MICE  

Ada Potensi Ganggu Rantai Pasok, BI WaspadaiDampak Peningkatan Tensi Geopolitik

Ada Potensi Ganggu Rantai Pasok, BI WaspadaiDampak  Peningkatan Tensi Geopolitik

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan meningkatnya tensi geopolitik masuk di dalam pemantauan Bank Indonesia, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Laut Cina.

“Kami akan terus memantau dampaknya terhadap rantai pasok global/ global supply chain,” kata Perry pada Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2024, Rabu (17/1/2024).

Bank Indonesia melihat masih terlalu dini untuk menyampaikan dampaknya, sebab sejauh ini belum ada dampak dari supply chain. Namun Bank Indonesia akan terus mewaspadai.

“Dampak terhadap global supply chainnya belum terlihat. Tapi kami terus akan mewadahi eskalasinya seperti apa, dampak terhadap harga belum ada. Oleh karenanya dampak terhadap inflasinya kami belum melihat. Tapi kami tetap akan waspada,” kata Perry.

Indonesia sudah ada mekanisme, yaitu gerakan nasional pengendalian inflasi pangan pusat dan daerah, 46 kantor-kantor BI yang bekerja sama pemerintah pusat dan daerah, mengantisipasi dan memitigasi dampak-dampak itu terhadap harga pangan.

Dihubungi terpisah, ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan masih tegangnya situasi global berpotensi memicu kekhawatiran terkait tekanan inflasi di bulan-bulan mendatang.

“Memanasnya konflik di Laut Merah telah menyebabkan lonjakan biaya logistik bagi eksportir untuk distribusi barang, sementara importir tampaknya belum merasakan dampak signifikan dari situasi geopolitik di Timur Tengah,” kata Fithra Rabu (17/1).

Namun, melemahnya permintaan global berpotensi membantu menurunkan angka inflasi di kuartal I 2024. Selain dinamika global, Indonesia juga perlu menghadapi potensi ‘gorilla El Niño’ yang mungkin terjadi tahun ini.

Indonesia sejauh ini sudah mengalami dampak tekanan iklim, yang turut menekan produksi beras Indonesia pada tahun lalu (2023) dan menyebabkan lonjakan impor beras yang cukup drastis (3.06 juta ton, naik 613 persen dibanding 2022).

Untuk menghadapi ‘gorilla El Niño’ tersebut, diperlukan upaya countercyclical dari pemerintah yang mungkin akan mendongkrak belanja fiskal tahun ini. (E-1)

GUBERNUR  Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan meningkatnya tensi geopolitik masuk di dalam pemantauan Bank Indonesia, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Laut Cina.

“Kami akan terus memantau dampaknya terhadap rantai pasok global/ global supply chain,” kata Perry pada Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2024, Rabu (17/1/2024).

Bank Indonesia melihat masih terlalu dini untuk menyampaikan dampaknya, sebab sejauh ini belum ada dampak dari supply chain. Namun Bank Indonesia akan terus mewaspadai.

“Dampak terhadap global supply chainnya belum terlihat. Tapi kami terus akan mewadahi eskalasinya seperti apa, dampak terhadap harga belum ada. Oleh karenanya dampak terhadap inflasinya kami belum melihat. Tapi kami tetap akan waspada,” kata Perry.

Indonesia sudah ada mekanisme, yaitu gerakan nasional pengendalian inflasi pangan pusat dan daerah, 46 kantor-kantor BI yang bekerja sama pemerintah pusat dan daerah, mengantisipasi dan memitigasi dampak-dampak itu terhadap harga pangan.

Dihubungi terpisah, ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan masih tegangnya situasi global berpotensi memicu kekhawatiran terkait tekanan inflasi di bulan-bulan mendatang.

“Memanasnya konflik di Laut Merah telah menyebabkan lonjakan biaya logistik bagi eksportir untuk distribusi barang, sementara importir tampaknya belum merasakan dampak signifikan dari situasi geopolitik di Timur Tengah,” kata Fithra Rabu (17/1).

Namun, melemahnya permintaan global berpotensi membantu menurunkan angka inflasi di kuartal I 2024. Selain dinamika global, Indonesia juga perlu menghadapi potensi ‘gorilla El Niño’ yang mungkin terjadi tahun ini.

Indonesia sejauh ini sudah mengalami dampak tekanan iklim, yang turut menekan produksi beras Indonesia pada tahun lalu (2023) dan menyebabkan lonjakan impor beras yang cukup drastis (3.06 juta ton, naik 613 persen dibanding 2022).

Untuk menghadapi ‘gorilla El Niño’ tersebut, diperlukan upaya countercyclical dari pemerintah yang mungkin akan mendongkrak belanja fiskal tahun ini.  (E-1)

Sumber: mediaindonesia.com