MICE  

Banyak Bangunan Sekolah di Cianjur Selatan Butuh Perbaikan

Banyak Bangunan Sekolah di Cianjur Selatan Butuh Perbaikan

BANGUNAN sekolah di wilayah selatan Kabupaten Cianjur masih
cukup banyak yang mesti diperbaiki. Tahun ini pemerintah daerah setempat secara bertahap merencanakan rehabilitasinya.

Bupati Cianjur Herman Suherman tak memungkiri dengan infrastruktur
sejumlah bangunan sekolah di wilayah selatan yang kondisinya rusak. Namun upaya perbaikan tetap mengutamakan skala prioritas.

“Kita lihat yang kondisinya paling berat dulu. Sisanya tahun berikutnya
diperbaiki lagi,” katanya, Selasa (2/1).

Menurut dia banyaknya bangunan sekolah yang kondisinya rusak tak
terlepas dampak pandemi covid-19. Hampir dua tahun proses pembelajaran
dilakukan secara daring.

“Hampir dua tahun bangunan sekolah tidak digunakan karena covid-19.
Betul, banyak sekolah yang rusak. Insya Allah kita akan prioritaskan pada 2024. Nanti kita survei, mana yang paling butuh segera diperbaki,” ujarnya.

Kondisinya berbeda dengan di wilayah utara. Menurut Herman, pascagempa 5,6 setahun lalu, mayoritas bangunan sekolah yang rusak akibat terdampak gempa sudah selesai diperbaiki.

“Di wilayah utara, alhamdulillah di 14 kecamatan bisa terselamatkan.
Mungkin ini hikmah di balik bencana alam,” tutur Herman.

Bagi dia, selesainya pembangunan gedung sekolah yang rusak akibat gempa
harus linear dengan semangat kebangkitan dunia pendidikan. Pasalnya, kurun tiga tahun terakhir, proses pendidikan di Kabupaten Cianjur butuh
peningkatan.

“Kemarin pandemi covid-19 berlangsung hampir dua tahun. Kemudian berlanjut pemulihan pascabencana gempa hampir satu tahun. Selama covid-19 sama sekali tidak bisa belajar. Siswa belajar di rumah. Selama bencana alam harus belajar di tenda. Ini kan tidak optimal, sehingga sekarang saatnya harus bangkit. Para guru harus kerja ekstra karena siswa tertinggal pendidikannya,” bebernya.

Untuk menggenjot ketertinggalan materi pendidikan sudah disepakati dengan Dewan Pendidikan akan dilaksanakan penambahan jam belajar. Sesuai kesepakatan, penambahannya selama dua jam.

“Ada permintaan dari orangtua ingin empat jam. Tapi kami sepakati
penambahan dua jam dulu. Pada penambahan jam belajar ini saya ingin akhlak dan budi pekerti lebih dipertajam. Ini untuk mencegah fenomena sosial seperti aksi tawuran pelajar, geng motor, dan sebagainya. Mudah-mudahan dengan penambahan jam belajar bisa mengejar indeks pendidikan juga meningkatkan akhlak,” pungkas Herman. (SG)

BANGUNAN sekolah di wilayah selatan Kabupaten Cianjur masih

cukup banyak yang mesti diperbaiki. Tahun ini pemerintah daerah setempat secara bertahap merencanakan rehabilitasinya.

Bupati Cianjur Herman Suherman tak memungkiri dengan infrastruktur

sejumlah bangunan sekolah di wilayah selatan yang kondisinya rusak. Namun upaya perbaikan tetap mengutamakan skala prioritas.

“Kita lihat yang kondisinya paling berat dulu. Sisanya tahun berikutnya

diperbaiki lagi,” katanya, Selasa (2/1).

Menurut dia banyaknya bangunan sekolah yang kondisinya rusak tak

terlepas dampak pandemi covid-19. Hampir dua tahun proses pembelajaran

dilakukan secara daring.

“Hampir dua tahun bangunan sekolah tidak digunakan karena covid-19.

Betul, banyak sekolah yang rusak. Insya Allah kita akan prioritaskan pada 2024. Nanti kita survei, mana yang paling butuh segera diperbaki,” ujarnya.

Kondisinya berbeda dengan di wilayah utara. Menurut Herman, pascagempa 5,6 setahun lalu, mayoritas bangunan sekolah yang rusak akibat terdampak gempa sudah selesai diperbaiki.

“Di wilayah utara, alhamdulillah di 14 kecamatan bisa terselamatkan.

Mungkin ini hikmah di balik bencana alam,” tutur Herman.

Bagi dia, selesainya pembangunan gedung sekolah yang rusak akibat gempa

harus linear dengan semangat kebangkitan dunia pendidikan. Pasalnya, kurun tiga tahun terakhir, proses pendidikan di Kabupaten Cianjur butuh

peningkatan.

“Kemarin pandemi covid-19 berlangsung hampir dua tahun. Kemudian berlanjut pemulihan pascabencana gempa hampir satu tahun. Selama covid-19 sama sekali tidak bisa belajar. Siswa belajar di rumah. Selama bencana alam harus belajar di tenda. Ini kan tidak optimal, sehingga sekarang saatnya harus bangkit. Para guru harus kerja ekstra karena siswa tertinggal pendidikannya,” bebernya.

Untuk menggenjot ketertinggalan materi pendidikan sudah disepakati dengan Dewan Pendidikan akan dilaksanakan penambahan jam belajar. Sesuai kesepakatan, penambahannya selama dua jam.

“Ada permintaan dari orangtua ingin empat jam. Tapi kami sepakati

penambahan dua jam dulu. Pada penambahan jam belajar ini saya ingin akhlak dan budi pekerti lebih dipertajam. Ini untuk mencegah fenomena sosial seperti aksi tawuran pelajar, geng motor, dan sebagainya. Mudah-mudahan dengan penambahan jam belajar bisa mengejar indeks pendidikan juga meningkatkan akhlak,” pungkas Herman. (SG)

Sumber: mediaindonesia.com