MICE  

Diaspora NTT Jakarta Buka Galeri Tenun Ikat di Mangga Dua

Diaspora NTT Jakarta Buka Galeri Tenun Ikat di Mangga Dua

DIASPORA Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta membuka galeri tenun ikat di Kopi In Town, Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Utara. Salah satu pengurus Forum Komunikasi Masyarakat Flobamorata Jakarta Paulus Doni Ruing mengungkapkan galeri yang diberi nama Almari Bumi Flobamorata dibuka atas kerja sama dan kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk dengan pengelola Pasar Pagi Mangga Dua.

Pria yang akrab disapa Polce itu mengungkapkan Almari Bumi Flobamorata mengusung konsep ekosistem bisnis skala menengah. Di galeri tersebut nantinya akan tersedia tenun ikat khas NTT dan didesain kembali oleh desainer guna meningkatkan nilai jual dari tenun ikat itu sendiri.

“Kita di sana (NTT) banyak penenun, tapi pasarnya susah, akses pasar dan keuangan itu yang sulit. Sementara di tempat ini, Pasar Pagi Mangga Dua ini dikenal sebagai pusat fesyen terbesar di Indonesia. Maka ini buat kita sebagai anugerah dan berkah, karena mendapatkan dukungan dan kami tidak dipungut biaya,” kata Polce, kepada Media Indonesia, Senin (11/12).

Polce mengatakan Almari Bumi Flobamorata sebagai upaya dari Forum Komunikasi Masyarakat Flobamorata Jakarta untuk membantu memasarkan tenun ikat kampung halaman. Ia mengaku para perantau dari NTT di Jakarta memiliki niat untuk membantu para penenun di kampung halaman untuk terus berkarya dan hasilnya dibeli dengan harga yang layak.

“Kalau di NTT itu biasanya dijual ikat tenun itu Rp200-300 ribu. Itu satuan dan nilai ekonomisnya rendah. Di sini kita coba kolaborasikan dengan desainer dan mungkin kita bisa bikin jas yang harganya bisa jadi Rp2-3 juta. Dengan begitu, nilai ekonomis dari tenun ikut juga bertambah meningkatkan pendapatan penenun,” katanya.

Selain meningkatkan pendapatan penenun, Polce mengungkapkan adanya galeri tenun ikat ini sebagai upaya kecil untuk mengatasi permasalahan perdagangan manusia di NTT. Ia mengatakan perempuan yang sebelumnya menenun tetapi tidak mendapatkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari kemudian digoda untuk bekerja di luar negeri dan naasnya menjadi korban perdagangan manusia.

Polce berharap dengan adanya galeri tenun ikat di Jakarta membuat penenun di NTT mempunyai tempat untuk menjual hasil karyanya. Selain mendatangkan cuan, terus membuat tenun ikat juga sebagai upaya melestarikan tenun ikat yang memiliki nilai budaya dan spiritual.

“Ada masalah di NTT yang mau kita selesaikan. Bukan total, tapi perlahan, yang namanya human trafficking, cara mencegah human trafficking itu, korbannya banyak perrmpuan. Sementara penenun itu kan semua harus perempuan. Satu kabupaten bisa 100 penenun. Jadi, perempuan itu gak perlu keluar untuk bekerja,” katanya.

Lebih lanjut, Polce mengungkapkan ke depan pihaknya akan membuat lokapasar untuk menjual koleksi di Almari Bumi Flobamorata. Nantinya, setiap koleksi tenun ikat yang dijual akan menyertakan arti dan sejarahnya. Selain itu, pihaknya juga berencana menggelar fashion show tenun ikat NTT dengan menggandeng perancang busana nasional.

“Ini adalah upaya untuk menunjukkan identitas kita. Kemudian ini juga langkah kita untuk menunjukkan potensi kita tidak kalah dari negara lain. Kita punya keterbatasan akses pasar, akses informasi, akses modal, tetapi itu bukan jadi halangan. Justru itu tantangan yang perlu kita coba cari solusi dan kita usahakan untuk kesejahteraan semua,” pungkasnya. (M-1)

DIASPORA Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta membuka galeri tenun ikat di Kopi In Town, Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Utara. Salah satu pengurus Forum Komunikasi Masyarakat Flobamorata Jakarta Paulus Doni Ruing mengungkapkan galeri yang diberi nama Almari Bumi Flobamorata dibuka atas kerja sama dan kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk dengan pengelola Pasar Pagi Mangga Dua.

Pria yang akrab disapa Polce itu mengungkapkan Almari Bumi Flobamorata mengusung konsep ekosistem bisnis skala menengah. Di galeri tersebut nantinya akan tersedia tenun ikat khas NTT dan didesain kembali oleh desainer guna meningkatkan nilai jual dari tenun ikat itu sendiri.

“Kita di sana (NTT) banyak penenun, tapi pasarnya susah, akses pasar dan keuangan itu yang sulit. Sementara di tempat ini, Pasar Pagi Mangga Dua ini dikenal sebagai pusat fesyen terbesar di Indonesia. Maka ini buat kita sebagai anugerah dan berkah, karena mendapatkan dukungan dan kami tidak dipungut biaya,” kata Polce, kepada Media Indonesia, Senin (11/12).

Polce mengatakan Almari Bumi Flobamorata sebagai upaya dari Forum Komunikasi Masyarakat Flobamorata Jakarta untuk membantu memasarkan tenun ikat kampung halaman. Ia mengaku para perantau dari NTT di Jakarta memiliki niat untuk membantu para penenun di kampung halaman untuk terus berkarya dan hasilnya dibeli dengan harga yang layak.

“Kalau di NTT itu biasanya dijual ikat tenun itu Rp200-300 ribu. Itu satuan dan nilai ekonomisnya rendah. Di sini kita coba kolaborasikan dengan desainer dan mungkin kita bisa bikin jas yang harganya bisa jadi Rp2-3 juta. Dengan begitu, nilai ekonomis dari tenun ikut juga bertambah meningkatkan pendapatan penenun,” katanya.

Selain meningkatkan pendapatan penenun, Polce mengungkapkan adanya galeri tenun ikat ini sebagai upaya kecil untuk mengatasi permasalahan perdagangan manusia di NTT. Ia mengatakan perempuan yang sebelumnya menenun tetapi tidak mendapatkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari kemudian digoda untuk bekerja di luar negeri dan naasnya menjadi korban perdagangan manusia. 

Polce berharap dengan adanya galeri tenun ikat di Jakarta membuat penenun di NTT mempunyai tempat untuk menjual hasil karyanya. Selain mendatangkan cuan, terus membuat tenun ikat juga sebagai upaya melestarikan tenun ikat yang memiliki nilai budaya dan spiritual. 

“Ada masalah di NTT yang mau kita selesaikan. Bukan total, tapi perlahan, yang namanya human trafficking, cara mencegah human trafficking itu, korbannya banyak perrmpuan. Sementara penenun itu kan semua harus perempuan. Satu kabupaten bisa 100 penenun. Jadi, perempuan itu gak perlu keluar untuk bekerja,” katanya.

Lebih lanjut, Polce mengungkapkan ke depan pihaknya akan membuat lokapasar untuk menjual koleksi di Almari Bumi Flobamorata. Nantinya, setiap koleksi tenun ikat yang dijual akan menyertakan arti dan sejarahnya. Selain itu, pihaknya juga berencana menggelar fashion show tenun ikat NTT dengan menggandeng perancang busana nasional. 

“Ini adalah upaya untuk menunjukkan identitas kita. Kemudian ini juga langkah kita untuk menunjukkan potensi kita tidak kalah dari negara lain. Kita punya keterbatasan akses pasar, akses informasi, akses modal, tetapi itu bukan jadi halangan. Justru itu tantangan yang perlu kita coba cari solusi dan kita usahakan untuk kesejahteraan semua,” pungkasnya. (M-1)

Sumber: mediaindonesia.com