MICE  

Cianjur Bertekad Dongkrak Indeks Pembangunan Manusia

Cianjur Bertekad Dongkrak Indeks Pembangunan Manusia

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sedang fokus menggenjot indeks pendidikan sebagai akselerasi peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Ada dua instrumen yang menjadi indikator masih rendahnya indeks pendidikan di wilayah itu yakni rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS).

Bupati Cianjur Herman Suherman menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), RLS masyarakat di Kabupaten Cianjur berada ada level 7,2 pada 2022. Artinya, masyarakat berusia 25 tahun ke atas tingkat pendidikannya hanya sampai kelas 2 sekolah menengah pertama.

“Jadi, mereka yang berusia 25 tahun ke atas itu baru mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP kemudian berhenti sekolah,” katanya seusai apel dan sapa guru serta peresmian selesainya pembangunan gedung SMPN 1 Cugenang di Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Jumat (8/12).

Instrumen lain yang jadi atensi pada upaya menggenjot indeks pendidikan
yakni HLS. Berdasarkan data, kata Herman, HLS baru sampai tingkat sekolah menengah atas.

“Dari kedua hal tersebut tentunya harus ada solusi untuk mempercepat indeks pendidikan sebagai upaya meningkatkan IPM,” ujarnya.

Menurut Herman, salah satu solusi peningkatan RLS yaitu memaksimalkan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Saat dilantik menjadi pelaksana tugas (Plt) bupati, ia mendapati di Kabupaten Cianjur baru terdapat 9 PKBM yang terakreditasi. Kini, dari sebanyak 235 PKBM, hampir 70% sudah terakreditasi.

“Kalau kita ingin IPM meningkat, berarti masyarakat yang berusia 25 tahun ke atas yang pendidikannya hanya sampai kelas 2 SMP, itu harus
disekolahkan di PKBM,” tuturnya.

Karena itu, data jumlah masyarakat berusia 25 tahun ke atas yang putus
sekolah harus berbasis desa. Artinya, mereka yang putus sekolah berusia 25 tahun ke atas harus disasar.

Sementara berkaitan dengan HLS, hingga saat ini angkanya berada di kisaran 19 tahun. Artinya, HLS masyarakat Kabupaten Cianjur rata-rata hingga lulusan SMA.

“Beberapa waktu lalu kami dengan Universitas Suryakencana sudah
mencanangkan pengimplementasian agar menjadi perguruan tinggi
negeri,” kata Herman.

Digaungkannya Universitas Suryakencana menjadi perguruan tinggi
negeri dampaknya cukup luar biasa. Hasil survei, masyarakat sangat antusias karena nanti biayanya lebih murah dan tentu saja tempatnya dekat.

“Dengan adanya perguruan tinggi negeri, kami harapkan HLS bisa naik dari 19 tahun menjadi usia kuliah S1 atau S2,” pungkasnya. (SG)

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sedang fokus menggenjot indeks pendidikan sebagai akselerasi peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Ada dua instrumen yang menjadi indikator masih rendahnya indeks pendidikan di wilayah itu yakni rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS).

Bupati Cianjur Herman Suherman menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), RLS masyarakat di Kabupaten Cianjur berada ada level 7,2 pada 2022. Artinya, masyarakat berusia 25 tahun ke atas tingkat pendidikannya hanya sampai kelas 2 sekolah menengah pertama.

“Jadi, mereka yang berusia 25 tahun ke atas itu baru mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP kemudian berhenti sekolah,” katanya seusai apel dan sapa guru serta peresmian selesainya pembangunan gedung SMPN 1 Cugenang di Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Jumat (8/12).

Instrumen lain yang jadi atensi pada upaya menggenjot indeks pendidikan

yakni HLS. Berdasarkan data, kata Herman, HLS baru sampai tingkat sekolah menengah atas.

“Dari kedua hal tersebut tentunya harus ada solusi untuk mempercepat indeks pendidikan sebagai upaya meningkatkan IPM,” ujarnya.

Menurut Herman, salah satu solusi peningkatan RLS yaitu memaksimalkan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Saat dilantik menjadi pelaksana tugas (Plt) bupati, ia mendapati di Kabupaten Cianjur baru terdapat 9 PKBM yang terakreditasi. Kini, dari sebanyak 235 PKBM, hampir 70% sudah terakreditasi.

“Kalau kita ingin IPM meningkat, berarti masyarakat yang berusia 25 tahun ke atas yang pendidikannya hanya sampai kelas 2 SMP, itu harus

disekolahkan di PKBM,” tuturnya.

Karena itu, data jumlah masyarakat berusia 25 tahun ke atas yang putus

sekolah harus berbasis desa. Artinya, mereka yang putus sekolah berusia 25 tahun ke atas harus disasar.

Sementara berkaitan dengan HLS, hingga saat ini angkanya berada di kisaran 19 tahun. Artinya, HLS masyarakat Kabupaten Cianjur rata-rata hingga lulusan SMA.

“Beberapa waktu lalu kami dengan Universitas Suryakencana sudah

mencanangkan pengimplementasian agar menjadi perguruan tinggi

negeri,” kata Herman.

Digaungkannya Universitas Suryakencana menjadi perguruan tinggi

negeri dampaknya cukup luar biasa. Hasil survei, masyarakat sangat antusias karena nanti biayanya lebih murah dan tentu saja tempatnya dekat.

“Dengan adanya perguruan tinggi negeri, kami harapkan HLS bisa naik dari 19 tahun menjadi usia kuliah S1 atau S2,” pungkasnya. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com