MICE  

Atasi Obesitas Dengan Bedah Bariatrik

Atasi Obesitas Dengan Bedah Bariatrik

OBESITAS merupakan kondisi terjadinya penumpukan atau kelebihan lemak yang dapat mengganggu kesehatan. Seseorang yang mengalami obesitas memiliki resiko dua kali lebih besar mengalami serangan jantung koroner, terkena stroke, mengidap diabetes melitus (kencing manis), serta hipertensi.

Untuk mengatasi masalah obesitas, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan bedah bariatrik (Bariatic Surgery). Menurut dr. Jeffrey, Sp.BD-KBD, dokter spesialis bedah digestif RS Grha Kedoya, Jakarta, bedah bariatrik merupakan operasi yang dilakukan untuk menghindari komplikasi dari masalah obesitas seperti sakit jantung, kolesterol dan hipertensi.

Menurutnya, bedah bariatrik memberikan beberapa manfaat seperti menghasilkan penurunan berat badan yang bertahan dalam jangka waktu lama serta menurunkan Faktor resiko penyakit diabetes, penyakit stroke, penyakit jantung dan hipertensi. “Selain itu bedah bariatrik juga meningkatkan angka harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” ungkapnya.

Lebih jauh, Jeffrey mengatakan ada beberapa jenis bedah bariatrik yang bisa dijalani pengidap obesitas. Pertama sleeve gastrectomy yaitu bedah untuk ‘melangsingkan’ lambung menjadi seperti lengan panjang baju. Dengan cara ini, terjadi pembatasan jumlah makanan yang dapat dikonsumsi.

“Seiring dengan hal itu, jumlah hormon lapar/nafsu makan (hormon Ghrelin) pun menurun. Hormon ini banyak diproduksi di bagian lambung yang dipotong dan tidak digunakan lagi,” jelasnya.

Kedua adalah Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), salah satu teknik pembedahan bariatrik yang paling banyak digunakan untuk menurunkan berat badan pada pasien obesitas morbid. Dikatakan, mekanisme penurunan berat badan pada RYGB ada dua yaitu restriksi gaster dan malabsorbsi ringan.

Pada metode ini, operasi dilakukan dengan memisahkan sedikit bagian gaster, lalu membuat kantong kecil (pouch) berukuran sekitar 10–20 ml dari bagian gaster yang telah dipisahkan. Kantong kecil inilah yang akan menjadi lambung untuk menampung makanan dalam volume kecil sehingga menyebabkan restriksi. Dengan ukuran lambung yang kecil, diharapkan pasien menjadi lebih cepat kenyang.

“Pouch kemudian disambungkan dengan usus halus yaitu jejunum bagian proksimal dengan melewati (bypass) duodenum, sehingga tidak terjadi proses penyerapan kalori di duodenum, metode ini disebut malabsorbsi,” jelas Jeffrey.

Jenis bedah bariatrik lainnya adalah Single Anastomosis Duodenal-lleal Bypass (SADI-S) yang merupakan varian terbaru dari operasi penggantian duodenum, yang selama tiga dekade telah membantu pasien obesitas mengendalikan berat badannya. Manfaat utama SADI-S adalah dibuat satu bypass usus, bukan dua kali, sehingga waktu operasi lebih singkat dan risiko kebocoran usus berkurang.

“Metode operasi ini sebenarnya menghilangkan lebih sedikit bagian usus dibandingkan jenis operasi bariatrik lainnya, sehingga meningkatkan jumlah nutrisi yang dapat diserap tubuh. Namun, pasien perlu mengonsumsi vitamin seumur hidup. Kelebihan metode ini karena hanya satu sambungan usus baru yang dibuat, risiko bocornya isi usus ke dalam rongga tubuh lebih kecil. Sambungan tunggal ini juga memiliki keuntungan dalam mencegah kemungkinan terjadinya penyumbatan usus di kemudian hari, yang disebut juga dengan hernia internal,” pungkas Jeffry. (RO/R-2)

OBESITAS merupakan kondisi terjadinya penumpukan atau kelebihan lemak yang dapat mengganggu kesehatan. Seseorang yang mengalami obesitas memiliki resiko dua kali lebih besar mengalami serangan jantung koroner, terkena stroke, mengidap diabetes melitus (kencing manis), serta hipertensi.

Untuk mengatasi masalah obesitas, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan bedah bariatrik (Bariatic Surgery). Menurut dr. Jeffrey, Sp.BD-KBD, dokter spesialis bedah digestif RS Grha Kedoya, Jakarta, bedah bariatrik merupakan operasi yang dilakukan untuk menghindari komplikasi dari masalah obesitas seperti sakit jantung, kolesterol dan hipertensi.

Menurutnya, bedah bariatrik memberikan beberapa manfaat seperti menghasilkan penurunan berat badan yang bertahan dalam jangka waktu lama serta menurunkan Faktor resiko penyakit diabetes, penyakit stroke, penyakit jantung dan hipertensi. “Selain itu bedah bariatrik juga meningkatkan angka harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” ungkapnya.

Lebih jauh, Jeffrey mengatakan ada beberapa jenis bedah bariatrik yang bisa dijalani pengidap obesitas. Pertama sleeve gastrectomy yaitu bedah untuk ‘melangsingkan’ lambung menjadi seperti lengan panjang baju. Dengan cara ini, terjadi pembatasan jumlah makanan yang dapat dikonsumsi.

“Seiring dengan hal itu, jumlah hormon lapar/nafsu makan (hormon Ghrelin) pun menurun. Hormon ini banyak diproduksi di bagian lambung yang dipotong dan tidak digunakan lagi,” jelasnya.

Kedua adalah Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), salah satu teknik pembedahan bariatrik yang paling banyak digunakan untuk menurunkan berat badan pada pasien obesitas morbid. Dikatakan, mekanisme penurunan berat badan pada RYGB ada dua yaitu restriksi gaster dan malabsorbsi ringan.

Pada metode ini, operasi dilakukan dengan memisahkan sedikit bagian gaster, lalu membuat kantong kecil (pouch) berukuran sekitar 10–20 ml dari bagian gaster yang telah dipisahkan. Kantong kecil inilah yang akan menjadi lambung untuk menampung makanan dalam volume kecil sehingga menyebabkan restriksi. Dengan ukuran lambung yang kecil, diharapkan pasien menjadi lebih cepat kenyang.

“Pouch kemudian disambungkan dengan usus halus yaitu jejunum bagian proksimal dengan melewati (bypass) duodenum, sehingga tidak terjadi proses penyerapan kalori di duodenum, metode ini disebut malabsorbsi,” jelas Jeffrey.

Jenis bedah bariatrik lainnya adalah Single Anastomosis Duodenal-lleal Bypass (SADI-S) yang merupakan varian terbaru dari operasi penggantian duodenum, yang selama tiga dekade telah membantu pasien obesitas mengendalikan berat badannya. Manfaat utama SADI-S adalah dibuat satu bypass usus, bukan dua kali, sehingga waktu operasi lebih singkat dan risiko kebocoran usus berkurang.

“Metode operasi ini sebenarnya menghilangkan lebih sedikit bagian usus dibandingkan jenis operasi bariatrik lainnya, sehingga meningkatkan jumlah nutrisi yang dapat diserap tubuh. Namun, pasien perlu mengonsumsi vitamin seumur hidup. Kelebihan metode ini karena hanya satu sambungan usus baru yang dibuat, risiko bocornya isi usus ke dalam rongga tubuh lebih kecil. Sambungan tunggal ini juga memiliki keuntungan dalam mencegah kemungkinan terjadinya penyumbatan usus di kemudian hari, yang disebut juga dengan hernia internal,” pungkas Jeffry. (RO/R-2)

Sumber: mediaindonesia.com