MICE  

Di Kolombia, Kayu Hasil Pembalakan Liar Dimanfaatkan untuk Sarang Lebah

Di Kolombia, Kayu Hasil Pembalakan Liar Dimanfaatkan untuk Sarang Lebah

Di timur laut Kolombia, polisi menjaga gudang-gudang yang penuh dengan kayu sitaan hasil illegal logging (pembalakan liar). Kayu-kayu itu kemudian dimanfaatkan tujuan baru yang lebih mulia yakni diubah menjadi sarang lebah yang makin terancam oleh pestisida dan perubahan iklim.

Kayu yang ditebang secara ilegal itu digunakan dalam program yang dibei nama “Timber Returns Home”, untuk membangun sarang lebah. Program yang dimulai sejak 2021 itu bertujuan untuk menampung hewan penyerbuk kecil yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia tersebut.

Menurut otoritas lingkungan hidup setempat, sejauh ini proyek itu telah menghasilkan sekitar 200 meter kubik (7.060 kaki kubik) kayu yang diubah menjadi 1.000 sarang lebah, dengan 10 ribu sarang lainnya direncanakan untuk tahap berikutnya.

Sebelumnya, kayu sitaan itu biasanya diubah menjadi serbuk gergaji dan disumbangkan ke pemerintah kota dan terkadang dibiarkan membusuk. “Kini, teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengatasi masalah yang sangat serius berupa kemungkinan kepunahan lebah, “ kata ahli biologi German Perilla, Direktur Honey Bee Impact Foundation.

Untuk diketahui, sekitar tiga perempat tanaman yang menghasilkan buah atau biji untuk konsumsi manusia bergantung pada penyerbukan. Namun, PBB memperingatkan bahwa 40% hewan penyerbuk invertebrata (terutama lebah dan kupu-kupu), berisiko mengalami kepunahan global.

“Ancaman utamanya adalah kita akan kehabisan pohon dan tidak akan ada bunga, karena tanpa bunga tidak ada lebah, tanpa lebah tidak ada manusia, dan kita akan kehabisan makanan,” kata Maria Acevedo, salah satu peternak lebah yang menjadi penerima manfaat proyek tersebut.

Pada tahun 2023 saja, kata Maria, dia kehilangan lebih dari separuh ternaknya. Menurutnya pestisida yang digunakan dalam produksi untuk tanaman sekitar seperti kopi, telah menyebabkan lenyapnya serangga tersebut.

Berbagai ancaman

Menurut data resmi, sekitar 3 ribu sarang, yang masing-masing mampu menampung sekitar 50 ribu lebah, rusak di Kolombia setiap tahunnya. Uji laboratorium menemukan jejak insektisida fipronil pada sebagian besar serangga yang mati.

Kolombia telah mengeluarkan larangan terhadap penggunaan fipronil (jenis insektisida yang sudah dilarang di Eropa dan dibatasi di Amerika Serikat dan Tiongkok), mulai Februari 2024.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, suhu yang terus meningkat, kekeringan, banjir, dan kejadian ekstrem lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, juga turut mengurangi bunga penghasil nektar yang menjadi makanan lebah. Sebuah penelitian juga menghubungkan ketidaksuburan lebah dengan tekanan panas.

Otoritas lingkungan hidup setempat menyita sekitar 1.000 meter kubik kayu yang ditebang secara ilegal setiap tahunnya. Negara ini kehilangan 123.517 hektare (305.200 hektar) pohon pada 2022, terutama di wilayah Amazon, hutan hujan terbesar di dunia.

Menurut kementerian lingkungan hidup setempat hampir setengah dari seluruh kayu yang diperdagangkan di Kolombia, ilegal. (AFP/M-3)

Di timur laut Kolombia, polisi menjaga gudang-gudang yang penuh dengan kayu sitaan hasil illegal logging (pembalakan liar). Kayu-kayu itu kemudian dimanfaatkan tujuan baru yang lebih mulia yakni diubah menjadi sarang lebah yang makin terancam oleh pestisida dan perubahan iklim.

Kayu yang ditebang secara ilegal itu digunakan dalam program yang dibei nama “Timber Returns Home”, untuk membangun sarang lebah. Program  yang dimulai sejak 2021 itu bertujuan untuk menampung hewan penyerbuk kecil yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia tersebut.

Menurut otoritas lingkungan hidup setempat, sejauh ini proyek itu telah menghasilkan sekitar 200 meter kubik (7.060 kaki kubik) kayu yang diubah menjadi 1.000 sarang lebah, dengan 10 ribu sarang lainnya direncanakan untuk tahap berikutnya.

Sebelumnya, kayu sitaan itu biasanya diubah menjadi serbuk gergaji dan disumbangkan ke pemerintah kota dan terkadang dibiarkan membusuk. “Kini, teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengatasi masalah yang sangat serius berupa kemungkinan kepunahan lebah, “ kata ahli biologi German Perilla, Direktur Honey Bee Impact Foundation.

Untuk diketahui, sekitar tiga perempat tanaman yang menghasilkan buah atau biji untuk konsumsi manusia bergantung pada penyerbukan. Namun, PBB memperingatkan bahwa 40% hewan penyerbuk invertebrata (terutama lebah dan kupu-kupu), berisiko mengalami kepunahan global.

“Ancaman utamanya adalah kita akan kehabisan pohon dan tidak akan ada bunga, karena tanpa bunga tidak ada lebah, tanpa lebah tidak ada manusia, dan kita akan kehabisan makanan,” kata Maria Acevedo, salah satu peternak lebah yang menjadi penerima manfaat proyek tersebut.

Pada tahun 2023 saja, kata Maria, dia kehilangan lebih dari separuh ternaknya. Menurutnya pestisida yang digunakan dalam produksi untuk tanaman sekitar seperti kopi, telah menyebabkan lenyapnya serangga tersebut.

Berbagai ancaman

Menurut data resmi, sekitar 3 ribu sarang, yang masing-masing mampu menampung sekitar 50 ribu lebah, rusak di Kolombia setiap tahunnya. Uji laboratorium menemukan jejak insektisida fipronil pada sebagian besar serangga yang mati.

Kolombia telah mengeluarkan larangan terhadap penggunaan fipronil (jenis insektisida yang sudah dilarang di Eropa dan dibatasi di Amerika Serikat dan Tiongkok), mulai Februari 2024.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, suhu yang terus meningkat, kekeringan, banjir, dan kejadian ekstrem lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, juga turut mengurangi bunga penghasil nektar yang menjadi makanan lebah. Sebuah  penelitian juga menghubungkan ketidaksuburan lebah dengan tekanan panas.

Otoritas lingkungan hidup setempat menyita sekitar 1.000 meter kubik kayu yang ditebang secara ilegal setiap tahunnya. Negara ini kehilangan 123.517 hektare (305.200 hektar) pohon pada 2022, terutama di wilayah Amazon, hutan hujan terbesar di dunia.

Menurut kementerian lingkungan hidup setempat hampir setengah dari seluruh kayu yang diperdagangkan di Kolombia, ilegal. (AFP/M-3)

Sumber: mediaindonesia.com