MICE  

Dalam Pertemuan Sherpa G20 dan Deputi Keuangan dan Bank Sentral, Presiden Brasil Serukan Aksi Global Hadapi Kesenjangan

Dalam Pertemuan Sherpa G20 dan Deputi Keuangan dan Bank Sentral, Presiden Brasil Serukan Aksi Global Hadapi Kesenjangan

PRESIDEN Brazil, Luiz Inácio Lula da Silva menyampaikan agenda prioritas Presidensi G20 Brasil 2024 pada pertemuan bersama (joint meeting) jalur Sherpa (Sherpa Track) dan jalur Keuangan (Finance Track) G20 di Brasil.

Dalam pertemuan tersebut, Delegasi Republik Indonesia diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian/Co-Sherpa G20 Indonesia Edi Prio Pambudi, Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Penguatan Program-Program Prioritas/Co-Sherpa G20 Indonesia Dian Triansyah Djani, serta Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional/Deputi Keuangan G20 Parjiono.

Kali ini G20 menghadirkan Uni Afrika yang diterima sebagai anggota permanen baru dalam G20 sebagai hasil kesepakatan dalam Presidensi G20 India 2023. Sebagai informasi, jalur Sherpa mewakili Pemerintah dalam pembahasan ekonomi sektor riil, sosial dan lingkungan seperti perdagangan dan investasi, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan, energi, pendidikan, pemberdayaan perempuan, pertanian, anti-korupsi. Sedangkan jalur keuangan mewakili pembahasan sektor fiskal, keuangan, dan moneter.

Presidensi G20 Brasil 2024 yang dimulai pada 1 Desember 2023 terdiri dari lima belas kelompok kerja (working group) dan melibatkan dua belas kelompok masyarakat di luar Pemerintah (engagement group) dalam jalur Sherpa hingga pertemuan puncak pada 18-19 November 2024. Tiga prioritas utama Presidensi adalah: (1) Pendirian aliansi global memerangi kelaparan dan kemiskinan; (2) Mobilisasi global mengatasi perubahan iklim; dan (3) Tata kelola dunia (global governance).

Presiden Lula yang berhasil membawa Brasil keluar dari Peta Kelaparan (Hunger Map) versi United Nations World Food Programme (WFP) tahun 2014 membawa kisah suksesnya menjadi isu utama Presidensi G20 Brasil yang berniat membentuk “network of networks” melalui aliansi global. Aliansi ini akan menggerakkan lembaga-lembaga internasional dunia yang memiliki program mengatasi kelaparan dan kemiskinan, seperti Food and Agricultural Organization (FAO), WFP, dan Bank Dunia melalui 3 pilar, yakni nasional, keuangan, dan pengetahuan. Brasil berambisi menghadirkan koordinasi global dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan dengan berbagi pengalaman keberhasilan, bantuan teknis, dan keuangan antar negara.

Selain itu, Presiden Lula dalam pernyataannya menegaskan ajakannya untuk mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan yang meningkat pasca pandemi akibat terbatasnya akses makanan dan nutrisi. Presiden Lula juga menyinggung situasi dunia saat ini yang mengalami peningkatan konflik, khususnya perang Israel-Palestina yang menimbulkan banyak korban sipil dan secara tegas mengatakan Brasil akan mengupayakan gencatan senjata secara permanen, penyaluran bantuan kemanusian, dan mendesak penyelesaian melalui two-state solution. Presiden Lula mengajak G20 mengambil tindakan nyata dalam tiga prioritas Presidensi G20 Brasil.

Terkait situasi tatanan dunia, Presiden Lula menyinggung bahwa lima negara saja tidak cukup mewakili kepentingan global dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena hanya merepresentasikan kepentingan 2,5 persen dunia. Dengan dinamika tantangan dunia saat ini, keterwakilan regional menjadi penting dalam PBB untuk mengemban misi perdamaian dunia, menjaga stabilitas politik, dan mengatasi ketimpangan kesejahteraan antar kawasan.

Lebih lanjut, Presiden Lula menyatakan pentingnya pembiayaan perubahan iklim yang saat ini banyak mengalami hambatan karena sistem birokrasi. Sistem perpajakan sebagai instrumen untuk mengatasi kesenjangan perlu menghadirkan sistem perpajakan progresif yang berbasis pada penghasilan dan kesejahteraan untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Pemberdayaan perempuan juga tidak luput dari perhatian Presiden Lula untuk dibahas dalam forum G20 sebagai bagian dari komitmen dan solidaritas. Dinamika baru seperti maraknya penggunaan Artificial Intelligent (AI) perlu memiliki prinsip dasar dalam tatanan global. Bioeconomy untuk menggerakkan sumber daya alam yang lebih produktif, termasuk poin penting yang ditegaskan oleh Presiden Lula di hadapan para Sherpa G20 dan Deputi Keuangan dan Bank Sentral dari 19 negara dan 2 kawasan terbesar di dunia. (RO/S-3)

PRESIDEN Brazil, Luiz Inácio Lula da Silva menyampaikan agenda prioritas Presidensi G20 Brasil 2024 pada pertemuan bersama (joint meeting) jalur Sherpa (Sherpa Track) dan jalur Keuangan (Finance Track) G20 di Brasil. 

Dalam pertemuan tersebut, Delegasi Republik Indonesia diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian/Co-Sherpa G20 Indonesia Edi Prio Pambudi, Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Penguatan Program-Program Prioritas/Co-Sherpa G20 Indonesia Dian Triansyah Djani, serta Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional/Deputi Keuangan G20 Parjiono.

Kali ini G20 menghadirkan Uni Afrika yang diterima sebagai anggota permanen baru dalam G20 sebagai hasil kesepakatan dalam Presidensi G20 India 2023. Sebagai informasi, jalur Sherpa mewakili Pemerintah dalam pembahasan ekonomi sektor riil, sosial dan lingkungan seperti perdagangan dan investasi, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan, energi, pendidikan, pemberdayaan perempuan, pertanian, anti-korupsi. Sedangkan jalur keuangan mewakili pembahasan sektor fiskal, keuangan, dan moneter.

Presidensi G20 Brasil 2024 yang dimulai pada 1 Desember 2023 terdiri dari lima belas kelompok kerja (working group) dan melibatkan dua belas kelompok masyarakat di luar Pemerintah (engagement group) dalam jalur Sherpa hingga pertemuan puncak pada 18-19 November 2024. Tiga prioritas utama Presidensi adalah: (1) Pendirian aliansi global memerangi kelaparan dan kemiskinan; (2) Mobilisasi global mengatasi perubahan iklim; dan (3) Tata kelola dunia (global governance).

Presiden Lula yang berhasil membawa Brasil keluar dari Peta Kelaparan (Hunger Map) versi United Nations World Food Programme (WFP) tahun 2014 membawa kisah suksesnya menjadi isu utama Presidensi G20 Brasil yang berniat membentuk “network of networks” melalui aliansi global. Aliansi ini akan menggerakkan lembaga-lembaga internasional dunia yang memiliki program mengatasi kelaparan dan kemiskinan, seperti Food and Agricultural Organization (FAO), WFP, dan Bank Dunia melalui 3 pilar, yakni nasional, keuangan, dan pengetahuan. Brasil berambisi menghadirkan koordinasi global dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan dengan berbagi pengalaman keberhasilan, bantuan teknis, dan keuangan antar negara.

Selain itu, Presiden Lula dalam pernyataannya menegaskan ajakannya untuk mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan yang meningkat pasca pandemi akibat terbatasnya akses makanan dan nutrisi. Presiden Lula juga menyinggung situasi dunia saat ini yang mengalami peningkatan konflik, khususnya perang Israel-Palestina yang menimbulkan banyak korban sipil dan secara tegas mengatakan Brasil akan mengupayakan gencatan senjata secara permanen, penyaluran bantuan kemanusian, dan mendesak penyelesaian melalui two-state solution. Presiden Lula mengajak G20 mengambil tindakan nyata dalam tiga prioritas Presidensi G20 Brasil.

Terkait situasi tatanan dunia, Presiden Lula menyinggung bahwa lima negara saja tidak cukup mewakili kepentingan global dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena hanya merepresentasikan kepentingan 2,5 persen dunia. Dengan dinamika tantangan dunia saat ini, keterwakilan regional menjadi penting dalam PBB untuk mengemban misi perdamaian dunia, menjaga stabilitas politik, dan mengatasi ketimpangan kesejahteraan antar kawasan.

Lebih lanjut, Presiden Lula menyatakan pentingnya pembiayaan perubahan iklim yang saat ini banyak mengalami hambatan karena sistem birokrasi. Sistem perpajakan sebagai instrumen untuk mengatasi kesenjangan perlu menghadirkan sistem perpajakan progresif yang berbasis pada penghasilan dan kesejahteraan untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Pemberdayaan perempuan juga tidak luput dari perhatian Presiden Lula untuk dibahas dalam forum G20 sebagai bagian dari komitmen dan solidaritas. Dinamika baru seperti maraknya penggunaan Artificial Intelligent (AI) perlu memiliki prinsip dasar dalam tatanan global. Bioeconomy untuk menggerakkan sumber daya alam yang lebih produktif, termasuk poin penting yang ditegaskan oleh Presiden Lula di hadapan para Sherpa G20 dan Deputi Keuangan dan Bank Sentral dari 19 negara dan 2 kawasan terbesar di dunia. (RO/S-3)

Sumber: mediaindonesia.com