MICE  

COP-28 Dubai, Iklim dan Pemuda

COP-28 Dubai, Iklim dan Pemuda

SESAAT sebelum mendarat di Dubai International Airport, dari bilik jendela pesawat, sambil memandang gedung-gedung tinggi dan modern di tengah hamparan gurun pasir, pikiranku melayang pada perhelatan COP-27 tahun lalu di Sharm El Sheikh, Mesir, yang juga saya hadiri. Timbul pertanyaan, apakah COP-28 tahun ini sudah berhasil melaksanakan aksi nyata terhadap rekomendasi COP-27?

Conference of the Parties (COP) 28 diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 30 November-12 Desember 2023, dengan mengangkat tema United, Act, Deliver. Dalam kesempatan ini saya hadir sebagai pembicara panel di Paviliun Indonesia, juga mengikuti dialog dan konferensi yang dihadiri oleh ratusan perwakilan pemuda dari berbagai negara.

Forum ini dihadiri oleh pemimpin-pemimpin negara, di antaranya Raja Inggris Charles III, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi, Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selain itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Israel Isaac Herzog, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, hingga Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mantan CEO Microsoft Bill Gates, dan Utusan Khusus AS untuk Perubahan Iklim John Kerry.



Global stock take

Pada COP-28 ini, negara-negara di dunia, termasuk negara berkembang, menyepakati global stock take (inventarisasi global) sebagai usaha percepatan penanganan perubahan iklim. Salah satu pembahasan terkait global stock take diharapkan bisa semakin memacu setiap negara untuk kembali berada di jalur yang tepat dalam mengatasi krisis iklim.

Program ini bertujuan mendanai kehilangan dan kerusakan bagi negara-negara berkembang yang terkena dampak perubahan iklim.

Global stock take harus menjadi katalis dalam upaya mendorong tercapainya tujuan Paris Agreement 2015, yaitu membatasi perubahan iklim hingga setidaknya 1,5 derajat celsius lebih rendah dari angka sebelum revolusi industri. Dalam revisi rencana aksi iklim nasionalnya (nationally determined contributions/NDC) pada 2025, setiap negara harus menetapkan tujuan ini. Mitigasi, adaptasi, dan implementasi adalah tiga komponen utama yang dapat disatukan melalui global stock take.

COP-28 disebut sebagai COP penting karena berada pada tahun-tahun penting dalam dekade penting. COP-28 diselenggarakan pada tahun ketujuh setelah Perjanjian Paris 2015, yang menjadikannya penting. Sebaliknya, COP-28 ini juga diadakan tujuh tahun sebelum tujuan Persetujuan Paris 2015 yang akan berakhir pada 2030.

Sebuah penelitian baru-baru ini oleh Dr James Rising dari Universitas Delaware menemukan bahwa kerusakan dan kehilangan yang disebabkan oleh perubahan iklim mencapai sekitar US$1,5 triliun pada 2022. Akibat perubahan iklim, negara-negara kawasan selatan telah kehilangan 8,3% PDB mereka.

Jika berhasil dilaksanakan, global stock take akan menjadi gerakan yang sangat baik untuk memulai aksi pendanaan kerugian dan kerusakan, yang diluncurkan pada hari pertama COP-28.





Akar rumput

Menurut saya, segala teori dan pembahasan di setiap COP hingga hari ini COP-28 yang sifatnya ‘global’ dan ‘internasional’ harus bisa mengajak grassroots, yaitu masyarakat lokal, para pemuda, hingga masyarakat adat. Tentu saja regulasi dari pemerintah agar negara bisa mengatur industri itu penting dan efektif, tetapi jangan sampai urusan dengan grassroots dipisahkan. Misalnya ketika bicara hutan, masyarakat adatlah yang secara nyata menjaga kelestarian hutan tersebut. Saya percaya bahwa tindakan di grassroots dapat memberikan inspirasi bagi pemimpin di bidang lingkungan dan kehutanan agar kita semua dapat bergotong royong melakukan aksi nyata.

Di Indonesia, sudah ada beberapa inisiasi, salah satunya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Lingkungan, yang dilakukan baik di tingkat grassroots maupun anak muda dalam melakukan pemulihan dan pemeliharaan lingkungan serta hutan. Beberapa contoh dari kegiatan di antaranya penanaman pohon hingga restorasi mangrove. Seperti yang kita pahami, manfaat mangrove sangatlah besar yakni bisa menyerap empat kali lipat dari tanah daratan. Selain itu, hasil olahan dari mangrove seperti udang dan ikan itu bisa dijual dan diekspor.



Pemuda

Generasi muda sangat penting untuk mempelajari berbagai isu tentang perubahan iklim karena mereka salah satu kelompok yang paling merasakan dampak. Oleh karena itu, generasi muda wajib membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan tentang krisis iklim. Dengan membekali diri terkait pengetahuan ini, generasi muda sebagai pemimpin masa depan dapat mengetahui penyebab, solusi, hingga cara mencegah terjadinya krisis iklim.

Pemuda dan anak-anak mempunyai risiko yang sangat besar terhadap dampak buruk perubahan iklim. Namun, mereka secara sistematis sering kali tidak diikutsertakan dalam pembuatan kebijakan iklim yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka. Hal yang menarik dari COP-28 ini ialah ada pembahasan khusus yang diangkat di forum utama terkait pemuda, pendidikan, dan skill. Tujuannya agar anak muda bisa memanfaatkan kekuatan dan inspirasi mereka untuk mempercepat aksi iklim.

Forum tersebut memperkuat dan menunjukkan pentingnya pelibatan peran pemuda dalam negosiasi kebijakan iklim internasional, serta dorongan agar dikembangkan platform bagi inisiatif dan solusi iklim yang dipimpin oleh pemuda. Forum itu juga membahas tentang penghijauan sekolah dan kurikulum, memberikan penguatan keterampilan bagi generasi muda, guru, dan pemimpin pendidikan, serta berupaya memastikan bahwa sekolah dan universitas beroperasi secara berkelanjutan. Konsorsium mitra multi-pemangku kepentingan juga dibentuk untuk memperkuat kolaborasi universitas dan pusat penelitian guna memajukan agenda aksi iklim.

Ada beberapa poin penting yang dihasilkan dari sesi diskusi terkait youth, children, education, and skills. Pertama, 38 negara menandatangani Kemitraan Pendidikan Hijau UNESCO (UNESCO Greening Education Partnership), deklarasi agenda bersama untuk pendidikan dan perubahan iklim di COP-28, berkomitmen untuk memasukkan pendidikan iklim ke dalam kontribusi yang ditentukan secara nasional dan rencana adaptasi nasional. Penandatanganan ini mewakili 20% dari total jumlah negara di UNFCCC.

Kedua, KTT RewirEd (A Global Summit on Education) mempertemukan lebih dari 1.000 peserta, termasuk dua kepala negara, 22 menteri, dan 28 CEO yang memimpin diskusi tentang pendidikan iklim dan memamerkan solusi kuat yang ada di persimpangan iklim dan pendidikan. Mereka juga berkomitmen untuk mengubah lanskap pendidikan dalam menanggapi kebutuhan ekonomi hijau saat ini dan masa depan.

Ketiga, kelompok pertama dari 100 delegasi iklim pemuda internasional telah lulus dari program ini, menandai selesainya kurikulum pengembangan kapasitas yang mapan bekerja sama dengan YOUNGO, Harvard, dan UNFCCC.

Keempat, kelompok pertama delegasi iklim pemuda UEA telah lulus, dan program kedua diumumkan oleh Otoritas Pemuda Federal UEA untuk tahun 2024.

Kelima, laporan inventarisasi pemuda secara resmi diluncurkan oleh YOUNGO dengan dukungan dari Youth Climate Champion (Pemuda Pemenang Iklim). Laporan ini mewakili analisis komprehensif pertama mengenai keterlibatan pemuda dalam proses UNFCCC dan memberikan peta jalan untuk meningkatkan inklusi pemuda di masa depan.

Adapun yang terakhir, pembentukan Youth Hub khusus pertama di Zona Hijau memfasilitasi interaksi di antara para pemimpin iklim global, anak-anak, dan pemuda, yang mendorong ruang untuk dialog dan kolaborasi antargenerasi.



Pendidikan dan gerakan

Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi hingga 2045 dengan total populasi didominasi oleh anak muda, yakni 60% (generasi milenial, Z dan post- Z) dan pada 2030 meningkat menjadi 70%.

Untuk mendukung komunitas pemuda, kami membuat organisasi kepemudaan dengan nama Indonesian Council of Youth Development (ICYD). Anggota dari komunitas ini datang dari berbagai latar belakang. Ada peneliti, aktivis, pemilik startup pendidikan, startup sosial, pekerja profesional, pakar, hingga dosen. Di sini kami memiliki visi-misi yang sama dalam melakukan aktivitas yang berdampak, termasuk dalam hal lingkungan hidup. Harapannya ke depan, semakin banyak gerakan atau komunitas dari pemuda sehingga menjadi trigger dalam menjaga planet sehingga planet kita menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Generasi muda dapat mulai memahami berbagai informasi tentang krisis iklim dan dampaknya melalui platform media sosial. Namun, untuk mendalami masalah ini, generasi muda terlebih dahulu harus memiliki rasa memiliki, ingin tahu, dan kritis terhadap dampak perubahan iklim, termasuk peningkatan bencana.

Setelah memahami dan menguasai isu krisis iklim, harapannya generasi muda dapat melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan Bumi, sekaligus kampanye mengajak masyarakat lain melalui media sosial seperti Instagram dan Tiktok sesuai zamannya. Juga bersama komunitas melakukan gerakan aksi seperti pembersihan sungai, menanam pohon dengan program ‘1 orang 1 pohon’, hingga membuat startup untuk mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa digunakan seperti sepatu, tas, dan aksesori.

Di Indonesia ada startup yang sudah melakukan itu, di antaranya Mall Sampah, Inocycle Technology, dan Pijak Bumi. Aksi tersebut akan lebih besar dampaknya apabila bisa dilakukan secara masif bersama-sama.

Selain itu, kurikulum pendidikan sekolah mulai dari level SD hingga SMA perlu ditekankan pada pengetahuan dan praktik terkait perubahan iklim sehingga muncul awareness dan kualitas manusia yang peduli dengan lingkungan di bumi ini. Sekolah perlu mendorong agar siswanya bersahabat dengan alam.

Hingga saat ini, terlihat masih banyak sekolah yang memagari siswa belajar hanya di kelas sehingga pengetahuannya pun terkungkung. Siswa perlu diajak mengeksplorasi lebih jauh, melihat langsung permasalahan sampah, pencemaran air, hingga pemanasan global.

Teknologi digital juga harus digunakan dengan baik. Saat ini kita memasuki era yang dekat dengan artificial intelligence, internet of think (IoT), hingga metaverse. Teknologi digital tersebut harus digunakan agar pendidikan lebih efisien dan optimal.

Akhirnya, semoga hasil dari COP-28 bisa mendorong negara-negara untuk melakukan aksi nyata sehingga COP bukan saja menjadi ajang pertemuan, diskusi, dan negosiasi, tapi juga benar-benar membuat planet yang kita huni saat ini aman dan nyaman dihuni, seperti yang disampaikan Bill Gates dalam pidatonya di sesi awal pada 1 Desember 2023, “We don’t want to just make the planet liveable, but we want to make it a better place to live.”

SESAAT sebelum mendarat di Dubai International Airport, dari bilik jendela pesawat, sambil memandang gedung-gedung tinggi dan modern di tengah hamparan gurun pasir, pikiranku melayang pada perhelatan COP-27 tahun lalu di Sharm El Sheikh, Mesir, yang juga saya hadiri. Timbul pertanyaan, apakah COP-28 tahun ini sudah berhasil melaksanakan aksi nyata terhadap rekomendasi COP-27?

Conference of the Parties (COP) 28 diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 30 November-12 Desember 2023, dengan mengangkat tema United, Act, Deliver. Dalam kesempatan ini saya hadir sebagai pembicara panel di Paviliun Indonesia, juga mengikuti dialog dan konferensi yang dihadiri oleh ratusan perwakilan pemuda dari berbagai negara.

Forum ini dihadiri oleh pemimpin-pemimpin negara, di antaranya Raja Inggris Charles III, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi, Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selain itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Israel Isaac Herzog, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, hingga Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mantan CEO Microsoft Bill Gates, dan Utusan Khusus AS untuk Perubahan Iklim John Kerry.

 

Global stock take

Pada COP-28 ini, negara-negara di dunia, termasuk negara berkembang, menyepakati global stock take (inventarisasi global) sebagai usaha percepatan penanganan perubahan iklim. Salah satu pembahasan terkait global stock take diharapkan bisa semakin memacu setiap negara untuk kembali berada di jalur yang tepat dalam mengatasi krisis iklim.

Program ini bertujuan mendanai kehilangan dan kerusakan bagi negara-negara berkembang yang terkena dampak perubahan iklim.

Global stock take harus menjadi katalis dalam upaya mendorong tercapainya tujuan Paris Agreement 2015, yaitu membatasi perubahan iklim hingga setidaknya 1,5 derajat celsius lebih rendah dari angka sebelum revolusi industri. Dalam revisi rencana aksi iklim nasionalnya (nationally determined contributions/NDC) pada 2025, setiap negara harus menetapkan tujuan ini. Mitigasi, adaptasi, dan implementasi adalah tiga komponen utama yang dapat disatukan melalui global stock take.

COP-28 disebut sebagai COP penting karena berada pada tahun-tahun penting dalam dekade penting. COP-28 diselenggarakan pada tahun ketujuh setelah Perjanjian Paris 2015, yang menjadikannya penting. Sebaliknya, COP-28 ini juga diadakan tujuh tahun sebelum tujuan Persetujuan Paris 2015 yang akan berakhir pada 2030.

Sebuah penelitian baru-baru ini oleh Dr James Rising dari Universitas Delaware menemukan bahwa kerusakan dan kehilangan yang disebabkan oleh perubahan iklim mencapai sekitar US$1,5 triliun pada 2022. Akibat perubahan iklim, negara-negara kawasan selatan telah kehilangan 8,3% PDB mereka.

Jika berhasil dilaksanakan, global stock take akan menjadi gerakan yang sangat baik untuk memulai aksi pendanaan kerugian dan kerusakan, yang diluncurkan pada hari pertama COP-28.

 

Akar rumput

Menurut saya, segala teori dan pembahasan di setiap COP hingga hari ini COP-28 yang sifatnya ‘global’ dan ‘internasional’ harus bisa mengajak grassroots, yaitu masyarakat lokal, para pemuda, hingga masyarakat adat. Tentu saja regulasi dari pemerintah agar negara bisa mengatur industri itu penting dan efektif, tetapi jangan sampai urusan dengan grassroots dipisahkan. Misalnya ketika bicara hutan, masyarakat adatlah yang secara nyata menjaga kelestarian hutan tersebut. Saya percaya bahwa tindakan di grassroots dapat memberikan inspirasi bagi pemimpin di bidang lingkungan dan kehutanan agar kita semua dapat bergotong royong melakukan aksi nyata.

Di Indonesia, sudah ada beberapa inisiasi, salah satunya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Lingkungan, yang dilakukan baik di tingkat grassroots maupun anak muda dalam melakukan pemulihan dan pemeliharaan lingkungan serta hutan. Beberapa contoh dari kegiatan di antaranya penanaman pohon hingga restorasi mangrove. Seperti yang kita pahami, manfaat mangrove sangatlah besar yakni bisa menyerap empat kali lipat dari tanah daratan. Selain itu, hasil olahan dari mangrove seperti udang dan ikan itu bisa dijual dan diekspor.

 

Pemuda

Generasi muda sangat penting untuk mempelajari berbagai isu tentang perubahan iklim karena mereka salah satu kelompok yang paling merasakan dampak. Oleh karena itu, generasi muda wajib membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan tentang krisis iklim. Dengan membekali diri terkait pengetahuan ini, generasi muda sebagai pemimpin masa depan dapat mengetahui penyebab, solusi, hingga cara mencegah terjadinya krisis iklim.

Pemuda dan anak-anak mempunyai risiko yang sangat besar terhadap dampak buruk perubahan iklim. Namun, mereka secara sistematis sering kali tidak diikutsertakan dalam pembuatan kebijakan iklim yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka. Hal yang menarik dari COP-28 ini ialah ada pembahasan khusus yang diangkat di forum utama terkait pemuda, pendidikan, dan skill. Tujuannya agar anak muda bisa memanfaatkan kekuatan dan inspirasi mereka untuk mempercepat aksi iklim.

Forum tersebut memperkuat dan menunjukkan pentingnya pelibatan peran pemuda dalam negosiasi kebijakan iklim internasional, serta dorongan agar dikembangkan platform bagi inisiatif dan solusi iklim yang dipimpin oleh pemuda. Forum itu juga membahas tentang penghijauan sekolah dan kurikulum, memberikan penguatan keterampilan bagi generasi muda, guru, dan pemimpin pendidikan, serta berupaya memastikan bahwa sekolah dan universitas beroperasi secara berkelanjutan. Konsorsium mitra multi-pemangku kepentingan juga dibentuk untuk memperkuat kolaborasi universitas dan pusat penelitian guna memajukan agenda aksi iklim.

Ada beberapa poin penting yang dihasilkan dari sesi diskusi terkait youth, children, educationand skills. Pertama, 38 negara menandatangani Kemitraan Pendidikan Hijau UNESCO (UNESCO Greening Education Partnership), deklarasi agenda bersama untuk pendidikan dan perubahan iklim di COP-28, berkomitmen untuk memasukkan pendidikan iklim ke dalam kontribusi yang ditentukan secara nasional dan rencana adaptasi nasional. Penandatanganan ini mewakili 20% dari total jumlah negara di UNFCCC.

Kedua, KTT RewirEd (A Global Summit on Education) mempertemukan lebih dari 1.000 peserta, termasuk dua kepala negara, 22 menteri, dan 28 CEO yang memimpin diskusi tentang pendidikan iklim dan memamerkan solusi kuat yang ada di persimpangan iklim dan pendidikan. Mereka juga berkomitmen untuk mengubah lanskap pendidikan dalam menanggapi kebutuhan ekonomi hijau saat ini dan masa depan.

Ketiga, kelompok pertama dari 100 delegasi iklim pemuda internasional telah lulus dari program ini, menandai selesainya kurikulum pengembangan kapasitas yang mapan bekerja sama dengan YOUNGO, Harvard, dan UNFCCC.

Keempat, kelompok pertama delegasi iklim pemuda UEA telah lulus, dan program kedua diumumkan oleh Otoritas Pemuda Federal UEA untuk tahun 2024.

Kelima, laporan inventarisasi pemuda secara resmi diluncurkan oleh YOUNGO dengan dukungan dari Youth Climate Champion (Pemuda Pemenang Iklim). Laporan ini mewakili analisis komprehensif pertama mengenai keterlibatan pemuda dalam proses UNFCCC dan memberikan peta jalan untuk meningkatkan inklusi pemuda di masa depan.

Adapun yang terakhir, pembentukan Youth Hub khusus pertama di Zona Hijau memfasilitasi interaksi di antara para pemimpin iklim global, anak-anak, dan pemuda, yang mendorong ruang untuk dialog dan kolaborasi antargenerasi.

 

Pendidikan dan gerakan

Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi hingga 2045 dengan total populasi didominasi oleh anak muda, yakni 60% (generasi milenial, Z dan post– Z) dan pada 2030 meningkat menjadi 70%.

Untuk mendukung komunitas pemuda, kami membuat organisasi kepemudaan dengan nama Indonesian Council of Youth Development (ICYD). Anggota dari komunitas ini datang dari berbagai latar belakang. Ada peneliti, aktivis, pemilik startup pendidikan, startup sosial, pekerja profesional, pakar, hingga dosen. Di sini kami memiliki visi-misi yang sama dalam melakukan aktivitas yang berdampak, termasuk dalam hal lingkungan hidup. Harapannya ke depan, semakin banyak gerakan atau komunitas dari pemuda sehingga menjadi trigger dalam menjaga planet sehingga planet kita menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Generasi muda dapat mulai memahami berbagai informasi tentang krisis iklim dan dampaknya melalui platform media sosial. Namun, untuk mendalami masalah ini, generasi muda terlebih dahulu harus memiliki rasa memiliki, ingin tahu, dan kritis terhadap dampak perubahan iklim, termasuk peningkatan bencana.

Setelah memahami dan menguasai isu krisis iklim, harapannya generasi muda dapat melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan Bumi, sekaligus kampanye mengajak masyarakat lain melalui media sosial seperti Instagram dan Tiktok sesuai zamannya. Juga bersama komunitas melakukan gerakan aksi seperti pembersihan sungai, menanam pohon dengan program ‘1 orang 1 pohon’, hingga membuat startup untuk mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa digunakan seperti sepatu, tas, dan aksesori.

Di Indonesia ada startup yang sudah melakukan itu, di antaranya Mall Sampah, Inocycle Technology, dan Pijak Bumi. Aksi tersebut akan lebih besar dampaknya apabila bisa dilakukan secara masif bersama-sama.

Selain itu, kurikulum pendidikan sekolah mulai dari level SD hingga SMA perlu ditekankan pada pengetahuan dan praktik terkait perubahan iklim sehingga muncul awareness dan kualitas manusia yang peduli dengan lingkungan di bumi ini. Sekolah perlu mendorong agar siswanya bersahabat dengan alam.

Hingga saat ini, terlihat masih banyak sekolah yang memagari siswa belajar hanya di kelas sehingga pengetahuannya pun terkungkung. Siswa perlu diajak mengeksplorasi lebih jauh, melihat langsung permasalahan sampah, pencemaran air, hingga pemanasan global.

Teknologi digital juga harus digunakan dengan baik. Saat ini kita memasuki era yang dekat dengan artificial intelligence, internet of think (IoT), hingga metaverse. Teknologi digital tersebut harus digunakan agar pendidikan lebih efisien dan optimal.

Akhirnya, semoga hasil dari COP-28 bisa mendorong negara-negara untuk melakukan aksi nyata sehingga COP bukan saja menjadi ajang pertemuan, diskusi, dan negosiasi, tapi juga benar-benar membuat planet yang kita huni saat ini aman dan nyaman dihuni, seperti yang disampaikan Bill Gates dalam pidatonya di sesi awal pada 1 Desember 2023, “We don’t want to just make the planet liveable, but we want to make it a better place to live.”

Sumber: mediaindonesia.com