasi dan manajemen perusahaan yang andal itulah yang menyebabkan usaha makanan ini bisa bertahan hingga sekarang. Pergantian manajemen atau pengelola tidak memengaruhi kualitas produksi, jenis produksi, dan lain-lain.

Ini juga menunjukkan bahwa proses pewarisan di perusahaan tersebut telah berlangsung dengan sangat halus dan sangat baik. Bentuk, warna, dan terutama rasa kerupuk, masih tetap sama sejak dulu hingga sekarang. (M-1)
 

Sumber: mediaindonesia.com

Exit mobile version