MICE  

Deteksi Faktor Risiko Penyakit Jantung sebagai Antisipasi Infeksi Covid-19

Deteksi Faktor Risiko Penyakit Jantung sebagai Antisipasi Infeksi Covid-19

PENYAKIT jantung koroner (PJK) merupakan penyakit kardiovaskular selain stroke dan penyumbatan pembuluh darah dalam. Saat ini PJK telah menjadi masalah kesehatan global dan memerlukan perhatian banyak pihak.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PJK merupakan penyebab kematian tertinggi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini disebabkan proses ateroklerosis di pembuluh darah koroner jantung sebagai akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan beberapa komponen lain pada dinding pembuluh darah arteri berupa plak sehingga terjadi penyempitan bahkan dapat menyumbat pembuluh darah.

Munculnya peningkatan kasus covid-19 akhir-akhir ini di Tanah Air dan negara tetangga seperti Singapura menjadi perhatian dan kewaspadaan kita. Khusus pada anak dan remaja yang mempunyai faktor risiko PJK akan merupakan keadaan komorbiditas, yang akan memperberat kondisi klinis mereka bila terinfeksi covid-19. Tulisan berikut akan membahas faktor-faktor risiko PJK dan bagaimana mencegahnya sejak usia dini atau masa anak dan remaja. Pencegahan penyakit jantung pada usia dewasa sebenarnya sudah terlambat.



Pencegahan PJK dengan mengenal faktor risiko di usia dini

Pencegahan penyakit jantung seyogianya sudah mulai dilakukan sejak usia dini, karena faktor risiko penyakit jantung khususnya PJK telah dapat dideteksi sejak usia muda. Studi autopsi terhadap tentara Amerika Serikat yang terbunuh pada perang Korea di masa lalu, bahwa 70% pada individu yang rata-rata berumur 22 tahun telah terjadi proses ateroklerosis pembuluh darah koroner.

Penelitian secara nasional di Jepang pada kelompok umur 1 bulan-39 tahun, ternyata pada pembuluh darah arteri besar/aorta ditemukan fatty streak (timbunan kolesterol di dinding arteri) pada 29% anak umur kurang dari 1 tahun, dan 3,1% pada pembuluh koroner anak yang berumur 1-9 tahun.

Faktor risiko penyakit jantung dikelompokkan dalam 3 kelompok yakni: (1) Faktor risiko tradisional yakni hiperlipidemia/hiperkolesterolemia berupa peningkatan kadar kolesterol dan lemak/lipid dalam darah, obesitas, diabetes melitus, hipertensi dan in-aktivitas (kurang olahraga).

(2) Faktor risiko intrinsik yang meliputi genetik dan lingkungan. (3) Faktor risiko yang baru muncul (emerging) meliputi inflamasi/infeksi/ peradangan.

Nutrisi pada masa bayi sejak lahir berperan terjadinya proses aterosklerosis. Air susu ibu (ASI) yang diberikan sejak bayi lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif), mempunyai efek proteksi/perlindungan terhadap penebalan dinding pembuluh darah karotis di leher, dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI terlalu singkat atau susu formula.

Studi pada pelajar SMA di Jakarta tentang pengaruh pemberian ASI pada masa bayi dibandingkan dengan pemberian susu formula (SF), ternyata bahwa pada kelompok remaja yang mempunyai riwayat pemberian SF mempunyai gangguan fungsi lapisan sel pembuluh darah arteri karotis (disfungsi endotel), dan berbeda bermakna dengan kelompok ASI eksklusif. Jadi, ASI dapat melindungi anak terhadap risiko penyakit jantung.



Faktor risiko yang perlu dikenali

Faktor risiko yang berhubungan erat dengan penyakit aterosklerosis yakni dislipidemia (gangguan metabolisme lemak), obesitas (kegemukan), diabates melitus (penyakit kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi) dan merokok.

Merokok/terpapar tembakau dan kadar gula tinggi merupakan faktor risiko yang cukup penting. Lebih dari 20% anak-anak remaja di Amerika, Australia, dan Inggris telah merokok. Sementara di Indonesia angkanya jauh lebih tinggi, yakni 36,3% anak berumur di atas 15 tahun telah merokok (Riskesda 2003).

Aktivitas fisik yang kurang (in-aktivitas) merupakan faktor risiko independen. Anak dan remaja hendaknya senantiasa banyak beraktivitas seperti berjalan, olahraga, naik sepeda atau naik tangga. Direkomendasikan seorang anak paling lama 2 jam sehari di depan TV atau bermain gim.

Infeksi covid-19 pada anak yang mempunyai komorbiditas dan faktor risiko penyakit kardiovaskular, akan menjadi lebih berat. Dalam suatu penelitian yang dipublikasi di jurnal JAMA (2020) menunjukkan bahwa anak dengan komorbiditas khususnya kelainan jantung yang kompleks, mempunyai risiko tinggi untuk menjadi kritis.

Obesitas pada anak seperti juga pada orang dewasa berhubungan dengan beratnya kondisi anak yang terinfeksi covid-19. Prevalensi obesitas pada anak dan remaja di Indonesia termasuk yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan riset kesehatan dasar (RISKESDA, 2018) obesitas sebesar 20% pada anak yang berusia 13-15 tahun dan 13,6% pada remaja yang berusia 16-18 tahun. Dengan demikian deteksi obesitas dan upaya mengatasinya harus segera kita lakukan.



Lantas apa yang harus dilakukan?

Skrining/uji tapis perlu dilakukan pada anak yang mempunyai satu atau lebih faktor risiko berikut: (1) Riwayat keluarga/orangtua dengan penyakit jantung atau kardiovaskular dini yakni umur kurang dari 55 tahun untuk laki-laki dan kurang dari 65 tahun untuk wanita. Skrining sebaiknya dilakukan sejak umur 2 tahun sampai 10 tahun yang meliputi tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui obesitas dan overweight, profil lipid dan gula darah (perlu puasa), riwayat merokok atau terpapar dengan rokok (perokok pasif).

Aktivitas fisik yang cukup pada anak dan remaja sangat penting. Di Amerika, semua anak yang berumur di atas 5 tahun harus melaksanakan aktivitas fisik sedang selama 60 menit sehari, sebanyak 3 kali dalam seminggu. Pada penelitian anak umur 3-18 tahun di Finlandia dilaporkan bahwa aktivitas fisik yang kurang berhubungan dengan peningkatan cepat penebalan dinding pembululuh arteri dan menyebabkan proses aterosklerosis sesudah umur 27 tahun.

Kegiatan olahraga di sekolah yang berlangsung selama ini perlu dievaluasi untuk dipertimbangkan penambahan jam olahraga agar anak-anak dapat terhindar dari obesitas, hipertensi, dan faktor risiko kardiovaskular lainnya. Selain itu pencegahan terhadap paparan asap rokok bagi anak-anak perlu mendapat perhatian yang serius baik oleh orangtua maupun oleh guru.

Akhirnya kerja sama antara dokter/tenaga kesehatan, orang tua, dan guru di sekolah mutlak diperlukan. Usaha kesehatan sekolah (UKS) yang telah ada sejak lama merupakan salah satu sarana yang perlu dikembangkan untuk mendeteksi dan mengatasi faktor risiko penyakit jantung sejak usia dini sehingga anak-anak kita terhindar dari penyakit jantung atau kardiovaskular saat dewasa. Mereka adalah aset bangsa di masa depan yang harus diselamatkan.

PENYAKIT jantung koroner (PJK) merupakan penyakit kardiovaskular selain stroke dan penyumbatan pembuluh darah dalam. Saat ini PJK telah menjadi masalah kesehatan global dan memerlukan perhatian banyak pihak.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PJK merupakan penyebab kematian tertinggi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini disebabkan proses ateroklerosis di pembuluh darah koroner jantung sebagai akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan beberapa komponen lain pada dinding pembuluh darah arteri berupa plak sehingga terjadi penyempitan bahkan dapat menyumbat pembuluh darah.

Munculnya peningkatan kasus covid-19 akhir-akhir ini di Tanah Air dan negara tetangga seperti Singapura menjadi perhatian dan kewaspadaan kita. Khusus pada anak dan remaja yang mempunyai faktor risiko PJK akan merupakan keadaan komorbiditas, yang akan memperberat kondisi klinis mereka bila terinfeksi covid-19. Tulisan berikut akan membahas faktor-faktor risiko PJK dan bagaimana mencegahnya sejak usia dini atau masa anak dan remaja. Pencegahan penyakit jantung pada usia dewasa sebenarnya sudah terlambat.

 

Pencegahan PJK dengan mengenal faktor risiko di usia dini

Pencegahan penyakit jantung seyogianya sudah mulai dilakukan sejak usia dini, karena faktor risiko penyakit jantung khususnya PJK telah dapat dideteksi sejak usia muda. Studi autopsi terhadap tentara Amerika Serikat yang terbunuh pada perang Korea di masa lalu, bahwa 70% pada individu yang rata-rata berumur 22 tahun telah terjadi proses ateroklerosis pembuluh darah koroner.

Penelitian secara nasional di Jepang pada kelompok umur 1 bulan-39 tahun, ternyata pada pembuluh darah arteri besar/aorta ditemukan fatty streak (timbunan kolesterol di dinding arteri) pada 29% anak umur kurang dari 1 tahun, dan 3,1% pada pembuluh koroner anak yang berumur 1-9 tahun.

Faktor risiko penyakit jantung dikelompokkan dalam 3 kelompok yakni: (1) Faktor risiko tradisional yakni hiperlipidemia/hiperkolesterolemia berupa peningkatan kadar kolesterol dan lemak/lipid dalam darah, obesitas, diabetes melitus, hipertensi dan in-aktivitas (kurang olahraga).

(2) Faktor risiko intrinsik yang meliputi genetik dan lingkungan. (3) Faktor risiko yang baru muncul (emerging) meliputi inflamasi/infeksi/ peradangan.

Nutrisi pada masa bayi sejak lahir berperan terjadinya proses aterosklerosis. Air susu ibu (ASI) yang diberikan sejak bayi lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif), mempunyai efek proteksi/perlindungan terhadap penebalan dinding pembuluh darah karotis di leher, dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI terlalu singkat atau susu formula.

Studi pada pelajar SMA di Jakarta tentang pengaruh pemberian ASI pada masa bayi dibandingkan dengan pemberian susu formula (SF), ternyata bahwa pada kelompok remaja yang mempunyai riwayat pemberian SF mempunyai gangguan fungsi lapisan sel pembuluh darah arteri karotis (disfungsi endotel), dan berbeda bermakna dengan kelompok ASI eksklusif. Jadi, ASI dapat melindungi anak terhadap risiko penyakit jantung.

 

Faktor risiko yang perlu dikenali

Faktor risiko yang berhubungan erat dengan penyakit aterosklerosis yakni dislipidemia (gangguan metabolisme lemak), obesitas (kegemukan), diabates melitus (penyakit kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi) dan merokok.

Merokok/terpapar tembakau dan kadar gula tinggi merupakan faktor risiko yang cukup penting. Lebih dari 20% anak-anak remaja di Amerika, Australia, dan Inggris telah merokok. Sementara di Indonesia angkanya jauh lebih tinggi, yakni 36,3% anak berumur di atas 15 tahun telah merokok (Riskesda 2003).

Aktivitas fisik yang kurang (in-aktivitas) merupakan faktor risiko independen. Anak dan remaja hendaknya senantiasa banyak beraktivitas seperti berjalan, olahraga, naik sepeda atau naik tangga. Direkomendasikan seorang anak paling lama 2 jam sehari di depan TV atau bermain gim.

Infeksi covid-19 pada anak yang mempunyai komorbiditas dan faktor risiko penyakit kardiovaskular, akan menjadi lebih berat. Dalam suatu penelitian yang dipublikasi di jurnal JAMA (2020) menunjukkan bahwa anak dengan komorbiditas khususnya kelainan jantung yang kompleks, mempunyai risiko tinggi untuk menjadi kritis.

Obesitas pada anak seperti juga pada orang dewasa berhubungan dengan beratnya kondisi anak yang terinfeksi covid-19. Prevalensi obesitas pada anak dan remaja di Indonesia termasuk yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan riset kesehatan dasar (RISKESDA, 2018) obesitas sebesar 20% pada anak yang berusia 13-15 tahun dan 13,6% pada remaja yang berusia 16-18 tahun. Dengan demikian deteksi obesitas dan upaya mengatasinya harus segera kita lakukan.

 

Lantas apa yang harus dilakukan?

Skrining/uji tapis perlu dilakukan pada anak yang mempunyai satu atau lebih faktor risiko berikut: (1) Riwayat keluarga/orangtua dengan penyakit jantung atau kardiovaskular dini yakni umur kurang dari 55 tahun untuk laki-laki dan kurang dari 65 tahun untuk wanita. Skrining sebaiknya dilakukan sejak umur 2 tahun sampai 10 tahun yang meliputi tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui obesitas dan overweight, profil lipid dan gula darah (perlu puasa), riwayat merokok atau terpapar dengan rokok (perokok pasif).

Aktivitas fisik yang cukup pada anak dan remaja sangat penting. Di Amerika, semua anak yang berumur di atas 5 tahun harus melaksanakan aktivitas fisik sedang selama 60 menit sehari, sebanyak 3 kali dalam seminggu. Pada penelitian anak umur 3-18 tahun di Finlandia dilaporkan bahwa aktivitas fisik yang kurang berhubungan dengan peningkatan cepat penebalan dinding pembululuh arteri dan menyebabkan proses aterosklerosis sesudah umur 27 tahun.

Kegiatan olahraga di sekolah yang berlangsung selama ini perlu dievaluasi untuk dipertimbangkan penambahan jam olahraga agar anak-anak dapat terhindar dari obesitas, hipertensi, dan faktor risiko kardiovaskular lainnya. Selain itu pencegahan terhadap paparan asap rokok bagi anak-anak perlu mendapat perhatian yang serius baik oleh orangtua maupun oleh guru.

Akhirnya kerja sama antara dokter/tenaga kesehatan, orang tua, dan guru di sekolah mutlak diperlukan. Usaha kesehatan sekolah (UKS) yang telah ada sejak lama merupakan salah satu sarana yang perlu dikembangkan untuk mendeteksi dan mengatasi faktor risiko penyakit jantung sejak usia dini sehingga anak-anak kita terhindar dari penyakit jantung atau kardiovaskular saat dewasa. Mereka adalah aset bangsa di masa depan yang harus diselamatkan.

Sumber: mediaindonesia.com